Di suatu malam yang penuh makna di tahun 2012, seseorang melangkah masuk ke dalam Friends, sebuah bar gay yang terletak di daerah Jongno, Seoul. Ia merasa geli ketika mendengar seseorang berbicara dalam bahasa Inggris. Di antara dua kawasan gay utama di Seoul, turis biasanya lebih memilih kawasan Itaewon yang penuh gemerlap, sementara para penduduk lokal seperti dia lebih suka bar-bar yang lebih santai di Jongno. Tempat ini biasanya menjadi rumah bagi mereka yang mencari suasana yang lebih intim. Mendengar orang asing yang berbicara bahasa Inggris di tempat favoritnya seperti suara gergaji di telinga. Namun, setelah ia duduk di bar dan menoleh ke arah suara yang mengganggu itu, ia langsung terpesona oleh pembicara tersebut.
Pembaca, pria itu dan ia merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke sepuluh bulan Juli mendatang.
Gimana sih kehidupan gay di Seoul? Cara paling mudah untuk menyelaminya adalah dengan membaca Love in the Big City karya Sang Young Park, yang diterjemahkannya dari bahasa Korea ke bahasa Inggris. Buku ini secara jujur menggambarkan suka dan duka cinta sebagai seorang queer muda di ibu kota Korea Selatan. Dalam sebuah acara peluncuran buku ini di Bristol, Inggris, seorang penonton bertanya tentang rahasia hubungan queer yang panjang dan sukses. Meskipun bertentangan dengan pengalamannya sendiri, ia menjawab, “Jangan menikahi pria Korea.” Sang Young pun setuju—katanya, orang Korea kadang terlalu neurotik dan merasa berhak. Namun, bagi yang ingin bergaul dengan orang-orang gay di Seoul saat berkunjung, jangan terjebak dalam gelembung turis Itaewon, melainkan singgahlah di stasiun Jongno 3-ga (jalur 1, 3, dan 5) di malam akhir pekan!
Terletak di jantung kota dan berbeda dekat dengan istana-istana tua seperti Gyeongbokgung dan Changgyeonggung, Jongno memiliki sejarah panjang sebagai pusat kehidupan malam gay (Friends adalah salah satu bar gay tertua di Korea Selatan, berdiri sejak 2004, menurut Instagram-nya). Di tahun 2000-an dan awal 2010-an, sebelum adanya aplikasi kencan gay, sepanjang Donhwamunro 11-gil—jalan yang membentang di sisi selatan Desa Hanok Ikseondong di Jongno—penuh dengan pedagang “pocha” soju. Ini menciptakan momen ikonik ketika mereka yang mencari tteokbokki dan tempura bersantai di bawah atap plastik. Suasana di Jongno Pocha Street dipenuhi oleh pengunjung gay yang berbincang dan menikmati makanan hingga larut malam, menciptakan suasana pesta luar ruangan yang meriah dengan soju murah dan ikan bakar.
Setiap sudut di Jongno memiliki daya tarik tersendiri. Bar dan pocha berjejer rapi, menawarkan tempat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan dalam banyak hal, merayakan diri sendiri tanpa rasa takut. Atmosfer yang inklusif ini juga didukung oleh kehadiran bar-bar kecil yang ramah, memberikan ruang bagi mereka yang merasa terpinggirkan di tempat lain. Bar-bar seperti Friends telah menjadi salah satu tempat favorit karena menawarkan nuansa yang lebih hangat dan akrab. Di sini, Anda bukan hanya sekadar pengunjung, tetapi bagian dari komunitas yang merayakan keanekaragaman.
Waktu berlalu, tapi semangat dan energi kehidupan malam gay di Jongno tetap hidup. Neon-nya yang berkilau membuat kawasan ini terasa semakin hidup saat malam tiba. Bukan hanya sekadar tempat berkumpul, Jongno menjadi simbol kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa harus khawatir dengan penilaian dari orang lain. Ada rasa camaraderie yang kuat di antara mereka, dan banyak yang telah membentuk persahabatan yang bertahan selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, Jongno bukan hanya destinasi; ini adalah pengalaman yang membekas. Menghadiri kehidupan malam di sini bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga merasakan gaya hidup dan kehangatan komunitas queer yang seolah tak terbatas. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Seoul, Jongno adalah tempat yang wajib singgah—di mana setiap detik penuh dengan potensi untuk menemukan cinta, persahabatan, dan tentunya, kesenangan yang tanpa henti.



