Di dekat Museum Cup Noodles yang terkenal di Yokohama, ada satu tempat menarik yang sering terlewatkan dalam panduan perjalanan, yaitu Museum Imigrasi Jepang. Museum ini menyimpan cerita para imigran Jepang dari abad ke-19 dan ke-20 yang menggunakan pelabuhan seperti Yokohama untuk mencapai Pulau Hawaii, Brasil, Amerika Serikat, dan banyak lagi. Di sini, pengunjung bisa menjelajahi apa yang membuat para imigran tersebut meninggalkan Jepang dan apa yang terjadi setelah mereka tiba di negara baru.
Museum imigrasi ini terletak di lokasi yang sering dikunjungi, tetapi suasananya relatif sepi dan gratis untuk masuk. Baik pengunjung yang ingin berkunjung sejenak atau yang mau mendalami sejarah selama beberapa jam akan menemukan perspektif baru tentang Jepang dan makna menjadi orang Jepang.
Akses: Jam, akses, dan atraksi sekitar
Museum Imigrasi Jepang terletak di distrik Minato Mirai 21, di lantai dua JICA Yokohama Center. Bagi yang datang dari Stasiun Yokohama, bisa naik kereta di Jalur Minatomirai menuju Stasiun Bashamichi atau Minatomirai. Dari sini, museum bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Sementara yang dari Stasiun Tokyo, bisa naik kereta langsung ke Stasiun Sakuragicho, yang juga berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki dari museum.
Biasanya, museum buka dari pukul 10.00 hingga 18.00 dan tutup pada hari Senin (atau pada hari Selasa setelah hari libur yang jatuh pada hari Senin). Tas dan barang besar lainnya bisa dititipkan sementara di meja resepsionis museum atau di loker koin kecil di sebelah pintu masuk (siapkan koin ¥100 untuk menggunakannya).
Selain mengunjungi museum imigrasi, ada banyak aktivitas lain di sekitar Minato Mirai, seperti naik roda raksasa di Yokohama Cosmo World atau mengeksplorasi sejarah maritim lokal di Museum Pelabuhan Yokohama.
Yang ada di dalam: Pameran, panduan audio, dan kesempatan foto
Beberapa pameran di museum imigrasi bersifat interaktif atau memungkinkan pengunjung untuk berfoto, sementara yang lainnya tidak boleh disentuh atau difoto. Perhatikan tanda yang terpampang di sekitar pameran. Pameran tetap di museum terbagi menjadi tiga bagian besar: sejarah lima periode migrasi, kehidupan dan pekerjaan di komunitas Jepang di luar negeri, serta sudut pandang dari keturunan imigran di abad ke-21. Salah satu sorotan pameran ini adalah wawancara video dengan orang-orang yang menyaksikan sejarah yang dipamerkan di berbagai negara. Salah satu tokoh yang diwawancarai adalah aktor terkenal “Star Trek”, George Takei, yang pernah mengadakan acara di museum ini.
Kebanyakan penjelasan di museum ini tersedia dalam bahasa Jepang dan Inggris, dengan beberapa sumber dalam bahasa Spanyol dan Portugis. Pengunjung bisa menggunakan smartphone atau tablet pribadi untuk mengakses panduan audio, jadi jangan lupa bawa earphone dan pastikan baterai perangkat kamu cukup untuk digunakan. Terdapat juga panduan audio “junior” untuk anak-anak.
Meski larangan berfoto berlaku di beberapa bagian museum, pengunjung tetap harus siap dengan kamera mereka. Beberapa area di pameran tetap memungkinkan pengunjung untuk berfoto dengan instalasi yang terinspirasi dari setting sejarah nyata. Dengan sudut yang tepat, pengunjung bisa berpose sebagai pelanggan di Toko Saudara Yasui (sebuah yorozuya yang beroperasi dari tahun 1908 hingga 1942 di Hood River, Oregon) atau sedang menebang pohon di Koloni Aliança di Brasil.
Ruangan referensi di museum menyediakan lebih banyak informasi terkait migrasi dari Jepang yang typically buka dari hari Selasa hingga Sabtu, pukul 10.00 hingga 18.00.
Jangan lupa bawa buku catatan untuk mengumpulkan stempel peringatan. Museum ini memiliki total empat desain stempel, tetapi hanya dua desain yang tersedia setiap pekannya. Apapun desain yang kamu dapat, itu bakal jadi souvenir yang unik dan ringan!
Pameran spesial yang diadakan dua atau tiga kali setahun juga menambah keunikan setiap kunjungan. Pameran sebelumnya termasuk galeri karya seni oleh pelukis keturunan Jepang dan pameran tentang pengalaman orang Jepang-Kanada selama Perang Dunia II.
Lama waktu yang dibutuhkan pengunjung untuk menjelajahi Museum Imigrasi Jepang bergantung pada seberapa teliti mereka ingin menikmati pameran. Jalan cepat bisa memakan waktu sekitar satu jam, tetapi membaca dan menonton semua materi yang ada bisa memakan waktu sekitar tiga jam.
Makanan, istirahat, dan seni di JICA Yokohama Center
Di dalam JICA Yokohama Center, ada lebih banyak pengalaman selain museum imigrasi. Di luar pintu masuk museum, ada area istirahat yang didekorasi dengan patung pohon dan hewan serta mural besar. Seni ini terinspirasi oleh pemandangan komunitas Jepang di seluruh dunia dan dirancang agar interaktif. Pengunjung bisa mewarnai bagian dari mural (marker tersedia di lokasi) atau menggantung pesan tulisan tangan di patung pohon. Salinan mural juga tersedia bagi pengunjung yang ingin mewarnai souvenir mereka sendiri.
Port Terrace Cafe yang ada di lantai tiga JICA Yokohama Center menyajikan makanan dan minuman dengan pemandangan pelabuhan dan kota yang menawan. Selain menu yang selalu tersedia (termasuk makanan vegetarian dan halal), pelanggan bisa menikmati pilihan spesial yang terinspirasi dari hidangan internasional.
Port Terrace Cafe biasanya buka setiap hari untuk makan siang (11:30 hingga 14:00) dan makan malam (17:30 hingga 21:00). Camilan dan makanan ringan tersedia dari pukul 14:00 hingga 17:00 pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Tempat duduk di taman luar tersedia, tetapi ini hanya untuk pelanggan restoran. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan uang tunai atau kartu IC transportasi.
Lebih banyak yang bisa dijelajahi: Museum imigrasi Jepang di luar Yokohama
Migran yang berangkat dari Kobe banyak yang menetap di Amerika Selatan. Pusat Imigrasi dan Interaksi Budaya Kobe menjelaskan lebih lanjut tentang koneksi sejarah ini.
Dimanapun di zaman apa pun, migrasi adalah bagian dari cerita besar umat manusia. Yokohama mengingatkan pengunjung tentang salah satu cara Jepang terhubung dengan pengalaman ini. Lebih banyak cerita tentang imigran Jepang bisa ditemukan di Prefektur Hyogo dan Yamaguchi, seperti di Pusat Imigrasi dan Interaksi Budaya Kobe (dulunya penginapan bagi imigran sebelum berangkat dari Jepang) dan Museum Emigrasi Jepang ke Hawaii (replika rumah yang dibangun oleh seseorang yang kembali ke Jepang setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri).
Seiring dengan berjalannya cerita migrasi ke abad 21, penting untuk mengingat mereka yang telah menempuh perjalanan sebelumnya.



