Di tengah teriknya kekeringan yang melanda, dunia pembangunan data center AI di Amerika Serikat tampak berjalan tanpa henti. Ini terjadi meskipun ada keluhan dari masyarakat tentang dampak negatif AI terhadap kualitas hidup yang mulai menggema di berbagai kalangan.
Kondisi yang tak biasa ini memengaruhi pasokan listrik dan air, namun suara dari para pemangku kepentingan politik masih terkesan minim. Saat ini, 517 dari 809 data center yang direncanakan berada di area yang terdampak kekeringan selama setahun terakhir.
Kebutuhan Air AI Melebihi Batas
Industri AI mengatakan bahwa penggunaan sistem siklus tertutup adalah cara yang efisien untuk pendinginan dan pemakaian air. Beberapa operator data center seperti AWS sudah mulai menerapkan loop kustom mereka untuk memanfaatkan kondisi ini. Namun, itu hanya sedikit dari apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Isu besar yang dihadapi banyak data center adalah kebutuhan akan daya yang dapat diandalkan. Semua pembangunan yang ada perlu dukungan listrik yang stabil untuk memenuhi permintaan komputasi yang sangat tinggi. Satu laporan dari Xlyem mengungkapkan, dari peningkatan permintaan air yang terkait dengan AI, hanya 4% yang berhubungan langsung dengan data center. Sisanya, sebesar 96%, berasal dari kebutuhan untuk pembangkitan listrik (~54%) dan fabrikasi semikonduktor (~42%). Fokus terlalu banyak pada pembangkit listrik ini bisa menjadi masalah yang lebih krusial.
Saat konstruksi data center terus berlanjut di AS, meskipun ada kekhawatiran dari beberapa perusahaan asuransi, kekeringan tampaknya bukan menjadi perhatian utama bagi perusahaan-perusahaan yang sedang berjuang menuju Kecerdasan Umum Buatan (AGI).
Beberapa kawasan di AS mulai mengambil langkah berani, seperti Seattle yang memutuskan untuk melarang semua proyek data center baru selama setahun ke depan. Ini terjadi saat kota tersebut berusaha menghadapi lonjakan biaya listrik dan kurangnya manfaat yang konkret bagi warganya.
Air dan listrik bukan hanya tantangan besar saat ini, tetapi tampaknya akan terus menjadi masalah bagi industri AI di masa depan. Meski banyak perusahaan meminta lebih banyak kapasitas komputasi, ada kalangan yang tidak senang dengan situasi ini. Mereka menunjukkan bahwa populasi pedesaan yang konservatif, yang menjadi demografi pemilih penting bagi pemerintahan AS saat ini, adalah yang paling terdampak oleh meningkatnya biaya air dan listrik. Akses yang semakin terbatas menambah keprihatinan mereka.
Andrew Coppin, CEO Ranchbot — sebuah alat yang membantu petani memantau penggunaan air mereka, menegaskan: “Kekhawatiran para petani itu nyata dan sangat beralasan. Data center jadi tren saat ini, tapi kita semua tidak mau sampai harus mengatur kapan bisa mandi dalam seminggu. ChatGPT memang keren, tapi kebanyakan orang lebih memilih untuk menikmati steak daripada itu.”
Melalui lensa ini, jelas bahwa tantangan yang dihadapi oleh industri data center tidak hanya soal teknologi dan inovasi, tetapi lebih dari itu, menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat dan lingkungan sekitar. Di satu sisi, kemajuan teknologi terus melesat, namun di sisi lain, masalah sumber daya yang semakin terbatasi perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.


