[JAKARTA] Pasar saham Indonesia mengalami penurunan signifikan pada Kamis (4 Juni), dengan nilai tukar rupiah menembus batas kritis 18.000 per dolar AS dan indeks saham Jakarta mengalami level terendah dalam hampir enam tahun. Ketidakpastian kebijakan dan tantangan makroekonomi membuat para investor semakin khawatir.
Rupiah tergerus hingga 0.6 persen, menjadikan total kerugian tahun ini sekitar 8 persen. Sementara itu, indeks Jakarta Composite Index anjlok 5 persen, mencapai posisi terendah sejak Desember 2020 sebelum akhirnya mereda. Baik rupiah maupun indeks saham menjadi yang terburuk di Asia tahun ini. Obligasi juga mengalami penurunan.
Penjualan besar-besaran terjadi karena investor semakin ragu dengan prospek ekonomi Indonesia dan kondisi fiskal di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Harga minyak yang tinggi semakin menekan keuangan pemerintah, ditambah ketakutan akan intervensi negara yang lebih besar dalam ekspor komoditas, potensi tekanan peringkat, dan keputusan reclassifikasi MSCI yang tengah ditunggu-tunggu, membuat banyak dana menunggu di pinggir.
Penjualan ini, menurut Felix Darmawan, analis dari BCA Sekuritas, “terutama dipicu oleh lemahnya rupiah yang mencetak rekor terendah dan tekanan dari neraca perdagangan yang melemah, terutama dengan peningkatan impor minyak”. “Investor juga semakin khawatir tentang risiko kebijakan – termasuk soal program makanan gratis berskala besar dan potensi tekanan peringkat – yang mempengaruhi kepercayaan secara keseluruhan,” tambahnya.
Kekhawatiran tersebut terlihat jelas pada Rabu lalu, ketika saham terjun ke level terendah dalam lima tahun dan rupiah kembali mencetak rekor terendah, meskipun tidak ada katalis baru. Penurunan ini menunjukkan betapa rapuhnya sentimen yang ada; investor cepat menarik diri meski tanpa ada pemicu baru.
Pecat mendadak kepala badan nutrisi Indonesia minggu ini – yang menjadi jantung program makanan gratis Prabowo – dan penyelidikan korupsi selanjutnya semakin menambah ketidakpastian.
Namun, bursa saham lokal berupaya menenangkan investor, dengan pejabatnya mengungkapkan harapan kuat agar MSCI mempertahankan status pasar berkembang Indonesia dan menekankan fundamental yang tetap kuat.
Salah satu cara paling nyata dari kekhawatiran makro ini terlihat pada mata uang lokal, yang terus merosot dan memicu intervensi dari bank sentral.
BNP Paribas, MUFG Bank, dan Mega Capital Sekuritas memprediksi bahwa Bank Indonesia (BI) mungkin akan menaikkan suku bunga secepatnya bulan ini.
Pada Kamis, BI mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan intervensi di pasar mata uang, dengan wakil gubernur senior Destry Damayanti menyatakan melalui pesan bahwa bank sentral akan “meningkatkan intensitas intervensinya” untuk menjaga berfungsinya pasar secara tertib dan menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamentalnya.
Jika rupiah tembus di atas 18.000, ini bisa mempercepat aliran keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikan level ini sebagai uji coba utama bagi pembuat kebijakan yang ingin mengembalikan kepercayaan di tengah badai kesulitan. Hingga kini, dana global telah mengalir keluar sebanyak US$3.3 miliar dari saham lokal tahun ini, ditambah US$653 juta dari obligasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun sedikit naik lima basis poin menjadi 6.75 persen pada Kamis. Sejak awal tahun, imbal hasil ini telah naik lebih dari 60 basis poin.
“Hingga tak ada kejelasan lebih lanjut tentang kekhawatiran domestik, seperti kontrol ekspor dan review MSCI, tekanan akan tetap mengarah ke bawah bagi aset-aset Indonesia,” ungkap Wee Khoon Chong, strategi pasar Asia-Pasifik di BNY.
Kekhawatiran mengenai peringkat kredit Indonesia muncul kembali minggu ini setelah Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa ia bertemu dengan perwakilan dari S&P Global Ratings dalam “rapat tahunan”, tanpa menjelaskan kapan pertemuan itu berlangsung.
Ia menambahkan bahwa pemerintah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyoroti upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai langkah strategis, menurut sebuah postingan di media sosial.
Fitch Ratings dan Moody’s Ratings telah merevisi prospek mereka untuk Indonesia menjadi negatif, meskipun tetap menjaga peringkat di level layak investasi. Beberapa pihak khawatir bahwa S&P mungkin juga akan mengikuti langkah yang sama.
Untuk meningkatkan kepercayaan, bank sentral telah meluncurkan berbagai langkah untuk mendukung mata uang lokal dan menarik aliran masuk, termasuk penerbitan surat utang dalam denominasi rupiah dan pengetatan persyaratan pembelian dolar AS. Bulan lalu, BI mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Keputusan kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 18 Juni mendatang.
Intervensi intensif yang dilakukan bank sentral ini memerlukan biaya, karena cadangan devisa negara jatuh lebih jauh di bulan April hingga ke level terendah dalam hampir dua tahun. Fitch telah memperingatkan bahwa penurunan tajam dalam cadangan bisa berujung pada tindakan penilaian negatif.
Regulator pasar modal juga telah meluncurkan langkah reformasi untuk mendongkrak kepercayaan, meskipun banyak yang tetap khawatir dengan keputusan MSCI bulan ini yang bisa menghapus beberapa saham besar dari indeksnya.




