Salah satu sosok penting di balik kebangkitan AI adalah Jensen Huang, co-founder dan CEO Nvidia. Perusahaan yang dipimpin Huang ini memproduksi GPU yang unggul dalam pelatihan dan inference, serta menempatkan diri sebagai pemain utama dalam infrastruktur dan pengembangan energi. Seperti banyak tokoh terkenal lainnya, Huang juga punya pandangan mengenai risiko yang muncul dari teknologi ini.
Dalam sebuah wawancara di podcast No Priors, Huang mengungkapkan keprihatinannya terhadap narasi “doomer” yang marak beredar. Dia berpendapat, banyak pernyataan yang melukiskan AI sebagai ancaman serius bagi manusia, justru menciptakan ketakutan yang tidak perlu.
“Saya rasa kita sudah melakukan banyak kerusakan dengan melibatkan orang-orang terhormat yang melukiskan narasi kelam, seperti akhir dunia dan tema fiksi ilmiah. Saya menghargai bahwa banyak dari kita tumbuh dan menikmati fiksi ilmiah, tapi itu tidak membantu.” — Jensen Huang, Januari 2026
Risiko Eksistensial AI
Tidak bisa dipungkiri, dengan hadirnya teknologi baru, AI juga membawa banyak risiko saat diterapkan secara masif. Namun, tampaknya risiko yang dihadapi AI jauh lebih mendapat perhatian dibandingkan teknologi lainnya. Huang menegaskan bahwa banyak ketakutan ini terlalu berlebihan dan lebih dipengaruhi oleh cerita fiksi ilmiah dari abad ke-20.
Pada tahun 2023, sekelompok ilmuwan dan pemimpin industri teknologi menandatangani surat terbuka yang memperingatkan kemungkinan AI dapat menyebabkan kepunahan umat manusia. Mereka bahkan mengaitkan risiko ini dengan ancaman berskala masyarakat lainnya, seperti perang nuklir. Di antara penandatangan surat ini terdapat nama-nama besar seperti Elon Musk, Sam Altman, dan Bill Gates, tetapi Huang berada dalam daftar yang absen.
Pandangan Huang, seperti yang ia sampaikan dalam podcast tersebut, adalah bahwa banyak ketakutan ini berakar dari kemungkinan kecerdasan buatan umum (AGI) yang masih sangat spekulatif. AGI seharusnya bisa mereplikasi kecerdasan manusia, bertindak secara otonom, memodifikasi kode sendiri, serta menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
Apakah Risiko Sungguh Berlebihan?
Banyak ketakutan yang berkaitan dengan AI tidak berhubungan dengan kemampuan AI saat ini, melainkan lebih kepada apa yang mungkin terjadi di masa depan. Meskipun hasilnya bisa sangat mencolok, namun saat ini ketakutan-ketakutan tersebut masih jauh dari kenyataan dan mungkin tidak akan terwujud dalam 10 atau 15 tahun ke depan. Beberapa bahkan berpendapat bahwa itu bisa terjadi jauh lebih cepat. Namun, Huang berpendapat bahwa penerapan AI saat ini masih terlalu primitif dan terlalu bergantung pada bantuan manusia agar kita tidak kehilangan kontrol.
Walau begitu, AI yang bersifat agentic memberikan lapisan baru dalam tatanan korporat, yang semakin banyak diadopsi oleh organisasi dan mungkin akan rentan terhadap eksploitasi di masa mendatang. Ini adalah tantangan nyata yang harus dihadapi di era teknologi yang terus berkembang pesat.



