Setengah dari pekerja di Amerika Serikat sekarang mengaku menggunakan teknologi AI dalam pekerjaan mereka. Ini adalah tanda bahwa adopsi AI sudah mencapai titik kritis untuk pertama kalinya. Menurut penelitian baru dari Gallup, 50% karyawan melaporkan telah memanfaatkan alat AI di tempat kerja dengan berbagai cara. Angka ini naik 4% dari kuartal sebelumnya dan meningkat 21% dari tiga tahun lalu.
Yang menarik, suasana hati karyawan tentang penggunaan AI di tempat kerja tampaknya berubah, dengan banyak pekerja yang mulai lebih menerima teknologi ini meskipun ada risiko yang ditimbulkannya terhadap pekerjaan mereka.
Penerimaan AI
Survei Gallup yang berlangsung dari 4 hingga 19 Februari 2026 ini melibatkan 23.717 karyawan di AS. Mereka ditanya seberapa sering menggunakan AI dalam peran mereka dan apa pengaruhnya terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan AI di tempat kerja terus meningkat, dengan 13% karyawan mengatakan mereka menggunakan AI setiap hari, sementara 28% lainnya melaporkan menggunakan AI beberapa kali dalam seminggu atau lebih.
Dari sisi bisnis, tampaknya banyak organisasi mulai beradaptasi dengan perubahan ini. Sekitar 41% karyawan melaporkan bahwa perusahaan mereka telah mengintegrasikan AI untuk meningkatkan praktik organisasi, meningkat tiga poin dari kuartal sebelumnya. Karyawan yang berada di perusahaan yang ramah AI lebih cenderung melaporkan adanya “gangguan” serta perubahan baik positif maupun negatif dalam jumlah staf, diiringi peningkatan produktivitas.
Meski demikian, hanya sekitar satu dari sepuluh karyawan di perusahaan yang mengadopsi AI yang setuju sepenuhnya bahwa teknologi ini telah mengubah cara kerja di organisasi mereka. Survei tersebut menemukan bahwa 27% karyawan di perusahaan yang menerapkan AI menyatakan bahwa tempat kerja mereka telah berubah secara mendasar dalam setahun terakhir, dibandingkan dengan hanya 17% di perusahaan yang tidak mengadopsi AI.
Di sisi lain, semakin banyak pekerja yang menyuarakan kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap pekerjaan mereka. Data mencengangkan menunjukkan bahwa 18% dari semua karyawan yang disurvei merasa pekerjaan mereka mungkin akan hilang dalam lima tahun ke depan akibat AI atau otomatisasi.
“Sebagian besar karyawan yang menggunakan AI melaporkan peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi, terutama di posisi kepemimpinan dan berbasis pengetahuan di mana mereka dapat dengan mudah menerapkan AI dalam tugas sehari-hari,” ungkap Gallup dalam laporannya. “Namun, bagi banyak pekerja, manfaat ini tampaknya hanya terlihat pada tingkat tugas individual, bukan pada sistem kerja yang lebih luas. Meskipun ada beberapa laporan tentang efek transformasional, relatif sedikit yang mengatakan bahwa AI telah mengubah cara kerja secara fundamental di organisasi mereka.”


