[SINGAPURA] Pada hari Kamis (30 April), sebuah kerangka hukum yang mengikat dibentuk antara Singapura dan Filipina untuk mengatur penghasilan dan transfer kredit karbon dari proyek mitigasi karbon. Langkah ini bakal mengakselerasi tujuan iklim kedua negara dengan membiarkan pendanaan untuk membuka potensi mitigasi lebih besar di Filipina, kata Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI).
Perjanjian implementasi ditandatangani oleh Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu dan Sekretaris Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina, Juan Miguel T. Cuna, selama Asean Climate Week di Manila.
Kolaborasi kredit karbon ini berdasar pada Pasal 6 Perjanjian Paris. Para pengembang proyek dapat memanfaatkan kerangka ini untuk mengembangkan proyek-proyek kredit karbon berkualitas tinggi yang selaras dengan buku peraturan Pasal 6. Ini menjadi langkah penting untuk mengintegrasikan upaya mitigasi karbon ke dalam pasar yang lebih luas.
Melalui perjanjian ini, proyek mitigasi karbon yang telah disetujui akan mendukung pembangunan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas lokal. Hal-hal seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan keamanan energi, hingga pengurangan polusi lingkungan pun menjadi bagian dari manfaat yang bisa diraih.
MTI mencatat bahwa kolaborasi ini akan menggerakkan ambisi iklim kedua negara. Dengan membuka pendanaan lebih besar, potensi mitigasi di Filipina bisa lebih optimal.
Grace Fu menambahkan, “Perjanjian ini akan memperdalam kolaborasi antara kedua negara, menyalurkan keuangan iklim menuju proyek yang berdampak di Filipina, dan membuka peluang baru di pasar karbon untuk bisnis dan komunitas lokal.” Ini adalah langkah positif yang bisa jadi benar-benar mengubah permainan bagi lingkungan dan masyarakat.
MTI juga menjelaskan bahwa informasi terkait proses pengesahan proyek-proyek kredit karbon serta metodologi kredit karbon yang memenuhi syarat akan dipublikasikan di kemudian hari. Ini menunjukkan komitmen yang serius dari kedua negara dalam menghadapi tantangan iklim global.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, baik Singapura maupun Filipina menunjukkan bahwa mereka berkomitmen untuk aktif dalam menciptakan masa depan yang lebih ramah lingkungan. Kerja sama ini tidak hanya bermanfaat untuk memperkuat posisi mereka dalam agenda iklim global, tetapi juga dalam mendorong pendanaan dan inovasi di sektor energi dan lingkungan.
Di era di mana perubahan iklim menjadi tantangan besar, langkah konkret seperti ini sangat dibutuhkan. Itulah sebabnya, perhatian lebih terhadap pengembangan proyek-proyek yang memanfaatkan kredit karbon jadi langkah yang menunjukkan keseriusan kedua negara dalam menjalankan tanggung jawab terhadap planet ini.


