Filter Terahertz Tipis dari Lepto Guncang Teknologi Komunikasi Satelit
Bayangkan sebuah foil setipis satu mikrometer yang berkilau dalam warna emas, merah, dan hijau. Mungkin tidak terlihat mencolok, tetapi ini adalah terobosan yang siap bikin geger teknologi komunikasi satelit.
Produk dari Lepto GmbH, spin-off dari Empa, ini bisa jadi kunci untuk meningkatkan teknologi radiasi terahertz. Para pendiri perusahaan, Elena Mavrona dan Erwin Hack, menghabiskan enam tahun melakukan penelitian di laboratorium Transport at Nanoscale Interfaces milik Empa. Mereka menemukan potensi komersial dari inovasi mereka yang unik ini.
Dari Laboratorium ke Realitas Pasar
“Sejujurnya, kami tidak pernah merencanakan untuk memulai perusahaan,” kata Erwin Hack, CTO Lepto. “Tetapi banyak permintaan dari lembaga penelitian lain yang sangat puas dengan kinerja filter kami. Dari situ, kami sadar ada pasar yang menunggu.”
Pemanfaatan filter ini ternyata melampaui laboratorium akademis dan proyek-proyek ilmiah yang didanai pemerintah. Radiasi terahertz, yang berada di antara cahaya tampak dan gelombang radio konvensional, sangat jarang dimanfaatkan. Gelombang dengan panjang gelombang antara 0,03 hingga tiga milimeter ini sebelumnya sulit dijangkau, hingga Lepto menawarkan solusi tepat dengan filter setipis virus.
“Filter kami sangat tipis, dan kami memproduksi rangkanya sesuai pesanan menggunakan teknologi cetak 3D,” jelas CEO Elena Mavrona. Kombinasi antara ketipisan ekstrim dan fabrikasi custom ini memungkinkan Lepto membuat sistem filter kompleks yang ringan namun efektif.
Komunikasi Satelit yang Aman dan Transmisi Data Lebih Cepat
Teknologi luar angkasa adalah pasar yang sangat menjanjikan untuk inovasi ini, karena setiap gram yang diluncurkan ke orbit membawa biaya yang luar biasa. Gelombang terahertz menawarkan dua keuntungan penting bagi satelit: spektroskopi material yang unggul untuk astrofisika dan saluran komunikasi yang super aman.
Menurut Hack, frekuensi tinggi dari radiasi terahertz dibandingkan teknologi konvensional memungkinkan transmisi data yang lebih cepat, sementara jangkauannya yang pendek membuat penyadapan semakin sulit. “Di satu sisi, spektroskopi terahertz adalah metode hebat untuk menyelidiki banyak fenomena dalam astrofisika dan geofisika,” ujar Mavrona. “Di sisi lain, terahertz juga ideal untuk komunikasi antar satelit serta komunikasi dari satelit ke Bumi.”
Meskipun demikian, radiasi yang sama di Bumi masih menghadapi keterbatasan, terutama karena pemencaran atmosfer yang membatasi jangkauannya. Namun, para ahli industri memandang gelombang terahertz sebagai teknologi yang penting untuk standar 6G yang akan datang, yang menjanjikan kecepatan dan efisiensi energi lebih baik dibanding jaringan 5G saat ini.
Aplikasi medis juga sangat menarik, karena radiasi terahertz hanya menembus lapisan jaringan yang dangkal tanpa risiko ionisasi seperti sinar X. Para peneliti sedang menyelidiki penggunaan gelombang ini untuk diagnosis kanker kulit, pemeriksaan pembuluh darah superfisial, dan bahkan evaluasi luka. Pemindai tubuh di bandara menjadi salah satu aplikasi fokus keamanan yang sudah dalam pengembangan.
Saat ini, permintaan untuk filter dan polarisator terahertz Lepto hampir sepenuhnya berasal dari sektor penelitian, termasuk spektroskopi dan proyek komputasi kuantum eksperimental. Para pendiri menyadari bahwa transisi dari permintaan akademis ke pesanan komersial adalah tantangan besar. “Kami berharap produk kami bisa segera hadir di pasar,” ungkap mereka dengan optimis, meskipun saat ini perusahaan sedang mencari dana untuk tahap awal.
Apakah teknologi ini bisa berkembang di luar laboratorium-laboratorium khusus, akan menjadi menarik untuk dilihat ke depannya.




