Nilai tukar rupiah melemah sekitar 8% dan kini menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia tahun ini. Dalam situasi ini, otoritas Indonesia perlu memberikan panduan kebijakan yang lebih jelas dan langkah konkret untuk memperbaiki sentimen pasar setelah penjualan besar-besaran minggu lalu yang menghantam pasar saham dan mata uang.
Analisis menunjukkan bahwa para pelaku pasar akan cenderung dalam mode menunggu menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 18 Juni mendatang, serta tinjauan MSCI terhadap investabilitas Indonesia bulan ini. Di tengah ketidakpastian yang ada, rumor tentang perombakan dalam jajaran pengambil kebijakan hanya menambah kekacauan, meski Kementerian Keuangan dan bank sentral sudah mengeluarkan langkah-langkah untuk mendukung imbal hasil obligasi dan menarik aliran modal.
“Dua minggu ke depan sangat krusial,” kata Mohit Mirpuri, mitra SGMC Capital di Singapura. “Pasar sedang mencari tanda-tanda jelas dari disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan komitmen kuat terhadap stabilitas makroekonomi.”
Kekhawatiran yang terus meningkat mengenai pengelolaan ekonomi oleh pemerintah, kebingungan terkait aturan ekspor komoditas baru, serta kebangkitan kekhawatiran tentang profil kredit sovereign Indonesia telah membuat aset-aset Indonesia jatuh. Hanya lima bulan setelah mencetak rekor tertinggi, indeks saham acuan telah anjlok hampir 39 persen, menjadi yang terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks global yang dilacak oleh Bloomberg. Kinerja minggu lalu pun menjadi yang terburuk dalam lebih dari empat tahun.
Rupiah sendiri jatuh ke rekor terendah, menembus level psikologis 18.000 per dolar AS. Sementara obligasi juga mengalami penurunan, namun penurunan ini relatif kecil karena bank sentral dan Kementerian Keuangan berhasil melakukan intervensi untuk menjaga imbal hasil, khususnya obligasi 10 tahun, tetap stabil.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menggelar konferensi pers di Parlemen pada hari Sabtu, berkomitmen untuk menjaga likuiditas yang cukup di pasar dan bekerja sama untuk meningkatkan imbal hasil serta aliran modal. “Bank Indonesia juga akan menaikkan suku bunga untuk simpanan pemerintah yang ditempatkan di sini,” ungkap Warjiyo.
Josua Pardede, kepala ekonom di Bank Permata Jakarta, menilai, “Pernyataan pada hari Sabtu bisa jadi awal untuk mengurangi tekanan pasar, tetapi ini masih belum cukup untuk mengubah arah pasar secara berkelanjutan.” Penting bagi pihak berwenang untuk memberikan rincian mengenai tarif imbal hasil, skala simpanan pemerintah, dan implikasi bagi biaya Bank Indonesia dan penerbitan obligasi pemerintah agar pasar tidak mengartikan ini sebagai kabur antara kebijakan fiskal dan moneter.
Kepercayaan global terhadap Indonesia tampaknya semakin menurun mengingat agenda populis dan intervensi ala Presiden Prabowo Subianto. Ini membuat investor menarik dana senilai US$422 juta dari obligasi Indonesia tahun ini dan US$3,56 miliar dari saham lokal selama periode yang sama, jumlah ini sudah lebih tinggi dari aliran keluar ekuitas pada tahun 2020 saat pandemi. Ditambah dengan perang Iran, kekhawatiran ini semakin meningkat, mempercepat aliran keluar modal dan pengunduran diri dari risiko, sambil harga minyak yang tinggi meningkatkan anggaran subsidi energi.
“Masalah yang lebih besar bukanlah soal komunikasi, tetapi kejelasan kebijakan,” tegas Mirpuri.
Sementara itu, investor akan mengamati upaya pengambil kebijakan dalam meningkatkan imbal hasil obligasi tanpa membebani anggaran negara yang sudah tertekan. Bank Indonesia juga perlu menaikkan suku bunga dengan lebih agresif untuk menarik dana, ujar Lionel Priyadi, seorang makrostrateg di Mega Capital Sekuritas.
“Untuk memperkuat rupiah kembali ke level di bawah 18.000, BI harus menaikkan suku bunga lebih dari 50 basis poin,” lanjut Priyadi, dengan ekspektasi kenaikan 75 basis poin bulan ini. “Untuk saat ini, pasar akan tetap berada dalam mode menunggu.”
Rencana untuk membayar imbal hasil yang lebih tinggi pada simpanan pemerintah adalah langkah terbaru oleh otoritas moneter dan fiskal untuk memperdalam koordinasi kebijakan. Dengan meningkatkan imbal hasil untuk dana yang disimpan di bank sentral, langkah ini bisa membantu mengimbangi biaya pembiayaan pemerintah yang semakin meningkat.
“Jika kita meningkatkan imbal hasil kepada pemerintah, beban bunga bersih pemerintah akan lebih terkelola,” ujar Warjiyo kepada wartawan hari Sabtu. “Ini juga sekaligus menjawab kekhawatiran salah satu lembaga pemeringkat terkait meningkatnya pembayaran bunga pemerintah.”
Walau pernyataan ini dapat menciptakan “bias positif” di pasar, peningkatan imbal hasil harus dikelola dengan baik agar berlangsung secara bertahap dan tidak mengejutkan investor domestik, kata Aldo Perkasa, kepala penelitian di Trimegah Sekuritas Indonesia.
“Narasi optimis ini harus diikuti dengan respons kebijakan yang lebih rinci,” tambah Pardede. “Saat ini, tekanan yang ada bukan hanya terkait volatilitas nilai tukar, tetapi juga persepsi risiko terhadap Indonesia. Investor tidak hanya tertarik pada imbal hasil tinggi, tetapi juga pada keyakinan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap kredibel.”




