Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Asia diprediksi bakal menghadapi biaya tahunan sebesar US$336 miliar akibat risiko iklim fisik pada tahun 2030. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi US$477 miliar pada tahun 2050, menurut laporan yang dirilis pada Senin (18 Mei) oleh platform investasi berdampak, Centre for Impact Investing and Practices, yang berada di bawah Temasek Trust.
Menariknya, hanya 20% dari perusahaan-perusahaan tersebut yang telah memperkirakan dampak finansial dari risiko iklim fisik. Laporan ini dirilis dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Temasek Trust, sayap filantropi dari perusahaan investasi Singapura, Temasek.
Laporan ini menyoroti pentingnya adaptasi dan ketahanan iklim di Asia, dan menyatakan bahwa kawasan ini diperkirakan bakal menyumbang 75% dari kekurangan pendanaan global untuk adaptasi iklim pada tahun 2030.
Diperkirakan, dana tahunan yang diperlukan untuk adaptasi iklim sekitar US$205 miliar hingga tahun 2030. Namun, dana yang mengalir saat ini baru mencapai sekitar US$19 miliar.
Kebanyakan pendanaan untuk adaptasi iklim berasal dari pemerintah, tetapi sekitar 15 sampai 20 persen dari kebutuhan pendanaan ini bisa dipenuhi oleh sektor swasta. Laporan tersebut menekankan bahwa kebutuhan besar ini mengharuskan pemprioritasan solusi yang tidak hanya menangani risiko iklim yang paling signifikan dan berulang di Asia, tetapi juga yang layak untuk diinvestasikan.
Laporan tersebut mengidentifikasi sekitar 250 solusi prioritas di sembilan sektor, termasuk infrastruktur, energi, pertanian, air, dan kesehatan. Di sisi lain, McKinsey juga merilis laporan serupa pada hari Selasa yang membahas adaptasi iklim di Asia Tenggara.
Laporan tersebut mencatat bahwa kawasan ini mengalami kekurangan dana sebesar US$25 miliar yang diperlukan untuk langkah-langkah adaptasi iklim agar mencapai standar pasar yang lebih maju.
Diperkirakan, Asia Tenggara menghabiskan sekitar US$12 miliar setiap tahun untuk 20 langkah adaptasi yang dinilai dalam studi ini. Langkah-langkah tersebut mencakup mangrove, pendingin udara, perlindungan terhadap banjir, irigasi, dan sistem peringatan dini.
Dari jumlah itu, sekitar US$8,6 miliar diarahkan untuk perlindungan terhadap suhu panas, sedangkan US$2,2 miliar untuk perlindungan terhadap banjir.
Namun, untuk bisa beradaptasi dengan standar yang biasanya ditetapkan di ekonomi yang lebih maju yang terpapar pada kejadian cuaca ekstrem saat ini, kawasan ini memerlukan total pengeluaran tahunan sekitar US$37 miliar.
Dengan asumsi pemanasan global naik 2 derajat Celsius pada tahun 2050, investasi yang dibutuhkan bisa meningkat menjadi US$84 miliar per tahun karena dampak bahaya iklim yang bakal lebih luas.
Dalam skenario seperti itu, mempertahankan tingkat perlindungan saat ini memerlukan pengeluaran tahunan sebesar US$28 miliar, naik dari US$12 miliar saat ini.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan ini dapat meningkatkan kapasitas untuk beradaptasi, sebab lebih banyak orang akan mampu membeli pendingin udara dan kota-kota yang lebih kaya akan membangun perlindungan terhadap banjir yang lebih kokoh.
Namun, laporan ini menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi saja mungkin tidak cukup, karena hanya sekitar 46% dari kebutuhan investasi di masa depan hingga tahun 2050 yang akan tercukupi. Ini bahkan jika pengeluaran untuk adaptasi tumbuh sejalan dengan produk domestik bruto.
“Pengembangan ekonomi dapat mendukung adaptasi melalui peningkatan kemampuan untuk membiayai ketahanan. Memasukkan pertimbangan ketahanan dalam tindakan pembangunan bisa memastikan bahwa infrastruktur, perumahan, dan aset fisik lainnya tetap berfungsi secara efektif dalam iklim masa depan,” tambah laporan tersebut.
“Tetapi jika gagal beradaptasi, ini bisa membatasi pertumbuhan, dengan tidak melindungi produktivitas serta tidak melindungi komunitas yang rentan dan aset industri yang semakin terpapar pada bahaya iklim,” pungkasnya.


