Setelah lebih dari 25 tahun berdiri megah, hotel ikonik Dubai, Jumeirah Burj Al Arab, kini tutup untuk melakukan renovasi. Penutupan ini direncanakan selama 18 bulan, dan selama waktu itu, interior hotel yang khas akan ditingkatkan dan diperbaharui oleh arsitek interior asal Prancis yang terkenal, Tristan Auer. Auer dikenal telah mendesain banyak hotel ternama, mulai dari Carlton Cannes hingga Hôtel de Crillon di Paris.
Bagaimana sih cara Auer merancang kembali sebuah ikon? “Ini semacam sains,” ujarnya saat percakapan pagi dari studionya di Paris. “Burj Al Arab adalah salah satu hotel paling terkenal dan diakui di dunia. Sebagai seorang desainer, kita harus menghormati itu—mengamati, mendengarkan, dan melihat bagaimana orang berperilaku di hotel ini.”
Dengan visi luar biasa dari Sang Penguasa di balik desain aslinya, Auer merasakan tanggung jawab besar. “Saya tidak boleh merusaknya. Jadi, saya harus ‘memakai sepatu’ beliau untuk bisa memahami dan meningkatkan desain ini,” tambahnya. Burj Al Arab memiliki banyak ciri khas yang mendefinisikan dirinya. Dirancang menyerupai layar kapal dhow tradisional, hotel ini menjadi simbol ambisi tiada henti dari Dubai.
Di dalamnya, pesonanya tak kalah mencolok. Air mancur yang menawan dan akuarium berisi 400 spesies ikan, hiu, dan manta ray menghiasi aula atrium setinggi 180 meter. Tak kurang dari 1.790 meter persegi daun emas 24 karat menghiasi interiornya, ditambah 86.500 kristal Swarovski yang dipasang secara manual. Lebih dari 30 jenis marmer Statuario—batu yang sama yang dipakai Michelangelo—menutupi hampir 24.000 meter persegi dinding dan lantai. Bahkan, para wisatawan yang tidak memiliki reservasi pun rela membayar untuk sekadar menjelajahi lorong-lorongnya dan mengintip kemewahan suite dupleksnya yang dilengkapi langit-langit bersegi, kamar mandi bermozaik, dan bathtub Jacuzzi.
Desain hotel ini telah dikenal dengan kemewahan yang mencolok dan tanpa rasa malu, dan Auer menegaskan bahwa esensi ini tidak akan berubah. Renovasi yang dilakukan bukan untuk mengubah karisma asli Burj Al Arab, melainkan untuk lebih memperkuat daya tariknya sebagai destinasi mewah bagi para pelancong dari seluruh dunia.
Penggemar arsitektur dan pecinta desain, bersiaplah! Renovasi ini bukan hanya tentang mempercantik interior, tetapi juga menjaga integritas dari sebuah landmark yang sudah menjadi bagian dari sejarah dan budaya Dubai. Ketika pintu Burj Al Arab kembali dibuka, pengunjung pasti akan merasakan kombinasi sempurna antara keanggunan klasik dan sentuhan modern yang segar. Ini adalah bagian dari perjalanan hotel untuk terus mempertahankan eksklusivitasnya di tengah persaingan industri pariwisata global yang semakin ketat.
Sementara itu, perhatian dunia akan terus tertuju pada Dubai, menunggu dengan antusias bagaimana hotel ini akan bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat bermalam, tetapi juga menjelma menjadi simbol kekayaan visi yang tak pernah padam dari kota yang glamor ini.




