Perusahaan produksi asal Australia, Titantale Film, sedang sibuk menggarap film “Tanabata: The Evening of the Seventh,” sebuah drama romansa supernatural yang dibintangi aktor Jepang, Yamada Takayuki.
Proyek ini sepenuhnya didanai dari Australia dengan bantuan layanan produksi di Jepang, mengambil latar di tiga periode sejarah yang berbeda: Jepang periode Edo, New South Wales tahun 1865, dan Australia tahun 2027. Cerita ini mengikuti perjalanan tiga inkarnasi dari jiwa yang sama dalam siklus karmic cinta dan kepemilikan. Penulis sekaligus sutradara Gillian Roberts berperan sebagai produser eksekutif bersama produser Sabin Gnawali.
Dalam film ini, Yamada, yang dikenal secara internasional berkat serial Netflix “The Naked Director,” memerankan tokoh utama, Takayuki. Aktor Australia, Amelia Zadro dan Caspar Hardakar, turut berperan sebagai Kotori dan Charmerae.
Produksi film ini dimulai dengan pemblokiran pertama yang selesai pada Desember 2025. Pemblokiran kedua di Jepang akan dimulai pada 20 Mei tahun ini, sementara pemblokiran ketiga dijadwalkan pada bulan Oktober di Australia.
“‘Tanabata: The Evening of the Seventh’ berasal dari keyakinan bahwa dunia batin kita juga ada dalam dunia luar yang melintasi waktu, ruang, dan dimensi,” ungkap Roberts. “Tanabata, yang diperingati di Jepang pada tanggal 7 Juli, menjadi pusat emosional dan spiritual yang sempurna untuk cerita tentang cinta, memori, dan koneksi yang melampaui satu kehidupan. Film ini mengikuti tiga jiwa di Jepang periode Edo, New South Wales tahun 1865, dan Australia tahun 2027, di mana setiap kehidupan menyimpan jejak emosional dari kehidupan sebelumnya. Saya ingin menciptakan drama romantis yang puitis secara visual dengan sentuhan supernatural dan sci-fi, di mana lanskap, warisan, dan kekuatan tak terlihat membentuk perjalanan karakter.”
Logline film ini berfokus pada karakter Yamada – seorang raja teknologi Jepang yang kuat dalam alur cerita modern – yang menemukan inkarnasi modern dari wanita yang telah ia cintai dan coba miliki selama berabad-abad. Pada malam Tanabata, obsesinya membuka portal yang menarik mereka berdua kembali ke siklus yang seharusnya bisa mereka hindari.
“‘Tanabata’ adalah kesempatan langka untuk membangun film fitur Australia–Jepang dengan skala yang autentik, spesifikasi budaya, dan ambisi internasional yang nyata,” jelas Gnawali. “Yamada Takayuki membawa kehadiran dan pengakuan yang luar biasa untuk proyek ini, dan keterlibatannya memberi film ini jembatan yang berarti antara penonton Jepang dan pasar global yang lebih luas. Saya berharap proyek ini juga bisa membuka lebih banyak peluang untuk kolaborasi kreatif dan komersial antara Australia dan Jepang.”



