Selama beberapa dekade, pekerjaan dan kreativitas sering dipisahkan. Alat produktivitas seperti spreadsheet dan dokumen dirancang untuk efisiensi, sementara kreativitas berada di luar sana dengan alat-alat khusus yang sering kali memerlukan pelatihan khusus.
“Mereka sudah diberitahu bahwa mereka bukan desainer, atau tidak kreatif,” ungkap Melanie Perkins, co-founder dan CEO Canva, dalam sebuah sesi tertutup untuk jurnalis di konferensi tahunan Canva Create.
Visi Canva selalu sederhana, yakni “memberdayakan semua orang untuk mendesain apa pun dengan semua bahan dalam semua bahasa di semua perangkat.” Para pendirinya melihat AI hanya sebagai satu langkah dalam strategi jangka panjang untuk mencapai tujuan ini.
Dimana AI berperan dalam suite terbaru Canva
Alur kerja desain tradisional memerlukan kolaborasi aktif antar berbagai tim dan penggunaan banyak alat, sehingga menciptakan hambatan dan menghabiskan waktu dengan pekerjaan yang berulang.
Untuk menutup celah ini, perusahaan teknologi Australia yang kini beroperasi dengan pendapatan tahunan berulang sebesar $4 miliar telah membangun fondasi untuk Visual Suite selama 13 tahun terakhir. Dalam suite ini ada Docs, Sheets, Presentations; Media Sosial, Photo Editor, dan Video. Semua hal yang sering kamu gunakan.
Tahun ini, dengan peluncuran Canva AI 2.0, perusahaan memberikan langkah lebih jauh dalam mendemokratisasi desain dengan menghilangkan keahlian khusus, memungkinkan iterasi lebih cepat, dan bahkan mengotomatiskan tugas berulang.
Pesan yang ingin disampaikan adalah para pekerja dapat kembali melakukan pekerjaan yang sebenarnya mereka daftar untuk lakukan – pemimpin merek bisa terus membangun panduan merek, pemasar dapat menghasilkan aset yang konsisten, komunikator dapat menyusun pesan yang efektif. Semua ini tampak terpisah, tetapi tetap bersinergi.
“Kami selalu percaya bahwa kreativitas dan produktivitas tidak seharusnya hidup dalam alat yang terpisah,” tegas Cameron Adams, co-founder dan Chief Product Officer, di depan sekitar 6.000 pengunjung yang hadir langsung.
Akan Kah Canva membuat desainer tak lagi diperlukan?
Dengan penciptaan konten yang meningkat tajam, eksekutif perusahaan mengakui adanya ketegangan dan skeptisme yang muncul. Namun, meskipun AI menurunkan hambatan masuk, perusahaan tetap bersikukuh bahwa keahlian masih sangat penting.
“Kami percaya bahwa di era AI, kerajinan menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya,” jelas Duncan Clark, Managing Director EMEA, dalam sebuah wawancara.
Hingga awal 2026, Canva melaporkan memiliki 265.000 pengguna aktif bulanan dengan pertumbuhan yang terus berlanjut. Clark juga mengisyaratkan bahwa AI sebenarnya membuat lebih banyak orang bisa mendesain alih-alih menggantikan peran mereka.
Memandang lebih luas
Visi Canva jelas mencerminkan pergeseran industri yang lebih besar, dengan Microsoft mengintegrasikan alat desain ke dalam perangkat lunak Office-nya, Google memadukan AI dalam suite Workspace, dan Adobe sepertinya menjangkau semua aspek meskipun dikritik memiliki portofolio yang luas dengan biaya yang mahal.
“Saya pikir kelincahan dan kemampuan untuk benar-benar mengarahkan perusahaan menuju tujuan terbesar adalah hal yang sangat diperlukan di era baru ini,” tutup Perkins, optimis bahwa semangat muda Canva bisa memberi keunggulan dibandingkan raksasa yang lebih mapan ke depannya.


