Film Masters of the Universe yang dijadwalkan tayang pada tahun 2026 baru saja melewati ujian pertamanya, dan reaksi awal dari penonton bisa dibilang sangat positif!
Siapa sih yang nggak kenal dengan Prince Adam, atau lebih dikenal sebagai He-Man? Diluncurkan oleh Mattel pada tahun 1981, He-Man diceritakan sebagai pria terkuat di alam semesta yang melindungi planetnya, Eternia, dari Skeletor yang jahat. Kisah He-Man ini menjadi sangat terkenal berkat serial kartun yang booming di tahun 80-an, He-Man and the Masters of the Universe. Franchise ini pun merambah ke film live-action dengan adaptasi klasik yang dibintangi Dolph Lundgren pada tahun 1987.
Setelah beberapa kali diadaptasi, MGM Amazon Studios kini menghadirkan Masters of the Universe ke layar lebar dengan versi yang lebih modern. Disutradarai oleh Travis Knight, film tahun 2026 ini mengikuti perjalanan Prince Adam (Nicholas Galitzine) yang kembali ke Eternia setelah 15 tahun di Bumi, hanya untuk menemukan planetnya telah hancur di bawah kekuasaan kejam Skeletor (Jared Leto). Dalam perjuangannya, Adam bersatu dengan para sekutu dan menemukan kekuatan dalam dirinya untuk mengalahkan Skeletor dan menyelamatkan Eternia.
Film ini melakukan pemutaran perdana pada 18 Mei di TCL Chinese Theater di Los Angeles. Meskipun ulasan kritis masih dirahasiakan hingga awal Juni, menjelang perilisan film pada 5 Juni mendatang (melalui The Hollywood Reporter), para penonton di acara perdana mulai membagi kesan mereka di media sosial.
Kesan-kesan ini belum bisa dibilang ulasan, melainkan lebih seperti pandangan awal dari para penonton yang antusias. Namun, banyak yang sepakat bahwa reaksi pertama terhadap Masters of the Universe sangat positif, terutama menyangkut efek visualnya yang spektakuler, keahlian sutradara dalam menggarap tema He-Man, dan performa para aktornya.
Masters of The Universe: Kehangatan dan Nostalgia dari Para Pembuatnya
Sutradara Travis Knight mengungkapkan kecintaannya pada mainan dan kartun He-Man sejak kecil. Berdasarkan reaksi awal terhadap film ini, Knight berhasil menghadirkan franchise tersebut melalui pandangan seorang penggemar setia, seolah mengirimkan surat cinta kepada Masters of the Universe yang dipenuhi nostalgia serta banyak menyisipkan easter egg yang menghibur.
Referensi terhadap He-Man pun disisipkan secara cerdas di sepanjang narasi, menunjukkan pengetahuan mendalam sang sutradara tentang lore franchise tersebut. Ada berbagai referensi, mulai dari easter egg yang halus hingga penghormatan besar, salah satunya saat Dolph Lundgren—He-Man dari film live-action pertama—muncul memberikan nasihat kepada karakter yang diperankan Galitzine.
Di luar referensi langsung, para pembuat film jelas memahami brand He-Man dengan baik. Film tahun 2026 ini mampu menangkap energi Masters of the Universe dan merupakan perayaan bagi franchise ikonik ini.
Masters of The Universe: Seperti Kartun Hidup yang Menyenangkan
Penonton awal menyatakan bahwa Masters of the Universe terasa seperti kartun yang dihidupkan. Ini bukanlah kejutan, mengingat Knight tumbuh besar dengan menonton serial animasi tersebut dan memiliki latar belakang dalam pembuatan film animasi, seperti ParaNorman di tahun 2012 dan menyutradarai Kubo and the Two Strings di tahun 2016.
Knight berhasil membawa energi dari acara favorit masa kecilnya ke layar luas tanpa tanggung-tanggung. Efek khusus modern memungkinkan elemen fantastis dari film animasi bersinar dalam bentuk live-action. Penampilan para aktor pun mengingatkan kepada karakter kartun mereka, terutama Leto yang memerankan supervillain dengan gaya yang konyol, tetapi tetap memiliki kedalaman yang membawa keseimbangan pada kisah tersebut.
Masters of The Universe: Kisah Menyentuh tentang Penerimaan Diri
Banyak penonton sepakat bahwa Masters of the Universe adalah film yang full of action dan penuh sensasi. Namun, cerita di baliknya juga mengandung pesan mendalam tentang penerimaan diri serta evaluasi kritis terhadap maskulinitas, tanpa terkesan menggurui.
Kisah ini berfokus pada perjalanan Prince Adam yang terhubung dengan dirinya yang sebenarnya, terlepas dari ekspektasi atau persona yang dipaksakan. Selain itu, film ini mengeksplorasi ekspresi maskulinitas yang bebas dari machoisme dan toksisitas. Sebagian reaksi awal menunjukkan inilah kekuatan dari eksplorasi maskulinitas dan penerimaan diri yang dihadirkan film ini.
Berbicara dengan SlashFilm, sutradara Knight menjelaskan bahwa Eternia, menurut pandangannya, masih menganut definisi maskulinitas yang kuno. Prince Adam menggambarkan maskulinitas yang lebih maju, yang mengedepankan empati dan komunikasi. Galitzine berhasil memberi karakter He-Man-nya dengan nuansa lembut yang menambah bobot pada kekuatan hebatnya.
Nicholas Galitzine dan Jared Leto: Humor dan Kekuatan di Masters of The Universe
Sementara seluruh pemeran bersatu untuk menyukseskan film Masters of the Universe, karakter utama dan antagonis mereka mendapatkan pujian khusus dari penonton awal.
Galitzine memerankan Prince Adam dengan kelembutan yang membuat penonton terikat dan menyampaikan pesan film dengan baik. Selain itu, ia juga menambahkan elemen komedi yang tepat sasaran berkat pengalaman aktingnya sebelumnya.
Namun, meski Galitzine sangat menonjol, beberapa reaksi mengindikasikan bahwa tidak ada yang bisa menandingi penampilan Leto yang sempurna sebagai Skeletor. Menurut Deadline, Leto membawakan ide sendiri untuk karakter ini, dan sebagai penggemar Skeletor sejati, dia menampilkan performa yang fantastis dengan humor dan elemen horor yang menarik.
Masters of The Universe: Hiburan Tiada Henti
Beberapa reaksi awal menyebutkan “menyenangkan” sebagai kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan Masters of the Universe. Meski ada perbedaan pendapat tentang beberapa bagian cerita, penonton hampir sepakat soal nilai hiburan film ini.
Dengan komedi, aksi seru, dan grafik yang menakjubkan untuk memukau penonton, film ini bernuansa blockbuster ceria dengan energi film aksi tahun 80-an, lengkap dengan soundtrack yang bikin kepala bergoyang. Kritikus film, Scott Menzel, menyatakan bahwa film keluarga yang menyenangkan ini bisa jadi adalah “kejutan terbesar musim panas.”
Setelah perilisan pada 5 Juni, ulasan resmi mungkin akan memberikan penilaian lebih ketat terhadap kualitas film. Namun, kesan awal memberi harapan bahwa Masters of the Universe adalah pengalaman yang seru dan menghadirkan semua yang diharapkan oleh para penggemar franchise ini.


