Sony, sebagai salah satu nama terbesar di dunia gaming modern, selalu berhasil mencuri perhatian dengan setiap langkahnya. Setiap perubahan kebijakan atau rencana yang mereka buat sering kali menggambarkan situasi besar di industri ini. Beberapa tahun lalu, Sony melakukan pergeseran besar ke model live service. Meskipun game single-player mereka seperti Astro Bot sukses besar, langkah ke dunia “forever games” di tahun 2022 membuat mereka semakin percaya diri dengan konsep ini.
Namun, kini, pada tahun 2026, keputusan itu tampaknya semakin mirip taruhan buruk. Banyak game live service dari Sony mulai hancur akibat ekspektasi yang terlalu tinggi atau kritik gamers. Akibatnya, perusahaan harus memangkas rencana tersebut dengan drastis. Dampaknya sudah terasa, dengan banyak developer yang frustrasi, eksekutif lama pergi, bahkan judul hits seperti Marathon mengalami kesulitan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Empat tahun setelah dorongan besar Sony untuk live service, langkah ini semakin terlihat sebagai sebuah kekeliruan.
Rencana Ambisius Sony untuk Live Service Terancam Gagal
Model live service dulunya merupakan sebuah peluang emas bagi penerbit, terlebih dengan sukses besar yang diraih game seperti Fortnite. Namun, laporan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keputusan ini tidak begitu populer di kalangan internal Sony. Banyak developer yang merasa frustasi, bahkan beberapa tokoh kunci dari studio meninggalkan perusahaan. Setelah akuisisi Bungie di tahun 2022, Sony berambisi merilis selusin game live service sebelum akhir tahun 2025.
Tetapi, hanya setahun setelah itu, rencana tersebut terpaksa dipangkas hingga separuhnya, dengan tujuh judul dibatalkan (termasuk The Last of Us Online yang ditutup meski sudah mendekati garis finish). Beberapa game, seperti Concord, berhasil menyelesaikan pengembangan, namun langsung flop saat dirilis, hingga akhirnya ditutup setelah dua minggu akibat penjualan yang buruk dan kurangnya keterlibatan pemain. Meskipun Sony menemukan sedikit kesuksesan di ruang live service lewat Helldivers II dan Marathon, inisiatif ini masih kesulitan mencapai harapan yang diinginkan.
Bahkan Marathon pun tidak memberikan hasil yang diharapkan Sony — meski terbilang sukses, game ini bukanlah terobosan besar seperti yang diharapkan Bungie. Hal ini menggambarkan kesulitan besar yang tengah dialami industri, di mana pengembangan game mainstream kini menjadi sangat mahal, sehingga apapun di bawah hit besar bisa dianggap sebagai kegagalan. Meskipun laporan pendapatan Sony di bulan Mei mungkin menunjukkan angka yang cerah, perjuangan untuk mendapatkan lagi sebuah hit live service mungkin menjadi kehilangan yang sulit untuk diabaikan.
Live Service Tak Pernah Jadi Masa Depan
Tentunya, ini bukan hanya masalah untuk Sony. Game live service secara umum juga mengalami kesulitan, dengan judul-judul baru seperti Highguard gagal pasca peluncuran, bahkan game-game lama seperti Fortnite kesulitan mempertahankan basis pemain yang sehat. Tipe permainan ini bahkan menghadapi tantangan hukum di luar negeri, dengan pengadilan Prancis mempertimbangkan kemungkinan memaksa penerbit untuk menjaga game “forever” tetap online atau memberikan pengembalian uang jika game live service ditutup. Namun, investasi Sony dalam gaya permainan ini menjadi beban tersendiri bagi perusahaan, bertepatan dengan kepergian beberapa tokoh tinggi di dalamnya. Terlalu berkomitmen untuk lebih dari selusin game live service bahkan sebelum yang pertama benar-benar sukses membuat pengembang yang terafiliasi dengan Sony berada dalam posisi sulit. Format ini rumit dan membutuhkan basis pemain untuk sukses, dan mudah bagi game tersebut untuk hancur karena ekspektasi yang terlalu besar.
Banyak seniman berbakat menghabiskan waktu dan uang yang tidak sedikit untuk mengembangkan game yang, akibat pergeseran tren dari live service, tidak akan pernah melihat cahaya hari. Ini menjadi langkah salah bagi Sony, sebuah noda di tahun 2025 yang seharusnya menjadikan perusahaan ini sebagai pemenang di generasi konsol terbaru. Namun, tampaknya Sony sudah mulai merespons perkembangan ini. Mereka melakukan pengujian dan perencanaan yang lebih mendalam untuk game live service yang tersisa, sembari juga lebih fokus pada pengalaman single-player.
Kesuksesan besar dari pengalaman single-player seperti Resident Evil Requiem, Pragmata, dan Clair Obscura: Expedition 33 menunjukkan bahwa Sony masih bisa kembali merebut posisi mereka sebagai pusat pengalaman konsol rumahan terbaik — apalagi dengan eksklusif seperti Marvel’s Wolverine dan blockbuster yang ditunggu-tunggu seperti Grand Theft Auto VI yang semakin mengukuhkan posisi petualangan solo dalam gaming modern. Live service memang tidak akan lenyap begitu saja, dengan game-game yang terus berkembang seperti Fortnite, Minecraft, dan Roblox masih laku keras di seluruh platform. Tetapi, langkah mundur dari Sony terhadap pendekatan ini adalah keputusan yang tepat.


