Kalau ada satu hal yang bikin film itu seru, adalah saat para aktor bisa beraksi tanpa batasan. Wajah manusia adalah alat paling ampuh untuk menggerakkan penonton. Semakin sedikit batasan antara kita dan karakter di layar, semakin mudah kita terhubung emosional. Ketika ada naskah yang oke, separuh jalan untuk menciptakan film yang fantastis sudah terlampaui.
Tapi, nggak semua materi itu sempurna. Miss You, Love You, film terbaru dari penulis-sutradara Jim Rash, sedikit berlebihan dalam mengolah drama. Film ini dibangun untuk menonjolkan emosi seiring cerita, memberi kesempatan kepada bintang-bintangnya, Allison Janney dan Andrew Rannells, untuk melakukan banyak dialog yang bisa dinikmati. Saat cerita yang berfokus pada duka ini mencapai puncaknya, istilah “apa yang aku rasakan” dan “apa yang film ini ingin aku rasakan” jadi berbeda jauh, dan makin menyadarkan aku tentang hal itu—mirip saat kamu tahu seseorang lebih menyukaimu dibandingkan kamu ke dia.
Tapi, jika ditangani dengan baik, berlebihan bisa menjadi hal yang menghibur. Menikmati akting yang maksimal itu seru, dan Rash tahu itu. Miss You, Love You menyajikan beberapa adegan dialog antar dua karakter yang memberikan ruang bagi Janney dan Rannells untuk mengambil keputusan, menunjukkan karakter, merespon energi satu sama lain, dan menjalani beragam emosi sulit. Meski ada repetisi dalam dinamika mereka, dengan durasi hanya 97 menit, film ini nggak bikin penonton bosan. Bagi penggemar drama karakter, film ini layak dipertimbangkan untuk ditonton saat waktu luang.
Ketika Premis Mulai Menipis, Allison Janney & Andrew Rannells Tetap Menarik Perhatian
Rash patut diacungi jempol karena menemukan dinamika karakter yang tidak biasa namun berpotensi menarik untuk dijadikan pusat cerita. Jamie (Rannells) adalah asisten Jack, seorang penulis sukses yang sedang berada di luar negeri untuk meneliti buku barunya. Diane (Janney) adalah ibu Jack, yang baru saja kehilangan suaminya, Henry, ayah tiri Jack, setelah sakit panjang. Karena Jack terjebak di sana, dia mengirim Jamie untuk membantu pengaturan pemakaman, dengan harapan bisa kembali untuk menghadiri acara tersebut.
Sejak mereka bertemu, jelas bahwa situasi ini punya banyak lapisan yang tidak bisa langsung diterima begitu saja. Hubungan Diane dengan putranya tampak kaku, dan sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan Henry. Diane adalah sosok yang kuat, baik keras kepala maupun menakutkan—ciri khas karakter Allison Janney—dan saat Jamie datang, dia sudah siap untuk mengguncangnya. Diane melemparkan kata-kata pedas dan berganti topik dengan cepat, seolah menantang Jamie untuk mengikuti ritmenya. Dia memaksanya untuk mendefinisikan apa sebenarnya pengaturan ini, dan pertanyaan itu jadi sangat menarik.
Film ini seperti menunjukkan proses dua orang berbeda yang belajar satu sama lain dalam perjalanan hidup. Miss You, Love You terlihat ada interaksi dengan masyarakat lokal di New Mexico, tempat Diane yang enggan bersosialisasi meski sudah pindah dari New York beberapa tahun lalu atas permintaan suaminya, sementara Jamie lebih mudah beradaptasi. Namun, film ini lebih banyak berfokus pada pengungkapan informasi baru, bagaimana setiap informasi baru itu membawa keduanya lebih dekat atau justru menjauh.
Di titik terbaik, kamera akan fokus pada para aktor dan menangkap detail kecil bagaimana jarak di antara mereka terlihat di penampilan mereka. Menonton Janney itu seperti melihat keajaiban. Diane berada di posisi yang goyah, dan saat kita belajar lebih banyak tentang masa lalunya dengan Jack, kita memahami betapa banyak rasa sakit yang membuatnya berada di tempat itu. Kita bisa mendeteksi betapa banyak emosi yang ditujukan kepada Jamie hanya dengan cara Janney mengerutkan atau meluaskan matanya. Sementara Rannells juga mendapatkan momen untuk menunjukkan emosinya, dia lebih menyampaikan reaksinya dengan ekspresi wajah yang halus.
Tantangan dari dinamika yang jarang terlihat di layar seperti ini adalah ketidakpastian kemana arah hubungannya. Miss You, Love You paling menarik saat menyoroti hubungan antara kedua karakter ini. Namun, momen emosional dari hubungan Diane dan Jamie dengan Jack, yang sayangnya jadi pokok obrolan mereka, mudah diprediksi. Film ini terasa kurang segar dibandingkan premisnya, dan itu disayangkan karena pasangan karakter dan aktor ini memiliki potensi untuk jadi lebih menonjol.
Semakin standar alurnya, semakin sulit untuk terbawa emosi dalam jalan ceritanya, dan batasan film ini akhirnya melebihi jangkauannya. Namun, meskipun tidak terlalu mencolok, Miss You, Love You tetap menghibur.
Miss You, Love You dapat disaksikan di HBO Max mulai Jumat, 29 Mei.




