Emperor Palpatine telah membuktikan diri sebagai “musuh besar” yang mengikat tiga trilogi Star Wars—meskipun banyak penggemar yang merasa kecewa melihat kembalinya ia dalam Star Wars: The Rise of Skywalker. Namun, meski jadi villain ikonik, ia tak sepenuhnya sempurna. Faktanya, satu-satunya trilogi di mana ia benar-benar bisa dibilang ‘menang’ adalah trilogi prekuel, di mana ia menyelesaikan cerita dalam Star Wars: Episode III – Revenge of the Sith sebagai Kaisar dari Kekaisaran Galaktiknya yang baru.
Di The Rise of Skywalker dan Return of the Jedi, Palpatine mengalami kekalahan. Menariknya, dalam ketiga trilogi tersebut, termasuk prekuelnya, ada satu masalah besar yang terus menghantuinya, yang jelas tak pernah dia perbaiki. Pada akhirnya, inilah yang jadi akar kejatuhannya.
Palpatine Tak Pernah Bisa Mengontrol Force Lightning-nya
Salah satu kekuatan Sith yang paling dikenal dalam Star Wars, mungkin hanya kalah dari Force choke, adalah Force lightning. Palpatine adalah Sith pertama yang menggunakan kekuatan ini, dan ia menjadi karakter yang paling sering menggunakannya di film dan serial Star Wars. Tapi anehnya, ia tak pernah bisa mengendalikannya dengan baik, dan itu justru berujung pada kehancurannya.
Dalam Revenge of the Sith, meskipun ia selamat, Palpatine menggunakan Force lightning terhadap Mace Windu, dan hasilnya wajahnya menjadi sangat cacat. Di Return of the Jedi, jelas terlihat bahwa ia terluka oleh lightning miliknya sendiri, yang memungkinkan Darth Vader untuk menjatuhkannya ke dalam reactor shaft. Terakhir, di The Rise of Skywalker, Palpatine kembali gagal mengontrol Force lightning-nya, dan Rey berhasil mengalahkannya serta menghancurkannya.
Bagaimana Palpatine Menjadi Villain Ultimate?
Ketika melihat Palpatine kesulitan dengan kekuatan yang paling dia andalkan, pertanyaan muncul: bagaimana mungkin Sith ini bisa meraih level kekuasaan yang dia capai? Memang, penampilan Palpatine di The Rise of Skywalker dan trilogi sekuel secara keseluruhan terasa seperti upaya terakhir untuk menyelamatkan cerita, bukan sebuah plot yang mengalir dengan baik.
Di trilogi prekuel dan original, jelas bahwa ia berhasil mengumpulkan dan mempertahankan kekuasaan. Meskipun tidak muncul di A New Hope, trilogi asli dengan mulus memperkenalkan Palpatine dan menegaskan posisinya sebagai makhluk paling kuat di galaksi. Prekuel kemudian mengungkap bahwa kekuatannya tidak hanya bersifat fisik, melainkan ada kecerdikan jahat yang luar biasa. Kejeniusan Palpatine terletak pada kemampuannya untuk bertindak sebagai master jahat.
Skill inilah yang membuatnya menjadi antagonis terbesar di Star Wars, setidaknya di layar lebar, meskipun ia menunjukkan ketidakmampuan untuk mengontrol Force lightning-nya. Namun, pada akhirnya, itulah yang jadi salah satu faktor utama kejatuhannya.

