[KUALA LUMPUR] Dana pemerintah Malaysia kini siap mendukung perusahaan-perusahaan yang fokus pada tata kelola yang baik dan penciptaan nilai melalui inisiatif MY Value Up. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi dalam peluncuran panduan program MY Value Up pada Invest Malaysia 2026 yang berlangsung pada hari Selasa (9 Juni).
Menurutnya, langkah ini bertujuan meningkatkan standar korporasi dan kualitas pasar modal di negara ini. Perusahaan-perusahaan yang terlibat adalah Permodalan Nasional, perusahaan manajemen investasi yang dimiliki negara, serta dana pensiun yang didukung pemerintah, yaitu Kumpulan Wang Simpanan Pekerja (KWSP) dan Kumpulan Wang Persaraan (KWAP).
Program MY Value Up, yang diluncurkan pada bulan Maret, bertujuan untuk memperkuat narasi penciptaan nilai dari 88 perusahaan teratas yang terdaftar, yang secara kolektif menyumbang sekitar 80 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Malaysia.
Sebagai bagian dari Rencana Induk Pasar Modal 2026 hingga 2030, program ini bertujuan untuk mendorong perusahaan publik untuk mengekspresikan dan merealisasikan agenda penciptaan nilai mereka dalam jangka menengah hingga panjang, guna menarik investor domestik dan asing.
“Dengan inisiatif ini, perusahaan yang mengadopsi tata kelola yang lebih kuat, alokasi modal yang lebih baik, dan standar transparansi yang tinggi akan mendapatkan pengakuan bukan hanya dari pasar, tetapi juga dari investor institusi terbesar di negara ini,” jelas Zahid.
Namun, target alokasi spesifik dan mekanisme yang akan digunakan masih belum diungkapkan. Rincian lebih lanjut akan disampaikan oleh masing-masing institusi terkait.
Meningkatkan Pasar Modal Malaysia
Ia menyebut langkah ini sebagai sinyal penting bahwa Malaysia menginginkan pasar modal yang “tidak hanya lebih besar, tetapi juga lebih baik,” yang memberikan penghargaan bagi disiplin, akuntabilitas, dan penciptaan nilai yang berkelanjutan.
Pernyataan ini muncul di saat para pembuat kebijakan berusaha memperdalam peran pasar modal dalam mendukung fase pertumbuhan ekonomi selanjutnya di tengah perubahan lanskap investasi global yang cepat.
Meskipun aliran investasi tetap penting, Zahid menyatakan bahwa pertumbuhan di masa depan akan semakin bergantung pada seberapa efektif modal dikelola dan dialokasikan ke sektor-sektor produktif.
“Pasar modal kita bukan lagi sekadar platform pembiayaan. Ini adalah mesin pertumbuhan nasional,” tegasnya. Ia juga mencatat bahwa pasar modal Malaysia telah menjadi salah satu kekuatan ekonominya, mencapai ukuran RM4,3 triliun (S$1,4 triliun) pada tahun 2025. Jumlah dana yang terkumpul tahun lalu mencapai RM187,7 miliar, dan 60 perusahaan melakukan penawaran umum perdana.
Ketua Eksekutif Komisi Sekuritas Mohammad Faiz Azmi menyampaikan bahwa Malaysia tidak bisa dianggap sebagai pasar yang buruk. Ia menekankan bahwa hanya sekitar 200 dari 1.100 perusahaan yang terdaftar menghasilkan pengembalian ekuitas (ROE) di atas 8 persen.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, kapitalisasi pasar meningkat dari sekitar RM2 miliar menjadi RM4,3 triliun (pada 2025), sementara produk domestik bruto tumbuh jauh lebih signifikan. Ketika kami mempelajari isu ini, kami menemukan beberapa kesenjangan yang mengejutkan,” ujarnya dalam diskusi panel terpisah.
Ia menambahkan bahwa dari 88 perusahaan teratas yang ditinjau, enam di antaranya tidak memiliki fungsi hubungan investor, dan empat lainnya tidak memiliki analisis yang ditujukan untuk mereka.
“Itu menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya soal performa. Perusahaan juga perlu mengkomunikasikan proposisi nilai mereka dengan lebih baik,” imbuhnya.
Dalam sambutannya, CEO Bursa Malaysia Fad’l Mohamed menyatakan bahwa inisiatif ini muncul di saat negara berupaya untuk lebih baik dalam mengkomunikasikan kekuatan investasinya di tengah perubahan perdagangan global, teknologi, dan arus modal.
“Malaysia sering dianggap sebagai pasar defensif yang didukung oleh sektor konsumsi domestik, perbankan, dan perawatan kesehatan. Namun, negara ini juga menawarkan eksposur ke industri yang tumbuh cepat seperti semikonduktor, manufaktur tingkat lanjut, dan infrastruktur digital,” katanya.
Fad’l juga mencatat bahwa produk elektronik dan listrik menyumbang RM711,6 miliar atau 44 persen dari ekspor Malaysia pada tahun 2025, dan bahwa ekspor sirkuit terintegrasi tumbuh 24 persen dari tahun ke tahun, menunjukkan peran negara dalam rantai pasokan teknologi global yang semakin berkembang.
Dia menegaskan bahwa peningkatan kinerja korporat saja mungkin tidak cukup untuk menarik minat investor, dan perusahaan yang terdaftar harus lebih jelas dalam mengartikulasikan strategi penciptaan nilai mereka.
“Malaysia tidak memulai dari posisi nilai yang rendah. Namun, pengakuan pasar yang adil memerlukan lebih dari sekadar kinerja finansial,” tegasnya.




