Kontroversi seputar MBC dengan judul Perfect Crown semakin memanas. Drama yang baru saja tamat ini sedang menghadapi pengawasan publik karena tuduhan distorsi sejarah dan representasi budaya yang keliru. Kini, situasi ini berkembang menjadi sebuah petisi resmi yang meminta agar drama tersebut dihapuskan sepenuhnya dari semua platform media.
Petisi tersebut diunggah pada 22 Mei 2026 (KST) di papan petisi publik Dewan Nasional dengan judul, “Petisi Memohon Penangguhan Siaran dan Penghapusan Konten dari Platform Media Karena Kontroversi Distorsi Sejarah.” Penulis petisi menuduh Perfect Crown telah meminjam elemen gaya Cina meskipun ceritanya berlatar di versi fiksi Korea.
Dalam petisi ini, penggagasnya mengekspresikan kekhawatiran bahwa meskipun diatur dalam Republik Korea fiksi, drama ini sembarangan meminjam pakaian, etika, dan kosakata bergaya Cina, dengan jelas terlibat dalam budaya yang tidak sesuai dan distorsi sejarah.
“Meskipun berlatar di Republik Korea fiksi, drama ini dengan sembarangan meminjam pakaian, etika, dan kosakata bergaya Cina, yang jelas menunjukkan perilaku pengambilan budaya dan distorsi sejarah.”
— Petisi
Penulis petisi juga mengklaim bahwa drama ini “secara serius melanggar perasaan publik” dan “menyebarkan citra yang salah tentang identitas budaya Republik Korea kepada dunia.” Beberapa adegan yang disoroti termasuk upacara pelantikan Pangeran Agung Lee An, di mana para pejabat menggunakan frasa “cheonse”, serta adegan yang melibatkan etika minum teh bergaya Cina meskipun drama ini mengusung konsep keluarga kerajaan Korea.
“Kami mendesak tindakan lebih dari sekadar pengeditan setelah siaran dari tim produksi. Kami menuntut penangguhan siaran drama ini dan penghapusan lengkap dari platform VOD dan OTT.”
— Petisi
Tindakan ini tampaknya mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap kualitas produksi. Selain itu, penulis petisi juga meminta langkah-langkah institusional untuk mencegah produksi serupa dari didistribusikan di masa depan. Dengan cepat, petisi ini mendapatkan perhatian, melebihi 20.000 tanda tangan hanya dalam sehari.
MBC sudah mulai menghapus adegan-adegan kontroversial setelah gelombang kemarahan tersebut, sementara sutradara Park Joon Hwa dan penulis Yoo Ji Won pun meminta maaf. Namun, permintaan maaf mereka dinilai kurang memadai dan tidak mampu meredakan situasi yang terus memburuk.
Kontroversi ini juga mengangkat isu mengenai pendanaan pemerintah yang mendukung produksi drama ini. Perfect Crown sebelumnya terpilih sebagai penerima akhir dari program dukungan produksi konten OTT yang dikhususkan untuk tahun 2025 di kategori drama panjang dari Korea Creative Content Agency. Seorang pejabat KOCCA mengungkapkan bahwa jika drama ini terbukti tidak memenuhi syarat, dana dukungan tersebut bisa dicabut.
Kajian mengenai pelanggaran regulasi saat ini sedang berlangsung dan diperkirakan akan terus berjalan hingga akhir Mei hingga awal Juni. Meskipun tim produksi telah meminta maaf dan melakukan pengeditan, petisi terbaru menunjukkan bahwa kemarahan publik terhadap Perfect Crown belum mereda.

- Signed!
- Saya juga sudah tanda tangan! Sekarang sudah 47%.
- MBC harus benar-benar merenungkan ini. Saya sudah tanda tangan kemarin!!
- Saya sudah tanda tangan dan sudah kembali.
- Penulis dan sutradara perlu berpikir jernih dan membuat drama yang layak, jangan hanya memproduksi hal-hal bodoh dan membuat para aktor menanggung beban.
- Jangan lupa mengenai ideologi New Right, yang secara diam-diam tersemat di sini juga.
- Saya sudah tanda tangan dan kembali lagi.
- Done.
- Done. Sekarang sudah 48%!!
Ini bukan kali pertama penghapusan permanen K-Drama dipetisikan. Pada tahun 2021, masyarakat Korea berhasil menghapus SBS dengan judul Joseon Exorcist setelah dua episode hanya dengan petisi yang mengumpulkan lebih dari 184.000 tanda tangan.
Dengan perkembangan ini, dunia K-Drama terus menunjukkan sisi menarik sekaligus rumit dari industri hiburan yang sedang berkembang pesat. Dan tetap saja, penonton dengan suara mereka bisa mengubah arah cerita yang dihadirkan di layar kaca.


