Cahya Mata Sarawak (CMS) saat ini terjebak dalam perselisihan yang melibatkan dua putra dari pendiri perusahaan ini, mendiang mantan gubernur Sarawak, Taib Mahmud. Sementara Datuk Seri Mahmud Abu Bekir memiliki kursi di dewan perusahaan, dia tidak dapat memasuki ruangan untuk mengklaim haknya tersebut.
Perusahaan infrastruktur terkemuka di negara bagian terbesar Malaysia ini kini terlibat dalam perselisihan hukum dan sengketa di ruang rapat. Keributan ini muncul di tengah penurunan kinerja CMS dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak proyek gagal dan kerugian yang membebani keuntungannya.
Mahmud, putra sulung Taib dan mantan wakil ketua CMS, kini tersingkir dari rapat dewan setelah dia meminta laporan keuangan mendetail dari beberapa anak perusahaan CMS. Sejak Maret 2025, pertikaian hukum antara pihak-pihak di dalam perusahaan semakin meningkat.
Melihat kedekatan CMS dengan elit politik Sarawak, nasib perusahaan yang memiliki lebih dari 3.000 karyawan ini bisa jadi menjadi isu yang diangkat dalam pemilihan daerah yang dijadwalkan berlangsung pada April 2027.
Rapat umum tahunan (RAT) pada 25 Mei mendatang menjadi titik krusial, di mana empat anggota dewan, termasuk direktur utama Sulaiman Abdul Rahman, putra bungsu Taib, akan mencalonkan diri kembali.
Di tengah perselisihan ini, CMS juga menghadapi risiko besar dengan investasi RM1 miliar pada pabrik fosfat yang bisa mengancam keberlangsungan perusahaan. Untuk memberi gambaran, total kapitalisasi pasar CMS saat ini sekitar RM1,2 miliar, jadi ini adalah taruhan yang sangat besar.
Sebuah Dinasti Dalam Perang dengan Diri Sendiri
Keluarga Taib mengendalikan sekitar 24 persen saham CMS, turun dari lebih 60 persen pada tahun 1990-an. Meski pada 2020, investasi yang terkait dengan negara memiliki sepertiga saham perusahaan, sebagian besar telah dikurangi, termasuk saham dari Sarawak Economic Development Corporation yang kini di bawah 5 persen.
Setelah meninggalnya Taib pada tahun 2024, konflik antara anak-anaknya dan ibu tirinya, Raghad Kurdi Taib, semakin memanas. Banyak yang yakin bahwa mereka memperdebatkan warisan keluarga terkaya di Malaysia yang nilainya melebihi US$20 miliar, yang diperoleh dari bisnis penebangan, pertanian, dan konstruksi.
Keluarga Taib membantah semua tuduhan dan klaim wrongdoing tersebut. Meskipun tidak ada bukti kriminal yang terbukti melawan mereka, transaksi keuangan yang dilakukan oleh perusahaan yang dimiliki keluarga Taib sempat menarik perhatian karena dicurigai sebagai bagian dari transaksi yang mencurigakan.
Apabila pertikaian ini semakin meluas dan menjadi pertarungan terbuka antara saudara-mara Taib dengan Raghad, bisa jadi rincian baru yang merugikan akan muncul selama proses hukum.
Perebutan CMS ini juga membuka peluang bagi pengungkapan lebih lanjut, terutama jika anak-anak Taib membahas konflik mereka di luar perusahaan itu sendiri.
Perseteruan ini bukan hanya bertaruh pada warisan Taib, tetapi juga mengancam elit politik Sarawak. Partai Pesaka Bumiputera Bersatu yang dominan telah berkuasa selama beberapa dekade, sering kali terhindar dari tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.
Angka-angka di Balik Perselisihan
Saat Taib menjabat sebagai kepala daerah dari 1981 hingga 2014, CMS adalah satu-satunya penyedia semen dan infrastruktur telekomunikasi di Sarawak. Namun, keadaan kini berbeda, dengan kinerja perusahaan mulai goyang.
Proyek infrastruktur, dari pengembangan properti hingga pembangunan jalan, sangat bergantung pada pasokan semen dari CMS. Namun, pendapatan mereka mulai menurun sejak 2022, setelah penunjukan Sulaiman sebagai direktur utama. Dari keuntungan tertinggi sebesar RM290 juta, pada 2023 mereka hanya mencatat laba setelah pajak RM82 juta, dan kemudian turun drastis menjadi RM40 juta di tahun 2025.
Meski bisnis semen inti CMS tetap sehat, dengan laba pra-pajak mencapai RM161 juta di 2025, proyek baru justru menggerogoti performa keseluruhannya. Sebuah pabrik fosfat yang direncanakan mulai beroperasi sejak tahun 2019 tak kunjung terealisasi dan mengalami kerugian setengah miliar ringgit.
Perebutan Ruang Rapat
Dalam situasi kerugian yang terus memburuk, usaha Mahmud untuk menuntut akses ke catatan keuangan CMS semakin mendesak. Dia mengklaim bahwa CMS secara ilegal menyembunyikan dokumen keuangan darinya sebagai anggota dewan.
Pada 5 Maret 2025, Mahmud mengajukan gugatan untuk mendapatkan informasi tersebut. Namun, dua minggu kemudian, CMS juga menggugat Mahmud atas dugaan pelanggaran dan konspirasi merugikan perusahaan.
Meskipun perintah pengadilan untuk melarangnya hadir dalam rapat dewan dicabut, Mahmud masih terhalang untuk hadir karena dianggap ada “konflik kepentingan.” Dengan RAT Mei yang semakin dekat, semua mata kini tertuju pada peluang Mahmud untuk memengaruhi arahan CMS ke depannya.


