[KUALA LUMPUR] Sektor manufaktur Malaysia lagi-lagi menghadapi tekanan yang semakin berat. Krisis di Timur Tengah telah meluas, tidak hanya mengganggu pengiriman, tetapi juga memicu kelangkaan bahan baku, penurunan permintaan, kesulitan arus kas, dan risiko kehilangan pekerjaan. Ini merujuk pada berbagai laporan yang dirilis oleh Federasi Manufaktur Malaysia (FMM) pada 7 Mei kemarin.
Hasil survei menunjukkan kalau kondisi semakin memburuk. Dari 225 responden, 72 persen mengaku mengalami penurunan kondisi operasional sejak awal April, dan 22 persennya menggambarkan penurunan ini cukup signifikan.
“Apa yang awalnya hanyalah gangguan logistik dan pengiriman kini telah menyebar ke seluruh rantai nilai manufaktur, memengaruhi ketersediaan bahan baku, perencanaan produksi, keputusan investasi, dan lapangan kerja,” ujar Presiden FMM, Jacob Lee.
Survei ini menyoroti kekhawatiran yang semakin mendalam mengenai kelangkaan bahan baku penting, khususnya bahan baku petrokimia, bahan kimia industri, resin, logam, dan bahan kemasan.
Deplesi Inventaris Mengancam Produksi Pabrik
Situasi inventaris jadi kritis, hanya 40 persen responden yang memiliki satu hingga dua bulan pasokan bahan esensial, sementara 35 persen hanya punya pasokan kurang dari tiga minggu.
Untuk mengatasi kelangkaan ini, 72 persen perusahaan mencari alternatif dari China, diikuti oleh pemasok lokal di Malaysia sebanyak 40 persen, dan India serta Thailand masing-masing 16 persen.
Namun, transisi ini belum mudah, sebagian besar karena perbedaan kualitas atau spesifikasi yang dilaporkan oleh hampir setengah dari perusahaan yang disurvei.
Temuan ini juga memperlihatkan tanda-tanda tekanan yang lebih luas di sektor manufaktur. Indeks manajer pembelian sektor manufaktur Malaysia mencatatkan angka tertinggi dalam empat tahun terakhir pada bulan April. Namun, ekonom mengingatkan bahwa perbaikan ini lebih didorong oleh penimbunan stok sebagai langkah antisipasi, bukan karena permintaan yang kuat, karena perusahaan dan pelanggan berlomba-lomba membangun inventaris aman di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah.
Dalam laporan terbaru, Bank Kenanga Investment mengatakan bahwa biaya logistik, energi, dan bahan yang terus tinggi serta keterlambatan pengiriman akan tetap menjadi tantangan besar, terutama saat dampak dari ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah mulai terlihat.
Berdasarkan data dari S&P Global, inflasi biaya input meningkat pesat hingga mencapai titik tertinggi dalam 45 bulan terakhir, akibat naiknya harga energi dan bahan baku. Ini juga membuat harga output melonjak, yang menunjukkan bahwa produsen semakin meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
Performa Ekonomi Di Tengah Ketidakpastian
Tekanan yang terus menerus pada manufaktur datang bersamaan dengan ketidakpastian yang meningkat dalam proyeksi ekonomi Malaysia secara umum.
Menurut estimasi resmi, ekonomi Malaysia diperkirakan tumbuh sebesar 5.3 persen secara tahunan di kuartal pertama 2026, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 6.3 persen di kuartal terakhir 2025, seiring dengan penurunan aktivitas di sektor manufaktur dan jasa setelah eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan besar-besaran AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
MBSB Research mempertahankan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Malaysia yang melambat ke angka 4.2 persen tahun ini, dari 5.2 persen pada tahun 2025, dengan permintaan domestik diharapkan tetap sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Sementara itu, Bank Negara Malaysia memperkirakan pertumbuhan ekonomi antara 4 hingga 5 persen di tahun 2026 dan tidak mengubah Tingkat Kebijakan Dasar (OPR) di angka 2.75 persen. Pada pertemuan terakhir, bank sentral menyoroti ketidakpastian yang semakin meningkat seputar pertumbuhan dan inflasi akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Kenaikan Biaya Pengangkutan dan Tekanan Arus Kas
Dalam kondisi ini, biaya pengiriman dan logistik masih sangat tinggi. Sekitar 87 persen responden dalam survei FMM melaporkan kenaikan biaya pengiriman dibandingkan dengan sebelum konflik terjadi, di mana lebih dari setengahnya mengalami kenaikan hingga 50 persen.
Rute pengiriman ke Eropa juga mengalami perpanjangan drastis karena pengalihan jalur menuju Tanjung Harapan. Sekitar 86 persen responden mengatakan waktu transit kini berlangsung antara 35 hingga 45 hari, dibandingkan sebelumnya yang kurang dari 30 hari.
Survei juga menyoroti terjadinya kemacetan logistik domestik, terutama antara Pasir Gudang dan Pelabuhan Tanjung Pelepas, di mana para produsen mengeluhkan penundaan pengiriman akibat kehabisan kuota diesel yang mengganggu pergerakan kargo.
Tekanan finansial juga semakin mendalam di seluruh sektor; 68 persen responden melaporkan stres arus kas, akibat dari jangka waktu pembayaran pemasok yang lebih singkat, keterlambatan pembayaran dari pelanggan, dan waktu pengiriman yang lebih panjang.
Usaha Kecil dan Pekerjaan Terancam
Pasar tenaga kerja juga merasakan dampak, sekitar 28 persen responden menyatakan bahwa mereka telah melakukan atau merencanakan penyesuaian jumlah tenaga kerja akibat krisis.
Langkah-langkah yang umum dilakukan termasuk pengurangan lembur, jam kerja yang lebih pendek, dan penghentian perekrutan, sementara 5 persen melaporkan pemutusan hubungan kerja.
Usaha kecil dan menengah (UKM) tampak sangat rentan, dengan FMM memperingatkan bahwa tekanan biaya yang berkepanjangan dan permintaan yang lemah bisa mendorong pengurangan operasional sementara menjadi pemutusan kerja permanen.
Namun, FMM menghargai respons pemerintah terhadap krisis, termasuk pembentukan Tim Tanggap Krisis, pertemuan mingguan Dewan Tindakan Ekonomi Nasional, dan pengenalan fasilitas bantuan stabilisasi UKM senilai RM5 miliar oleh Bank Negara Malaysia.
Lee dari FMM memperingatkan bahwa dampak yang lebih luas dari krisis ini mungkin baru akan terlihat seiring berjalannya waktu. “Efek-efek ini tidak akan terasa segera, tetapi akan muncul pada produktivitas dan daya saing industri dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” tegasnya.

