Interaktivitas dalam permainan video memang bikin ekspektasi pemain melonjak tinggi, karena kebanyakan dari mereka ingin sekali merasakan gameplay yang seru di atas semua bentuk ekspresi artistik. Ada permainan yang tampaknya ciamik dengan visual yang memukau atau cerita yang keren, tapi kalau gameplay-nya jeblok, banyak yang akan kabur sebelum mencapai akhir permainan. Sayangnya, beberapa game jadi contoh buruk soal ini. Janji awal yang menarik bisa jadi hancur karena elemen gameplay yang mengecewakan, membuat pemain cepat merasa bosan.
Performa permainan juga bisa jadi faktor besar kenapa gameplay-nya diterima dengan dingin. Ada game seperti Cyberpunk 2077 yang punya peluncuran awal yang sangat buruk, tapi seiring berjalannya waktu, mereka berhasil menarik pemain berkat perbaikan performa yang konsisten. Sayangnya, banyak game lainnya tidak mendapatkan kesempatan kedua, dan kesan gameplay yang buruk biasanya menutupi semua keunggulan luar biasa yang mereka miliki.
3. The Order: 1886
Dari segi visual dan presentasi, The Order: 1886 memang luar biasa. Game ini menangkap suasana zaman yang diangkat dengan detail yang sangat menarik, dari desain karakter hingga tempat-tempat yang dijelajahi pemain. Ceritanya juga unik, meski terasa agak singkat dibandingkan dengan judul petualangan aksi pihak ketiga lainnya. Estetika steampunk yang ditawarkan memadukan fantasi gelap dengan sejarah alternatif, dan banyak pemain memuji narasi sejak rilis perdananya pada tahun 2015.
Tetapi, gameplay-nya sama sekali membosankan. Game ini terjebak dalam gameplay sinematik, namun tidak mampu menghadapi keleluasaan gameplay yang ditawarkan oleh game lain seperti seri Uncharted. Tidak ada fitur yang bikin game ini diingat, dan yang ada pun sangat linear, seolah meminta pemain untuk bermain beberapa menit saja sebelum diganggu oleh cutscene yang bikin interaksi berkurang. Quick time events, pola musuh yang bisa ditebak, dan tempo lambat menjadikannya game tanpa substansi yang berarti.
2. Death Stranding

Jangan salah, Death Stranding adalah game yang mungkin tidak semua orang suka, tapi setiap penggemar game wajib mencobanya setidaknya sekali. Sayangnya, mekanik yang aneh dan mungkin bikin frustasi tetap ada di sepanjang pengalaman bermain. Dijuluki “simulator jalan kaki” oleh kritikusnya, Death Stranding adalah ujian kesabaran, di mana satu langkah salah bisa bikin kemajuan terbuang sia-sia saat mencoba mengantar barang dan menghubungkan dunia yang tidak harmonis. Bagi banyak orang, cerita yang aneh dan sistem yang menjengkelkan cukup untuk menyingkirkan game ini begitu saja.
Namun, bagi mereka yang bersabar melewati gameplay yang kadang menyebalkan, akan menemukan pengalaman unik yang hanya bisa diciptakan oleh Hideo Kojima. Semakin jauh progres yang dibuat, semakin mudah permainan berjalan karena infrastruktur yang saling terhubung membantu mengurangi dampak dari gameplay awal yang bikin frustrasi. Visual di Death Stranding juga sangat mengesankan, dan tetap terjaga dalam sekuelnya, Death Stranding 2: On the Beach. Meskipun ada janji ini, bagi yang tidak bisa menerima kekurangan yang disengaja, mungkin tidak akan menemukan aspek yang layak dipuji.
1. Final Fantasy 15

Final Fantasy 15 memiliki dunia yang sangat visual menarik, menciptakan lingkungan kota, jalan, dan lanskap yang bisa dieksplorasi selama berjam-jam. Tapi, di sisi lain, skala besar ini juga jadi bumerang, memaksa pemain untuk hanya melakukan perjalanan yang bisa memakan waktu lama untuk mencapai tujuan. Sementara mengemudikan mobil bersama Noctis dan teman-temannya membantu membangun kedekatan, rasanya sama membosankannya seperti perjalanan darat yang terlalu panjang.
Game ini juga jauh dari kata sempurna dalam aspek lain, terutama dalam sistem pertarungan dan RPG-nya. Progresi terasa tidak berarti, karena musuh secara otomatis disesuaikan dengan level anggota partai. Berbicara soal partai, berbeda dengan judul Final Fantasy lainnya, sangat sedikit waktu yang diberikan untuk mengkustomisasi atau mendiversifikasi kelompok, meskipun ada spesialisasi karakter yang menawarkan variasi. Pertarungan terasa monoton, dengan sedikit momen yang membuatnya lebih menarik.
Meskipun banyak kekurangan, cerita Final Fantasy 15 sangat megah dan sebanding dengan beberapa narasi terbaik yang ada di seri ini. Beberapa momen sangat membekas dan soundtrack yang luar biasa menambah atmosfer yang bisa bikin pemain bertahan meski ada kelemahan. Gameplay yang buruk mungkin menghantui di setiap sudut, tetapi game ini tetap bisa mengejutkan pemain dengan potensi yang dimilikinya saat pertama kali dirilis.



