[JAKARTA] Indonesia bakal mulai mengekspor listrik bersih ke Singapura akhir tahun ini, menurut seorang pejabat investasi senior. Ini menjadi langkah menarik di tengah persiapan kedua negara untuk pertemuan para pemimpin yang diharapkan bisa memperdalam kerja sama ekonomi mereka.
Pandu Sjahrir, Kepala Investasi dari dana kekayaan negara Daya Anagata Nusantara, mengungkapkan bahwa proyek ini diperkirakan memerlukan investasi sekitar USD 30 miliar dan mampu menyediakan kapasitas energi terbarukan sekitar 3 gigawatt (GW). “Kami berharap dapat mulai mengekspor listrik terbarukan pada akhir tahun ini, dan inisiatif ini diharapkan menjadi salah satu proyek energi bersih terbesar di kawasan,” ujar Pandu, seperti dilansir media lokal.
Dana tersebut sedang mendekati beberapa perusahaan Singapura untuk menjajaki kemitraan pembiayaan proyek ini. Beberapa perusahaan juga sudah mendapatkan lisensi bersyarat dari Otoritas Pasar Energi Singapura untuk proyek yang akan mengimpor listrik rendah karbon dari Indonesia, dengan target operasi komersial pada 2029–2030. Salah satu perusahaan itu adalah Singa Renewables (Singa), sebuah usaha patungan antara RGE dan TotalEnergies.
Lebih dari sekadar mengekspor ke Singapura, Pandu juga menambahkan bahwa proyek energi terbarukan ini akan mendukung kebutuhan listrik domestik Indonesia saat pemerintah mengejar rencana ambisius untuk membangun kapasitas listrik hingga 100 GW dalam beberapa tahun ke depan.
Retret Para Pemimpin
Proyek ini diharapkan menjadi agenda penting dalam pertemuan bilateral mendatang antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. Dorongan untuk mengekspor listrik hijau juga dibahas dalam pertemuan di Jakarta antara Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, dan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, yang mencerminkan semakin dekatnya kerja sama energi antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara ini.
Setelah pertemuan, Sugiono menyatakan bahwa para menteri membahas berbagai inisiatif bilateral dan mempersiapkan pertemuan Retret Pemimpin Indonesia-Singapura yang merupakan pertemuan tahunan untuk menentukan arah kerja sama strategis. Salah satu fokus utama diskusi adalah memperkuat kolaborasi ekonomi, termasuk perdagangan listrik lintas batas dan investasi dalam pengembangan energi berkelanjutan.
“Kami berharap ini bisa menjadi proyek listrik terbesar, terutama proyek listrik berkelanjutan,” ujar Sugiono. Pembicaraan juga menyentuh tentang memperluas kolaborasi di bidang ketahanan pangan dan teknologi agribisnis, serta proyek pengembangan industri yang bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja.
Kedua pemerintah berencana untuk memperkuat kesuksesan zona industri bersama yang sudah ada, seperti yang ada di Batam, Bintan, dan Karimun, serta Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah, sembari menjajaki ekspansi ke zona industri berkelanjutan baru.
“Inisiatif-inisiatif ini bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga peluang untuk menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat kita, memperluas kesempatan, dan meningkatkan mata pencaharian,” jelas Sugiono.
Di pihak lain, Balakrishnan menekankan bahwa hubungan bilateral antara kedua negara tetap kuat dan saling menguntungkan, menyoroti bahwa Singapura telah konsisten menjadi mitra dagang utama dan investor asing terbesar bagi Indonesia selama lebih dari satu dekade. Pada kuartal pertama 2026, negara kota tersebut menyumbang bagian signifikan dari total investasi asing Indonesia yang mencapai 250 triliun rupiah (atau S$18,2 miliar), terutama di sektor industri hilir, logam dasar, transportasi, dan energi terbarukan.
Balakrishnan juga menyoroti peningkatan kerja sama di bidang ekonomi digital dan hijau, termasuk proyek seperti Nongsa Digital Park di Batam dan Kawasan Industri Kendal. Sumber daya energi terbarukan yang melimpah di Indonesia seperti solar, geotermal, dan tenaga air menjadikan negara ini berpotensi menjadi raksasa energi di kawasan, tambahnya.
“Saya melihat Indonesia sebagai superpower dalam energi,” ungkap Balakrishnan, menekankan peran Singapura sebagai pusat teknologi dan pembiayaan infrastruktur yang dapat melengkapi potensi energi Indonesia. Kedua pihak sedang berupaya untuk memajukan proyek perdagangan listrik lintas batas yang diluncurkan dalam pertemuan pemimpin sebelumnya, yang bertujuan untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan sembari mendukung transisi energi di Asia Tenggara.
Inisiatif semacam ini berpotensi juga berkontribusi pada rencana regional yang lebih luas, seperti Jaringan Listrik ASEAN, sebuah jaringan yang menghubungkan sistem kelistrikan di seluruh kawasan.

