Backrooms telah sukses besar di seluruh dunia, bahkan menjadi film nomor satu! Film ini membawa lore supernatural dari web series yang hits ke layar lebar. Sang kreator web series Backrooms, Kane Parsons, juga yang mendirect film ini. Fans setia sudah mulai mengamati berbagai keterkaitan antara film dan video pendek yang ada sebelumnya.
Meskipun tidak ada keharusan untuk menonton video pendek Backrooms sebelum filmnya, para penonton bisa mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap soal lore yang diciptakan Parsons. Video-video tersebut membantu menjelaskan kenapa semuanya berputar liar di babak ketiga film ini dan apa sebenarnya makna dari ending yang penuh teka-teki itu.
Apa yang Terjadi di Babak Akhir Backrooms? (SPOILER)
Film Backrooms menceritakan tentang seorang arsitek gagal yang kini menjadi pemilik toko furniture, Clark (Chiwetel Ejiofor). Dia sedang berjuang menjalani hidup pasca perceraian. Suatu malam, saat tidur di tokonya, Clark menemukan portal ke Backrooms di ruang bawah tanah. Sepanjang film, dia berusaha menjelajahi dunia surreal itu dan merekrut tim film untuk mendokumentasikan pengalamannya. Namun, semuanya menjadi salah ketika anggota tim film tewas, dan Clark perlahan-lahan kehilangan akal sehatnya karena terlalu lama berada di sana.
Di babak akhir, terapis Clark, Dr. Mary Kline (Renate Reinsve), mulai mencarinya setelah dia bertindak aneh di sesi terakhir mereka. Mary mengikuti jejaknya ke portal di basement dan juga terjebak di Backrooms. Saat menemukan Clark, dia terkejut ketika Clark menjadikannya sandera dan memperkenalkan Mary kepada “teman-teman” yang merupakan tiga humanoid menyeramkan yang sangat cacat. Salah satu dari mereka, yang mirip dengan Clark yang mengenakan kostum maskot bertema bajak laut dari tokonya, menjadi gila dan membunuh Clark, sebelum mengejar Mary kembali ke Backrooms. Mary berhadapan dengan monster itu dalam versi Backrooms dari toko furniture, dan nyaris melarikan diri sebelum ditangkap oleh Async Research Institute yang sudah lama melakukan penelitian tentang Backrooms.
Backrooms Ending Dijelaskan: Versi Buruk

Salah satu monolog terkenal dari Clark di pertengahan film adalah saat dia mencoba menjelaskan kepada Mary apa sebenarnya dunia misterius itu: “Bayangkan mendeskripsikan anjing kepada seseorang yang belum pernah melihatnya dan meminta mereka menggambarnya,” ucap Clark. “Hasilnya akan mirip, tapi detailnya yang menjadi masalah.”
Implikasi dari kutipan dan urutan film di Backrooms menunjukkan bahwa yang Clark sampaikan kepada Mary bukan sekadar analogi: ini adalah wawasan penting tentang sifat Backrooms. Singkatnya, sepertinya Backrooms berfungsi seperti penguat memori, menunjukkan bahwa ada semacam kesadaran psikis yang dapat “membaca” pikiran orang-orang yang masuk ke sana, lalu mencoba “memantulkan” ingatan mereka. Namun, karena menjadi dunia yang tidak berasal dari sini, Backrooms tidak dapat memahami sifat dasar manusia atau ketidakakuratan ingatan mereka, yang berakibat pada salinan yang terdistorsi dari orang, tempat, dan benda dalam pikiran mereka.
Meskipun tidak ada konfirmasi langsung, ada kuat dugaan bahwa setting domestik di mana Clark menahan Mary adalah bekas rumahnya. Banyak fans berpikir bahwa salah satu dari dua salinan aneh yang bersamanya adalah mantan istrinya. Teori ini semakin kuat karena Clark mencabuli rambut dari salinan perempuan dan meminta Mary mengenakan bagian itu sebagai wig, agar dia bisa “bermain peran” sebagai istrinya, seperti yang sering dilakukan dalam sesi terapi mereka.

Di akhir film, saat Mary bersama tim Async dan berbincang dengan peneliti “Phil” (Mark Duplass), kamera mulai bergerak di sekitar Backrooms dan mengungkapkan bahwa ingatan traumatis Mary tentang tinggal di rumah bersama ibunya yang agorafobik, serta penghancuran rumah itu, mulai dikumpulkan dan dimanifestasikan oleh Backrooms. Adegan akhir menunjukkan bahwa Mary juga mulai kehilangan jati dirinya dan akal sehatnya, dibayangkan dengan penampakan versi Backrooms dari Mary yang terlihat terbuat dari potongan-potongan dari berbagai tubuh yang disatukan menjadi satu tubuh cacat.
Backrooms dikategorikan sebagai “horor psikologis” bukan tanpa alasan. Dari film ini, terlihat bahwa Kane Parsons lebih tertarik pada psikologi karakter yang menjelajahi Backrooms daripada pada makhluk-makhluk mimpi buruk. Ia menunjukkan trauma yang mereka bawa ke ruang yang aneh itu. Ini mungkin hal yang terbaik, sebab premis tersebut cukup luas sehingga sekuel-sekuel yang akan datang bisa berfungsi lebih seperti antologi, mengikuti sekelompok karakter baru yang terjebak dalam Backrooms, dan membiarkan ruang surreal itu mengambil bentuk dari apa pun yang berdiam di dalam kepala mereka.
Film Backrooms sudah tayang di bioskop. Jangan lewatkan kesempatan untuk menontonnya.



