Setelah pensiunnya Kathleen Kennedy pada bulan Februari tahun ini, Dave Filoni—yang merupakan protégé lama George Lucas—dilantik sebagai Co-President Lucasfilm, berbarengan dengan Lynwen Brennan. Kabar yang beredar mengatakan bahwa Brennan akan lebih fokus pada operasi bisnis, sementara Filoni akan mengurusi sisi kreatif. Ini cukup masuk akal, mengingat ia diangkat sebagai Chief Creative Officer Lucasfilm pada tahun 2023. Namun, saat berita ini diumumkan, ada kekhawatiran tentang bagaimana perubahan kepemimpinan ini akan memengaruhi film dan serial Star Wars. Kita tahu, Kennedy juga sempat menghadapi banyak kritik dan tantangan dalam kariernya.
Perubahan selalu bikin sedikit gugup, apalagi di komunitas penggemar Star Wars yang sudah terbiasa dengan drama dan ketegangan. Beberapa penggemar jadi khawatir karena Filoni lebih sering fokus pada karakter-karakter ciptaannya—seperti Ahsoka Tano dan Ezra Bridger—daripada mengeksplorasi ide-ide baru. Apalagi dengan pernyataan terakhir Filoni mengenai Darth Vader setelah kemunculannya di Star Wars: Maul – Shadow Lord, lagi-lagi muncul kekhawatiran di kalangan penggemar.
Dave Filoni Melihat Anakin Skywalker dan Darth Vader Sebagai Karakter Berbeda
Serial TV terbaru Star Wars, Star Wars: Maul – Shadow Lord, baru saja menayangkan dua episode terakhirnya pada tanggal 4 Mei. Dalam dua episode tersebut, ada kemunculan mengejutkan: Darth Vader sendiri. Dalam sebuah adegan yang bikin merinding, suara napas berat Vader terdengar sebelum ia muncul dari bayangan. Disitu, ia berhadapan dengan Maul (bersama Devon dan Master Eeko-Dio Daki). Menariknya, banyak penggemar yang berharap ada dialog seru antara Maul dan Vader, tapi Vader justru terdiam sepanjang adegan.
Mengenai pilihan ini, Filoni memberi penjelasan. Ia mengungkapkan, “Kunci bagi Vader bagi saya adalah dia bukan Anakin. Dia tidak mengenali itu. Dia tidak bisa. Apa pun yang mengingatkannya pada Anakin, dia akan hancurkan. Jadi ketika dia melihat Jedi, dia akan menghancurkan Jedi, karena Jedi akan mengingatkannya, baik secara sadar maupun tidak sadar, bahwa dia telah mengkhianati semua temannya dan seluruh hidupnya.”
Filoni melanjutkan, “Kuncinya bukan memberi [Vader] karakter. Dia tidak peduli. Darth Vader tidak peduli. Dia tidak memiliki belas kasihan. Dia tidak melihatmu. Yang dia lihat hanyalah sesuatu yang ingin dia hancurkan.”
Ada beberapa hal dalam pernyataan Filoni yang memang benar dan penting untuk ditangkap oleh audiens agar lebih memahami Anakin sebagai karakter. Namun, ada juga aspek yang terasa aneh karena merasa tidak sesuai. Poin paling penting adalah anggapan bahwa Vader dan Anakin bukanlah orang yang sama, yang dalam konteks literal maupun figuratif, terasa salah. Selain itu, ide bahwa Vader tidak memiliki karakter dan tidak peduli juga terasa sangat jauh dari kebenaran.
Melihat Anakin dan Vader Sebagai Satu adalah Kunci dari Karakter Mereka
Hal ini juga dimulai dari trilogi asli, yang menegaskan bahwa Jedi yang kembali adalah Anakin. Di Return of the Jedi, Vader merepresentasikan perpecahan yang sama antara Anakin Skywalker si Jedi dan Darth Vader si Sith. Dalam semua contoh ini, Anakin tidak pernah benar-benar menjadi karakter yang terpisah dari Darth Vader. Iya, dia telah merangkul sisi gelap dari Force, dan dengan cepat diracuni oleh kemarahan dan kebencian. Namun, di bawah semua itu, dia tetap Anakin.
Sebenarnya, ini adalah aspek penting dari karakter Anakin, dan inilah alasan mengapa argumen bahwa Anakin jatuh terlalu cepat tidak selalu valid. Jatuhnya Anakin ke sisi gelap tidak tiba-tiba. Star Wars: The Clone Wars mungkin adalah proyek Star Wars yang paling efektif menunjukkan hal ini, tetapi bahkan sepanjang trilogi prekuel, audiens bisa melihat langkah demi langkah menuju kejatuhan Anakin yang total.
Dia membunuh orang Tusken di Star Wars: Episode II – Attack of the Clones. Dia mengalahkan lawan dan hampir membunuh Rush Clovis di The Clone Wars. Dia sudah memiliki sisi yang cacat, marah, dan penuh kekerasan, bahkan jauh sebelum menjadi Vader. Namun, penting juga untuk melihat sisi lain dari Anakin—sisi yang dimanipulasi oleh Palpatine dan, meskipun mungkin kontroversial untuk disebutkan, diperlakukan tidak adil oleh Jedi sejak kedatangannya di Coruscant dalam Star Wars: Episode I – The Phantom Menace.
Penting untuk dipahami bahwa semua sifat berbeda dan pengalaman yang sangat bervariasi ini (misalnya, membandingkan pembantaian Anakin terhadap orang Tusken dengan kebaikan yang dia tunjukkan sebagai seorang anak) adalah bagian dari Anakin. Dan, sama pentingnya, semua elemen ini memengaruhi kejatuhannya ke sisi gelap, dan juga merupakan faktor ketika dia kembali ke sisi terang.
Apakah Dave Filoni Benar-Benar Memahami Darth Vader?
Akhirnya, pernyataan Filoni ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa jauh dia benar-benar memahami karakter ini—sebuah pertanyaan penting, mengingat Star Wars kini banyak ada di tangannya. Memang benar Anakin tidak bisa menghadapi apa yang telah dia lakukan dan terus berusaha menghancurkan apa pun yang mengingatkannya pada hidupnya yang lalu dan semua yang telah hilang.
Namun, itu sangat berbeda dari klaim Filoni bahwa Vader bukan Anakin. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Filoni mungkin memahami Anakin dengan cara yang salah dan apa yang membuat ceritanya begitu kuat dan menarik. Dan itu jelas menjadi kabar yang mengkhawatirkan untuk masa depan Star Wars.


