[JAKARTA] Selama bertahun-tahun, bahan mentah Indonesia diangkut dari tambang dan perkebunan terpencil menuju pasar global melalui jaringan trader yang mengurus segala hal mulai dari negosiasi hingga pinjaman. Kini, pemerintah memutuskan untuk terlibat langsung, dengan harapan bisa menghemat miliaran dolar AS yang sejauh ini hilang dalam perjalanan.
Dengan rencana yang mengejutkan ini, negara berencana mengambil alih ekspor komoditas utama. Ini adalah langkah besar yang mengingatkan kita pada masa lalu otoriter negara ini—bahkan terasa radikal bagi Presiden Prabowo Subianto, yang merupakan mantan jenderal dan telah berusaha memperkuat pengelolaan ekonomi langsung sejak menjabat pada 2024.
Prabowo menjelaskan minggu ini bahwa kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi penghindaran pajak. Namun, langkah ini justru membuat investor yang sudah khawatir semakin cemas, sementara para trader, produsen, dan bahkan beberapa pejabat pemerintah sempat dibuat bingung untuk memahami bagaimana rencana ini bisa direalisasikan.
Saat ini hanya garis besar rencana yang telah diumumkan, termasuk keputusan untuk memulai pengawasan pada batu bara dan minyak sawit, dua komoditas di mana Indonesia memiliki kekuatan sebagai eksportir teratas. Namun, banyak pihak yang terlibat menyatakan bahwa misi ini benar-benar menantang.
Para produsen komoditas yang tersebar di seluruh Indonesia bergantung pada jaringan ratusan agen dan trader, dari raksasa multinasional seperti Trafigura Group hingga perusahaan lokal yang lebih kecil. Jaringan yang dibangun dalam beberapa dekade ini harus bisa direplikasi dalam waktu singkat.
“Ini bakal jadi pertempuran yang berat,” ujar Kevin O’Rourke, analis politik dan pemilik konsultan Reformasi Information Services yang berbasis di Jakarta. “Ada ekosistem hubungan antarmanusia yang kompleks. Ini bukan sesuatu yang bisa diubah dalam jangka waktu yang pendek.”
Entitas baru yang bernama Danantara Sumberdaya Indonesia akan berada di bawah dana kekayaan negara, Danantara—yang didirikan hanya setahun lalu dan langsung melapor kepada Prabowo.
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, berusaha meyakinkan investor bahwa mereka bakal bersikap ramah pasar. “Kami akan menjadi operator, bukan regulator,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan merekrut talenta terbaik dari industri dan memenuhi standar tata kelola yang tinggi. CEO baru mereka adalah mantan direktur Vale Indonesia.
Prabowo lebih tegas lagi. Ia mengungkapkan bahwa sebagai produsen terkemuka, Indonesia seharusnya memiliki kontrol lebih terhadap harga jual bahan mentahnya, dan tidak bisa kehilangan potensi pendapatan tahunan yang ia perkirakan mencapai $150 miliar.
Industrialisasi sumber daya alam di Indonesia berisiko, bahkan bagi perusahaan yang paling berpengalaman sekalipun. Kepemilikan aset dan perusahaan sering kali tidak transparan, pemerintah telah bertahun-tahun berjuang melawan korupsi, dan perubahan kebijakan dapat terjadi secara mendadak. Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan multinasional banyak yang meninggalkan negara ini, dan perusahaan lokal pun mengambil alih aset yang paling berharga.
Hal ini memberi ruang bagi trader komoditas, yang model bisnisnya lebih gesit, memungkinkan mereka untuk bertransaksi tanpa terjebak dalam kepemilikan aset. Dalam sektor batu bara, kontribusi paling penting mereka adalah dalam bentuk kredit. Trader dapat menarik dana dari bank internasional dan mendanai penambang kecil yang kemudian akan menjanjikan pengiriman batu bara dengan harga diskon di kemudian hari. Ini adalah dana krusial bagi perusahaan yang kesulitan mendapatkan jalur kredit yang terjangkau—dan belum jelas bagaimana sistem baru Danantara bisa menggantikan itu.
Tidak semua produsen batu bara memerlukan trader untuk mendapatkan dana. Enam penambang teratas di Indonesia, termasuk Bayan Resources dan Adaro Andalan Indonesia, memiliki akses yang melimpah ke kredit dan menyuplai sekitar separuh dari 600 juta ton batu bara tahunan. Namun, sisanya dibagi antara banyak perusahaan kecil yang masing-masing memproduksi kurang dari satu juta ton per tahun dan sangat membutuhkan dana.
Perusahaan kecil ini membuat Indonesia menjadi eksportir batu bara thermal terbesar di dunia. Dan sebagian besar batu bara ini dikirim ke China, di mana upaya Prabowo untuk mengontrol penjualan mulai membuat para pembeli resah.
Beberapa perusahaan perdagangan besar dari China—yang perannya dalam pasar Indonesia semakin meningkat, termasuk investor seperti Xiang Guangda dari Tsingshan Holding Group—khawatir kontrak jangka panjang mereka bisa terganggu dan biaya meningkat saat entitas perdagangan baru Danantara beroperasi, menurut sejumlah trader yang enggan disebutkan namanya karena masalah sensitif.
Beberapa kontrak batu bara dan minyak sawit akan berlanjut hingga 2027. Memperbarui kontrak ini hampir pasti akan berarti harus berurusan dengan pihak-pihak yang berbeda dan memenuhi persyaratan baru, meskipun ada kemungkinan mereka juga mendapatkan akses ke aset tambang tambahan.
Selanjutnya, ada tantangan praktis dalam membangun versi Indonesia dari Glencore hanya dalam hitungan bulan, serta pertanyaan tentang campur tangan negara dalam bisnisnya.
Entitas baru ini akan menangani ekspor yang totalnya mencapai sekitar $65 miliar per tahun, yang mengharuskan adanya modal kerja, keterhubungan, dan tenaga kerja yang sangat besar. Eksekutif Danantara telah mencari nasihat dari trader komoditas lainnya tentang cara mengelola proyek ini, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Di sektor kelapa sawit, rantai pasokan yang panjang menghubungkan petani skala kecil dengan agen, pedagang, hingga raksasa pangan global—bisnis yang didominasi oleh konglomerat besar seperti Wilmar International dan Musim Mas Holdings.
Prospek gangguan ini sudah memengaruhi pasar. Para penawar mundur dari tender Indonesia karena khawatir pembatasan mungkin memperlambat pengiriman dan meningkatkan stok.
“Ini pasti akan menjadi jalan terjal bagi semua orang,” ungkap Putra Adhiguna, direktur utama di Energy Shift Institute yang berbasis di Australia. “Termasuk bagi pemerintah.” BLOOMBERG



