Setelah berminggu-minggu—atau bahkan berbulan-bulan—menghitung hari, akhirnya kamu sampai di destinasi impian dan siap menikmati hari-hari penuh matahari, pasir, dan sangria. Tapi tunggu dulu, apa itu? Hidungmu tiba-tiba meler, tenggorokanmu rasanya kering? Uh-oh, bisa jadi kamu terkena yang namanya “leisure sickness”.
Sekalipun terasa menyebalkan dan tampaknya tidak adil, terserang penyakit saat berlibur sebenarnya bukan hal yang jarang terjadi. Di dalam pesawat yang sempit atau setelah makan sesuatu yang salah, pasti ada peluang untuk tertular penyakit. Namun terkadang, sistem imun kita memilih untuk “libur” bareng kita—dan ini bukan kebetulan.
Fenomena ini punya nama keren: leisure sickness. Yuk, simak apa yang menyebabkan dan bagaimana cara menghindarinya sebelum perjalanan berikutnya.
Mengapa kita bisa sakit saat berlibur?
Ad Vingerhoets, seorang psikolog sekaligus profesor emeritus di Tilburg University, Belanda, pertama kali memperkenalkan istilah leisure sickness di awal 2000-an setelah menyadari ia sering jatuh sakit saat waktu libur. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang punya prestasi tinggi dan tingkat stres yang tinggi cenderung lebih rentan sakit saat libur. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, mual, hingga gejala mirip flu.
Lalu, apa sih yang menyebabkan ini terjadi? Menurut Meena Malhotra, MD, seorang dokter medis bersertifikat dan pendiri Heal n Cure, semua itu terkait dengan apa yang kita lakukan sebelum liburan. “Sebelum liburan, orang-orang sering memaksakan diri—bekerja lembur, kurang tidur, dan tidak makan dengan baik—jadi tubuh sudah dalam keadaan rentan,” ujarnya. “Ketika akhirnya kamu mau bersantai, tubuh jadi lepas dan gejala pun muncul. Bukan libur yang menyebabkan sakit, tapi tubuh sudah lelah dan sekarang memiliki ruang untuk mengekspresikannya.”
Ilmu pengetahuannya cukup sederhana, menurut Steven Goldberg, MD, MBA, seorang dokter perawatan primer di Kentucky. Ini semua tentang seberapa banyak hormon kortisol dalam tubuh kita. Hormon stres utama ini membantu mengontrol peradangan dan menjaga sistem imun tetap stabil. “Bayangkan seperti tutup di atas panci mendidih,” katanya. “Saat kamu terus memaksakan diri, kortisol menjaga semuanya agar tetap stabil. Begitu kamu mulai bersantai, kadar kortisol mulai turun dan tutupnya terangkat.” Ketika itu terjadi, sistem imun kamu mulai beraksi lagi. Peradangan meningkat, dan gejala yang sebelumnya ditahan oleh kortisol mungkin mulai muncul. Misalnya, banyak gejala flu disebabkan oleh peradangan. Jadi, saat itu ditekan oleh tingginya kadar kortisol, kamu bisa saja tidak menyadari bahwa kamu sakit sampai akhirnya kamu benar-benar tenang dan kadar kortisol turun.
Orang-orang yang mengalami stres kronis mungkin lebih rentan lagi. Ketika kortisol tetap tinggi dalam waktu yang lama, sistem imun bisa melemah karena mengurangi produksi sel-sel pelawan infeksi dan menghambat respons imun yang penting, menurut Dr. Goldberg dan Dr. Guerrero-Wooley. Jika ditambah dengan pengalaman liburan yang umum, seperti terpapar patogen selama perjalanan, gangguan tidur, dan perubahan pola makan yang bisa memengaruhi mikrobioma usus, kamu bisa jadi jadi sasaran untuk terserang sakit saat liburan.
“Ironi yang kejam adalah, tubuhmu tidak melindungimu dari penyakit saat stres,” kata Dr. Goldberg. “Ia hanya menunda hal yang tak terhindarkan.”
Selain membuka pintu bagi penyakit baru, stres sebelum perjalanan juga bisa memicu kondisi atau virus yang sensitif terhadap perubahan sistem imun. Salah satu contohnya adalah herpes zoster, yang disebabkan oleh virus varicella-zoster, virus yang sama dengan cacar air. Virus ini bisa berdiam diri di saraf kita selama bertahun-tahun setelah mengalami cacar air, dan hanya terbangun karena stres. Stres juga umum menjadi pemicu untuk kambuhnya kondisi lainnya seperti penyakit autoimun, eksim, dan sindrom usus iritabel.
Jadi, sebelum merencanakan liburan berikutnya, penting banget untuk mengantisipasi faktor-faktor ini agar bisa menikmati waktu libur tanpa gangguan.


