Antonov An-28: Pesawat Tua yang Berubah Jadi Platform Anti-Dron
Pesawat turboprop berusia 55 tahun yang awalnya dirancang untuk penerbangan kargo dan penumpang jarak pendek kini menjalani misi baru di langit Ukraina.
Antonov An-28, pesawat berkembar dari era Soviet, sekarang beroperasi sebagai platform senjata anti-dron yang mobile. Tentara Ukraina telah memodifikasi badan pesawat vintage ini dengan M134 Minigun enam laras, dron interceptor di sayapnya, dan headset realitas virtual untuk penargetan malam.
Dari Angkutan ke Pemburu Dron
An-28 sebenarnya tidak pernah dirancang untuk pertempuran; misi aslinya adalah mengangkut pasokan dan orang dari landasan pacu yang pendek dan tidak terawat. Namun, kemampuan lepas landas dan mendarat yang singkat sekarang dioptimalkan untuk beroperasi dari pangkalan maju yang dekat dengan garis depan.
Pilot Ukraina, Tymur Fatkullin, yang kerap mendokumentasikan inisiatif penerbangan improvisasi, pertama kali mengunggah video pesawat An-28 bersenjata ini. Timnya mengandalkan pengendali lalu lintas udara untuk membimbing pesawat ke area dengan aktivasi dron Shahed Rusia, lalu menggunakan kamera inframerah dan kacamata malam untuk mengidentifikasi target yang sebagian besar aktif di malam hari.
Pesawat ini dilengkapi dengan M134 Minigun, senjata kelas Gatling enam laras yang mampu membabat dron yang bergerak lambat dengan tembakan beruntun, mirip seperti yang digunakan pada A-10 Thunderbolt II. Fatkullin melaporkan bahwa An-28 telah menghancurkan 222 dron Rusia hanya dengan menggunakan senjata ini.
Meskipun Minigun terbukti efektif, senjata ini mengharuskan An-28 terbang dalam jarak pandang visual targetnya. Dran Shahed Rusia sering terbang dalam kawanan, dan dengan kemampuan Minigun yang hanya bisa menyerang satu dron dalam satu waktu, kru Ukraina berinovasi menggunakan metode yang berbeda.
Alih-alih hanya bergantung pada amunisi, An-28 kini membawa dron interceptor kecil di bawah sayapnya. Dron-dron ini dilepaskan dari pesawat dan bisa terbang menuju Shahed secara otonom atau dikendalikan dari jarak jauh. Fatkullin pun menyebutnya sebagai “rudal udara-ke-udara yang murah.”
Ada dua model dron murah ini — SkyFall P1-Sun, yang menggunakan kerangka modular cetak 3D dan mencapai kecepatan maksimum hingga 450 km/jam, dan Merops AS-3 Surveyor, yang dilengkapi hulu ledak eksplosif untuk detonasi jarak dekat.
Kenapa Memanfaatkan Pesawat Tua?
Meluncurkan dron interceptor dari turboprop menawarkan beberapa keuntungan praktis dibandingkan sistem berbasis darat. An-28 membawa dron kecil lebih dekat dengan target sebelum dilepas, sehingga mengurangi waktu respons. Saat peluncuran dilakukan dari ketinggian, ini memberikan jangkauan tambahan dan energi kinetik untuk dron interceptor.
Pesawat ini juga memberikan waktu untuk patroli anti-dron, yang bisa diatur sebagai layar pelindung di jalur penerbangan Rusia yang dapat diprediksi. Namun, keuntungan utama dari pesawat tua ini adalah biaya. Setiap dron Shahed Rusia diperkirakan menghabiskan biaya antara $30,000 hingga $50,000.
Menurut Angkatan Darat AS, dron interceptor buatan Merops menghabiskan sekitar $15,000, dengan kemungkinan pengurangan biaya menjadi antara $3,000 dan $5,000 dalam produksi massal. Sementara itu, biaya per-kill dari Minigun yang menggunakan amunisi konvensional jauh lebih murah.
Teknologi ini tampak menjawab masalah yang ditimbulkan oleh dron Shahed Rusia, namun tantangan sesungguhnya adalah seberapa cepat Rusia akan beradaptasi dengan solusi sementara ini. Apabila Moskow mengaktifkan perang elektronik atau menggunakan dron yang lebih cepat yang bisa mengatasi konfigurasi An-28 saat ini, maka utilitas turboprop klasik ini bisa saja hilang dalam sekejap.

