[SINGAPURA] Beberapa menteri pertahanan ASEAN berkumpul menjelang hari kedua Dialog Shangri-La pada Sabtu (30 Mei). Mereka siap memastikan arus perdagangan dan pasokan tetap lancar melalui koridor internasional, termasuk Selat Malaka dan Singapura.
Pada acara sarapan yang dipimpin bersama oleh Menteri Pertahanan Chan Chun Sing dan Sekretaris Pertahanan Nasional Filipina, Gilberto Teodoro Jr, para pemimpin dari delapan negara di blok Asia Tenggara ini menegaskan pentingnya hukum dan norma internasional di kawasan.
Yang paling ditekankan adalah pentingnya menjaga hak transit yang diatur oleh Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).
Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, Republik Islam ini membalas dengan menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur kritis di mana sepertiga pasokan minyak dunia mengalir.
Menteri Keuangan Indonesia pada bulan April sempat mengemukakan ide untuk mengenakan levy pada kapal yang melintas di Selat Malaka dan Singapura, dan jika ini terwujud, hasilnya akan dibagi tiga.
Usulan ini membuat para menteri luar negeri Indonesia dan Malaysia mengingatkan bahwa tidak ada negara yang bisa secara sepihak menentukan akses ke Selat Malaka.
Dalam pernyataan terkait pertemuan sarapan tersebut, Kementerian Pertahanan (Mindef) menyoroti bagaimana Dialog Shangri-La, yang merupakan pertemuan pertahanan tahunan, memberikan peluang bagi anggota ASEAN untuk berinteraksi dengan pejabat pertahanan dan keamanan dari seluruh dunia.
Di antara yang hadir pada pertemuan sarapan tersebut adalah Menteri di Kantor Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan II Brunei Halbi Haji Mohd Yussof; Sekretaris Negara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja Rath Dararoth; Wakil Menteri Pertahanan Indonesia Donny Ermawan Taufanto; Menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin; Menteri Pertahanan Thailand Adul Boonthamcharoen; serta Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Nasional Vietnam Phan Van Giang.
Berbagai topik lain juga dibahas, termasuk langkah-langkah agar ASEAN dapat berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran regional, serta bagaimana militer dari kawasan dan negara-negara dalam ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus (ADMM-Plus) bisa saling berlatih, terutama dalam bidang bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
ADMM-Plus adalah platform pertemuan pertahanan yang lebih luas bagi ASEAN dan negara-negara di luar kawasan. Selain ASEAN, platform ini juga melibatkan Australia, China, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia, Korea Selatan, dan AS.
Secara terpisah, Chan bertemu dengan Menteri Pertahanan dan Veteran Prancis Catherine Vautrin di sela-sela dialog, di mana pentingnya hak transit yang diatur dalam UNCLOS kembali dibahas.
Dalam pertemuan tersebut, mereka mengulangi hubungan pertahanan bilateral yang kuat antara Singapura dan Prancis. Chan mengungkapkan apresiasinya atas dukungan Prancis terhadap detasemen pelatihan Angkatan Angkatan Udara Republik Singapura di Pangkalan Udara Cazaux, yang terletak di barat daya Prancis.
Melanjutkan perjanjian pertahanan yang ditandatangani pada Mei 2025, kedua menteri setuju untuk memperdalam kemitraan mereka dalam pelatihan militer, teknologi pertahanan, perlindungan infrastruktur bawah laut yang vital, dan berbagai bidang lainnya.
Chan kemudian bertemu dengan Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto, di mana mereka membahas perkembangan geopolitik dan keamanan.
Sebelum pertemuan ini, Singapura dan Italia telah menandatangani perjanjian mengenai ketahanan rantai pasokan, yang menurut Mindef akan memperkuat rantai pasokan pertahanan kedua negara jika terjadi gangguan yang tidak terduga.




