Petualangan Menyelam Pertama di Nassau, Bahama
Pernahkah kamu merasakan adrenalin saat berada 30 kaki di bawah laut? Itu yang dirasakan ketika seorang instruktur scuba, Brian, meminta untuk mem flood mask saat menyelam di Nari Nari. Ini adalah keahlian penting yang wajib dikuasai setiap penyelam sebelum mendapatkan sertifikat. Saya pun membuat celah di seal mask. Dalam sekejap, air laut masuk ke wajah dan hidungku. Jantungku berdebar kencang. Dengan cepat, aku mencoba membersihkan mask dengan mengeluarkan napas dari hidung. Namun gagal. Mata ini mulai kabur, dan dada terasa sesak. Aku langsung menunjuk ke tali naik, yang berfungsi untuk mengarahkan penyelam ke permukaan secara perlahan, menghindari penyakit dekompresi. Aku merangkak berenang ke arah itu, berharap bisa naik kembali ke perahu.
Tetapi, Brian dengan cepat menyusulku. Ia menarik rombonganku dan menggerakkan tangannya perlahan, mengajakku untuk menyesuaikan napas. Setelah beberapa siklus, detak jantungku mulai stabil, memungkinkan untuk membersihkan mask dan melanjutkan penyelaman. Dalam situasi lain, mungkin aku sudah menyerah, tapi di kedalaman laut seperti ini, tidak ada pilihan lain. Satu hal yang selalu diajarkan sejak awal: Jangan pernah menahan napas.
Stephen J. Aynsley, seorang direktur kursus spesialis meditasi scuba dari PADI, menjelaskan bahwa cara kita bernapas sangat mempengaruhi jalannya penyelaman. “Kamu harus bernapas terus-menerus untuk tetap sadar dan aman, tapi juga harus bernapas dengan benar agar bisa mengatur buoyancy yang baik. Ini adalah salah satu sistem tubuh yang dapat kamu kontrol secara sadar dan tidak sadar,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Banyak penyelam pemula cenderung bernapas cepat dan dangkal, yang justru bisa membuat cemas karena oksigen yang masuk jadi tidak cukup. Tujuan kita adalah bernapas dalam dan lambat: inhalasi panjang diikuti dengan eksalasi yang lebih panjang. Pola ini sama dengan banyak praktik meditasi di daratan. Selama bertahun-tahun, aku juga telah mencoba teknik pernapasan untuk mengatasi kecemasan menggunakan aplikasi seperti Open atau Headspace. Namun terkadang aku kebingungan dengan pola pernapasan yang rumit. Baru ketika berada di laut, aku bisa mengatur napas dengan baik dan tetap tenang saat situasi terasa panik.
Saat berada di Nassau, Bahama, untuk mendapatkan sertifikat scuba melalui PADI di Sandals Royal Bahamian, awalnya aku merasa tidak nyaman. Aku pernah snorkeling sebelumnya, di sebuah teluk berbatu yang terpencil dekat Little Bay, Anguilla, dan di tepi pantai Four Seasons Resort Lanai di Hawaii. Di sana, aku terpesona oleh warna pastel berkilau dari ikan wrasse Hawaii yang mengingatkanku pada buku anak kesuakan, The Rainbow Fish. Aku sudah terbiasa mengapung di permukaan air sedalam 15 kaki, mengamati ikan parrotfish bergerak di bawahku dan sinar laut melintas. Menyelam terasa seperti langkah menarik, tetapi aku tidak sepenuhnya yakin siap untuk itu.
Namun, perjalanan ini pasti membawa banyak pelajaran dan pengalaman baru. Selama menyelam, kedamaian dan keindahan bawah laut membuat rasa cemas perlahan sirna. Menyelam adalah pengalaman yang penuh ketidakpastian dan tantangan, namun saat kita berhasil melewatinya, rasanya luar biasa. Langkah demi langkah, pengalaman ini bukan hanya tentang mendapatkan sertifikat, tetapi juga memahami kedamaian yang bisa ditemukan di dalam diri saat berhadapan dengan ketakutan dan lingkungan yang asing.



