Beranda News Harga Beras Asia Melonjak Tinggi, Dampak Perang Iran Mengancam Pasokan!
News

Harga Beras Asia Melonjak Tinggi, Dampak Perang Iran Mengancam Pasokan!

Bagikan
Harga Beras Asia Melonjak Tinggi, Dampak Perang Iran Mengancam Pasokan!
Bagikan

Harga beras putih Thailand yang terputus 5% meroket hingga 10% menjadi US$423 per ton pada pekan yang berakhir pada 8 April. Ini adalah lonjakan terbesar sejak Agustus 2023 dan menandakan kekhawatiran terhadap prospek pasokan beras di pasar.

Beras sebagai salah satu bahan pokok sangat dipengaruhi oleh kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk akibat konflik di Iran, yang membuat beberapa petani di Thailand memilih untuk tidak memanen hasil pertanian mereka. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat harga beras meningkat tajam.

Oscar Tjakra, analis senior komoditas di Rabobank yang berbasis di Singapura, menyatakan bahwa banyak petani di Thailand telah menghentikan penanaman beras. Kenapa? Karena keuntungan yang mereka dapatkan tidak cukup untuk menutupi biaya yang terus meroket. Situasi ini diperburuk oleh musim kemarau yang panjang, yang mengakibatkan hasil panen menurun dan ketersediaan pasokan semakin ketat.

Fana – Inline Article Ads

Menurut Tjakra, penguatan nilai baht dan tingginya biaya pengiriman serta asuransi yang diakibatkan oleh perang di Timur Tengah sangat berkontribusi terhadap lonjakan harga beras ini. Kenaikan harga beras tentunya menjadi perhatian tidak hanya bagi petani, tetapi juga bagi konsumen di seluruh dunia, yang kini sedang menghadapi tantangan untuk mendapatkan bahan makanan pokok.

Baca juga  Reaksi Giselle aespa Terhadap Rumor "Wajah Baru" Picu Beragam Tanggapan Fans!

Thailand memang dikenal sebagai eksportir beras terbesar ketiga di dunia, sesuai data dari Departemen Pertanian AS. Saat ini, petani di negara tersebut, serta di kawasan sekitarnya, sedang memanen hasil panen off-season mereka dan bersiap untuk penanaman tanaman utama yang dimulai seawal Mei.

Di tengah situasi ini, terdapat harapan kecil dari Presiden AS, Donald Trump, yang mengindikasikan bahwa ia mungkin akan mengakhiri konflik dengan Iran. Jika hal ini terjadi, bisa memberikan sedikit kelegaan pada pasar secara keseluruhan. Namun, perlu waktu untuk aliran energi kembali normal melalui Selat Hormuz.

Fana – Inline Article Ads

Dalam kondisi ini, kemungkinan besar biaya input akan tetap tinggi lebih lama, yang dapat berdampak pada produksi beras. Semua faktor ini berpadu membentuk sebuah gambaran yang cukup menantang untuk industri beras, yang jelas akan berpengaruh pada setiap orang, mulai dari petani hingga konsumen.

Dengan semua kejadian ini, pasar beras menjadi lebih kompleks dan membuat banyak pihak harus memperhatikan perkembangan dengan seksama. Baik di tingkat lokal maupun global, pemangku kepentingan harus bersiap menghadapi fluktuasi harga dan ketersediaan yang bisa mengubah wajah pasar pangan kita ke depannya.

Baca juga  KL dan JB Siap Banjiri Mall Mall Padat di Malaysia!
Fana – Inline Article Ads
Bagikan
Berita terkait
BTS V Terima Kritikan Pedas atas “Visual Penuaan” yang Tak Disensor!
News

BTS V Terima Kritikan Pedas atas “Visual Penuaan” yang Tak Disensor!

Baru-baru ini, komentar tentang BTS V yang mengomentari penampilan fisiknya berbalik menjadi...

STT GDC Perluas Pusat Data Jakarta untuk Dorong Pertumbuhan AI di Indonesia!
News

STT GDC Perluas Pusat Data Jakarta untuk Dorong Pertumbuhan AI di Indonesia!

[SINGAPURA] Penyedia pusat data ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) baru...

Pengakuan "Mabuk" Jung Kyung Ho Tentang Sooyoung Girls' Generation Viral Setelah Putus Cinta!
News

Pengakuan “Mabuk” Jung Kyung Ho Tentang Sooyoung Girls’ Generation Viral Setelah Putus Cinta!

Netizen Indonesia semua! Ada kabar yang bikin hati ini bergetar. Aktor Jung...

Aset Energi Terbarukan Senilai US$165 Miliar di ASEAN Terancam Risiko Iklim Tinggi: Laporan Terbaru
News

Aset Energi Terbarukan Senilai US$165 Miliar di ASEAN Terancam Risiko Iklim Tinggi: Laporan Terbaru

Dalam laporan terbaru dari Zurich Insurance yang dirilis pada 10 Juni, terungkap...