[JAKARTA] Kenaikan harga BBM Pertamax yang tiba-tiba bikin banyak orang tercengang dan khawatir akan adanya lonjakan harga lain. Pasalnya, rumah tangga kelas menengah mulai merasakan dampak dari naiknya biaya ini.
Sama sekali tidak terduga, Pertamina, perusahaan energi milik negara, mengumumkan kenaikan harga Pertamax 92 oktan pada 10 Juni lalu, menjadi 16,250 rupiah per liter. Ini adalah lonjakan sebesar 32 persen dari harga sebelumnya yang cuma 12,300 rupiah.
Kenaikan ini pun bukan tanpa sebab. Terjadi lonjakan 50 persen pada harga minyak dunia sejak perang Irak dan depresiasi 8 persen nilai rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun. Namun, yang bikin kaget adalah momen kenaikan ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin menjadi 5,5 persen.
Kenaikan harga ini jelas menggambarkan dilema yang dihadapi Indonesia: menjaga disiplin fiskal tapi tetap melindungi konsumen. Harga minyak dunia yang tinggi, lemahnya mata uang, dan tekanan subsidi memang memaksa pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga bahan bakar secara bertahap.
Untuk rumah tangga kelas menengah yang tidak menjadi target utama program subsidi BBM, perubahan ini makin menyulitkan mereka yang sensitif pada biaya transportasi. Pendapatan riil yang sudah tertekan jadi semakin tertekan.
Leonardo, seorang pekerja kantoran berusia 25 tahun di Jakarta Pusat, termasuk yang kaget. Saat kenaikan harga berlaku, dia baru saja pulang dari pelatihan lima hari dengan akses telepon yang terbatas.
“Waktu buka Instagram, liat harganya sudah 16,250 rupiah. Kaget banget, itu kenaikan besar,” ujar Leonardo, yang seperti banyak orang Indonesia, hanya menggunakan satu nama. Dia mengacu pada BBM Pertamax 92 oktan.
Biasanya dia menggunakan Pertamax untuk berkendara ke kantor, tapi setelah kenaikan harga ini, dia berencana beralih ke Pertalite, BBM bersubsidi 90 oktan yang harganya saat ini 10,000 rupiah per liter.
“Membeli Pertamax dengan harga segitu sudah nggak masuk akal,” ungkapnya dengan tegas.
Tapi, tidak semua orang bisa memilih beralih ke Pertalite. Ramanda Andhika, yang berusia 35 tahun, pernah menggunakan Pertalite tapi mengalami kerusakan pada pompa bahan bakar mobilnya. “Meski lebih hemat, saya khawatir malah akan merogoh kocek lebih dalam untuk perbaikan,” tambahnya.
Sejak kenaikan harga, sudah banyak terlihat antrean panjang di pom bensin. Banyak yang beralih ke Pertalite. Buat Leonardo, menunggu di antrean ini masih berharga.
“Kalau antreannya terlalu lama, bisa jadi saya pikir ulang, tapi untuk saat ini, saya tetap mau beralih,” tuturnya.
Ramanda, yang bekerja di gereja di Jakarta Selatan dan memiliki anak berusia dua tahun, memiliki mobil dan motor. Sebelum kenaikan harga, dia menghabiskan sekitar satu juta rupiah untuk bahan bakar setiap bulan, yang berarti sekitar 20 persen dari penghasilannya.
“Saya berencana untuk mengurangi penggunaan mobil sebisa mungkin,” tegasnya. “Yang saya khawatirkan, Pertalite akan semakin langka atau bahkan dihapuskan. Kalau itu terjadi, harga barang-barang dasar pasti akan naik.”
Meski begitu, Pertamina dan Menteri Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga Pertalite dan solar bersubsidi tidak akan naik. “BBM bersubsidi dan LPG bersubsidi tidak akan naik. Itu perintah Presiden,” kata Bahlil kepada wartawan di Lampung pada 10 Juni.
Menurut Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance di Jakarta, kenaikan harga ini memang “tak terelakkan” akibat tekanan fiskal baik dari dalam maupun luar negeri.
“Penyesuaian harga ini adalah sinyal bahwa orientasi kebijakan bergeser dari mempertahankan pertumbuhan menjadi menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar,” jelas Rizal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan harga Pertamax akan berdampak “minimal” pada ekonomi secara keseluruhan karena BBM ini tidak digunakan oleh sektor transportasi umum atau logistik. Namun, Rizal memiliki pandangan berbeda.
“Meskipun dampak langsung Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas, dampak ekonominya jauh lebih luas. Pengguna utamanya adalah pekerja sektor formal dan kelas menengah, yang secara historis menjadi penggerak konsumsi domestik,” tegas Rizal.
Dengan biaya bahan bakar yang lebih tinggi, ditambah dengan kenaikan suku bunga, inflasi yang meningkat 3,08 persen, dan tekanan dari pelemahan rupiah, ia mengatakan pendapatan riil akan menyusut, sedangkan konsumsi rumah tangga bakal melemah, berpotensi menyebabkan perlambatan di sektor ritel dan jasa.
Deni Friawan, seorang peneliti ekonomi di Jakarta Center for Strategic and International Studies, mengatakan meskipun kenaikan harga BBM ini “tak terhindarkan”, alasannya tidak memberikan kenyamanan bagi mereka yang terdampak.
“Menurut saya, publik kehilangan kepercayaan karena sebelumnya pemerintah selalu bilang bahwa fundament ekonomi baik-baik saja, posisi fiskal kita cukup, dan lain-lain. Purbaya selalu menyatakan hal itu. Kenaikan ini menunjukkan bahwa semua tidak baik-baik saja.”



