Data terbaru dari GCheck mengungkap adanya ‘gaps’ kepercayaan terkait kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja. Banyak karyawan mengaku punya kemampuan AI yang tinggi, namun sebenarnya mereka merasa kurang percaya diri dengan kemampuan tersebut.
Sepertiga pekerja atau sekitar 63% mengakui telah mengada-adakan atau melebih-lebihkan keterampilan AI mereka untuk terlihat lebih kompeten. Tujuannya? Tentu saja, agar terlihat lebih layak untuk dipekerjakan atau dapat promosi.
Yang menarik, angka ini lebih tinggi di kalangan pekerja Gen Z, di mana empat dari lima—atau 80%—mengaku berlebihan. Ini menunjukkan bahwa pekerja muda merasakan tekanan lebih besar untuk terlihat siap menghadapi dunia AI dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih tua.
Ada Banyak Alasan Dibalik Kebohongan Ini
CEO GCheck, Houman Akhavan, menyatakan, “Pekerja sekarang menghadapi tekanan karier baru, di mana tampak mampu menggunakan AI semakin dianggap penting untuk daya saing dan keamanan pekerjaan.” Hanya satu dari tiga pekerja yang merasa bisa dengan percaya diri melakukan semua keterampilan terkait AI yang mereka klaim. Kebohongan ini tidak hanya terjadi di resume, lho!
Banyak yang mengaku berbicara percaya diri tentang AI di rapat (40%), supaya tidak terlihat ketinggalan. Mereka membiarkan rekan-rekan berasumsi bahwa mereka lebih terampil dari yang sebenarnya (33%), bahkan mengambil kredit untuk pekerjaan yang dibantu AI sepenuhnya sebagai hasil kerja mereka sendiri (25%). Beberapa bahkan mengaku mendaftar untuk tugas terkait AI yang sebenarnya tidak mereka kuasai (18%) atau langsung berbohong tentang pengalaman dengan AI (16%).
Menariknya, 76% dari mereka menyatakan bahwa mereka hanya berlebihan karena berencana untuk mempelajari keterampilan tersebut di masa depan. Dan, 70% percaya bahwa orang lain di industri juga melakukan hal yang sama, sehingga perilaku ini menjadi dianggap norma.
Ketakutan Juga Memicu Kebohongan
Namun, GCheck menjelaskan bahwa karyawan tidak semata-mata berbohong demi jabatan atau promosi. Ketakutan juga menjadi faktor besar, di mana 69% mengkhawatirkan bahwa AI akan mengotomatiskan bagian dari pekerjaan mereka dalam dua tahun ke depan. Lebih dari separuh karyawan (52%) juga khawatir akan terlihat kurang kompetitif saat terjadi pemecatan, sementara 46% merasa terancam dipecat jika tidak mengembangkan keterampilan AI.
Ketakutan ini tercermin dalam perilaku mereka di tempat kerja: 53% memilih metode manual dibandingkan menggunakan AI, dan 24% menganggap alat AI tidak berguna meskipun sebenarnya membantu. “Ketidakselarasan ini menimbulkan risiko bagi organisasi dan ketidakpastian bagi pekerja yang berusaha mengikuti perubahan cepat,” tambah Akhavan.
Temuan ini menunjukkan bahwa manajer mungkin tidak menyadari kebohongan yang terjadi, sekitar 64% pekerja berkata bahwa atasan mereka belum pernah mencoba memverifikasi keterampilan AI mereka. Sekitar 47% pekerja juga meminta kejelasan lebih tentang penggunaan AI saat proses perekrutan. Selain itu, satu dari tiga (29%) menyatakan bahwa jika perusahaan transparan tentang pemeriksaan keterampilan, mereka akan lebih jujur tentang kemampuan mereka.
Laporan ini menunjukkan adanya suasana kerja di mana karyawan merasa terancam menjadi usang. Sudah saatnya ada perubahan budaya untuk menormalkan adopsi kecerdasan buatan dan meyakinkan pekerja bahwa dengan keterampilan yang tepat, mereka akan tetap relevan.
“Kecemasan otomasi bukan hanya tentang kehilangan pekerjaan. Ini membentuk perilaku, mendistorsi sinyal keterampilan, dan menantang kredibilitas tenaga kerja modern,” tutup laporan tersebut.




