[BANGKOK] Kementerian Keuangan Thailand memangkas prediksi pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi 1,6 persen dari sebelumnya 2 persen. Penyesuaian ini disebabkan oleh dampak dari konflik yang terjadi di Timur Tengah. Meski demikian, mereka menambahkan bahwa langkah-langkah pemerintah akan memberikan sedikit dukungan untuk perekonomian.
Untuk sektor ekspor, yang merupakan penggerak utama pertumbuhan Thailand, diperkirakan akan mengalami kenaikan 6,2 persen tahun ini. Ini jauh lebih baik dibandingkan dengan proyeksi awal yang hanya 1 persen pada bulan Januari. Vinit Visessuvanapoom, kepala kantor kebijakan fiskal kementerian, mengungkapkan hal ini dalam sebuah konferensi pers.
Ekonomi Thailand, yang menjadi yang terbesar kedua di Asia Tenggara, hanya tumbuh 2,4 persen tahun lalu, dan kini tertinggal dari negara-negara tetangga lainnya.
Untuk sektor pariwisata, jumlah kedatangan turis asing diprediksi mencapai 33,5 juta orang tahun ini, menurun dari prediksi sebelumnya yang menyentuh angka 35,5 juta. Sebelum pandemi, Thailand berhasil menarik hampir 40 juta turis pada tahun 2019, yang merupakan jumlah tertinggi dalam sejarah.
Kementerian juga mengungkapkan bahwa inflasi tahun ini diperkirakan akan mencapai angka 3 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang hanya 0,3 persen. Rentang target inflasi yang ditetapkan oleh bank sentral berada antara 1 persen hingga 3 persen. Ini jelas menunjukkan tantangan yang akan dihadapi Thailand di tahun ini.


