Forza Horizon 6 akhirnya membawa seri balapan yang sangat dinanti ini ke Jepang. Di game ini, pemain bisa menjelajahi versi negara yang sangat detail, bergaya, dan ringkas, mulai dari pusat kota Tokyo, landmark terkenal, hingga jalan-jalan postik di pedesaan dalam berbagai musim. Semuanya sambil menguji kemampuan mereka melawan pembalap lain.
Yang menarik, pemain bisa mendapatkan poin pengalaman dengan melampiaskan kemarahan di jalan dengan menabrakkan mobil ke kendaraan lain atau objek-objek di sekitarnya. Namun, dalam sebuah wawancara terbaru dengan The Japan Times, direktur desain Torben Ellert mengungkapkan bahwa meski banyak hal bisa hancur ketika ditabrak (entah itu disengaja atau karena belum mahir menikung), ada beberapa elemen budaya penting seperti kuil, candi, dan pohon sakura yang tidak bisa dihancurkan.
“Hampir semua pohon dalam game ini bisa dihancurkan untuk memastikan bahwa menjelajahi peta dunia terasa menyenangkan dan memuaskan,” jelas Ellert. “Namun, beberapa jenis pohon tidak bisa dihancurkan — misalnya, pohon sakura — karena itu adalah elemen ikonik budaya Jepang. Beberapa candi atau elemen budaya lainnya juga tidak bisa dihancurkan supaya pemain tidak tergoda untuk melintas di tempat-tempat yang secara budaya penting.”
Pohon sakura sangat penting secara historis dan budaya di Jepang, sering kali muncul sebagai simbol utama dalam sastra, seni, maupun puisi Jepang. Mekarannya yang berwarna pink menjadi tanda kelahiran kembali dan datangnya musim semi, serta pengingat tentang betapa singkatnya kehidupan. Di zaman dahulu, petani sering mengadakan persembahan dan pesta di bawah pohon sakura dengan harapan roh ladang memberikan hasil panen yang baik. Di tahun 800-an, cita rasa budaya ini mulai diadaptasi oleh kaisar dan bangsawan yang mengadakan pesta untuk menikmati keindahan bunga sakura. Tradisi ini kini berubah menjadi hanami — pesta melihat sakura di mana orang berkumpul untuk piknik di bawah pohon dan menikmati mekarnya bunga-bunga tersebut.
Pohon sakura di dunia nyata sangat rentan terhadap kerusakan. Mengganggu atau menggoyang cabang pohon sakura di taman umum bisa dikenakan denda di Jepang. Selain itu, beberapa pohon paling tua di negara ini berusia lebih dari 1.000 tahun dan dilindungi sebagai harta alam oleh pemerintah (seperti Uozumi Zakura di Gifu). Mempertimbangkan pentingnya budaya ini menjadi alasan mengapa studio dari Inggris, Playground Games, memutuskan untuk membuat pohon sakura menjadi tidak bisa dihancurkan di Forza Horizon 6.
Mengenai candi dan kuil, tahun lalu, Assassins Creed Shadows mendapat banyak kritik menjelang rilis di Jepang karena preview yang menunjukkan pemain bisa menghancurkan candi. Ubisoft pun mengatasi hal ini dalam day-one patch yang membuat objek candi tidak bisa dihancurkan dan mencegah NPC tanpa senjata mengeluarkan darah saat diserang (sehingga mencegah terjadinya pertumpahan darah di tempat yang sakral). Para pengembang Forza Horizon 6 memilih untuk sensitif terhadap budaya mengenai apa yang boleh dilakukan pemain pada situs-situs religi dan budaya.
“Jepang sudah ada dalam daftar kami untuk beberapa game sekarang,” ujar Ellert kepada The Guardian. “Tapi kami merasa belum siap untuk mengambil tantangan membuatnya.” Tim melakukan riset mendalam untuk game ini, hingga ke detail terkecil, dengan merekrut ahli termasuk konsultan budaya dan mantan duta besar Porsche, Kyoko Yamashita, untuk menyarankan tentang penggambaran Jepang dan dunia balapnya. “Karena ini adalah budaya yang sering kita lihat, ada godaan untuk berpikir bahwa kita tahu lebih baik daripada yang sebenarnya, itulah sebabnya kami sangat berusaha untuk mendapatkan arahan dari orang lain jika kami melenceng,” tambah Ellert.
Untuk para pemain yang sudah memesan edisi premium Forza Horizon 6, mereka sudah bisa merasakan gameplay-nya, sementara game ini resmi rilis pada PS5, Xbox Series X/S, dan PC pada 19 Mei. Sambil menunggu, jangan lewatkan ulasan Forza Horizon 6 yang diberikan oleh IGN.


