[KUALA LUMPUR] Dua mantan menteri Malaysia yang cukup terkenal, Rafizi Ramli dan Nik Nazmi Nik Ahmad, mengumumkan keputusan mengejutkan pada hari Minggu (17 Mei). Mereka bakal mengosongkan kursi parlemen dan keluar dari partai koalisi pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Anwar Ibrahim untuk bergabung dengan partai kecil yang akan mereka ambil alih.
Keputusan ini tentunya menjadi tantangan bagi Anwar, terutama di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pemilihan umum lebih awal tahun ini. Sebelumnya, Rafizi dan Nik Nazmi mundur dari kabinet tahun lalu setelah kalah dalam pemilihan internal partai, dan kini keputusan mereka menambah ketegangan di dalam partai.
Pemilihan umum selanjutnya dijadwalkan pada tahun 2028, tapi beberapa anggota parlemen menyebutkan pada bulan Maret bahwa pemilu bisa saja digelar lebih cepat, mungkin pada bulan Juli, bertepatan dengan beberapa pemilu negara bagian lainnya.
Anwar Akan Dengarkan Suara Tentang Waktu Pemilu
Dalam sambutannya di konvensi kepemimpinan partai koalisinya, Pakatan Harapan, Anwar menyatakan dia akan mempertimbangkan untuk meminta pemilihan umum mendesak jika hubungan dalam pemerintahan persatuan terus terancam. Ini jelas menunjukkan betapa krusial situasi politik saat ini.
Pemerintahan persatuan ini terdiri dari koalisi berbagai partai, termasuk Barisan Nasional serta Pakatan Harapan dan lainnya. Anwar menekankan, “Tanggal pemilihan umum adalah keputusan perdana menteri, tapi saya harus mendengarkan nasihat dan pandangan dari teman-teman.” Ia menegaskan koalisinya akan ikut berkompetisi di semua negara bagian.
Rafizi Dikenal Sebagai Calon Penerus Anwar
Belum jelas apakah Anwar mengetahui bahwa Rafizi dan Nik Nazmi telah mengosongkan kursi parlemen pada saat dia memberikan pernyataan tersebut, karena dua peristiwa ini terjadi secara bersamaan. Rafizi, yang pernah menjabat sebagai menteri ekonomi, adalah sosok yang sebelumnya diharapkan menjadi penerus Anwar dalam Partai Keadilan Rakyat (PKR).
Rafizi dan Nik Nazmi mundur dari posisi kabinet mereka pada bulan Juni tahun lalu setelah kekalahan di pemilihan internal PKR. Sejak saat itu, Rafizi aktif mengkritik pemerintahan Anwar.
Dalam pengumuman bersama, Rafizi dan mantan menteri lingkungan, Nik Nazmi, menyatakan bahwa mereka akan mengosongkan kursi parlemen masing-masing pada hari Senin dan akan memberitahukan kepada ketua parlemen tentang pengunduran diri mereka. Keduanya juga mengumumkan akan secara resmi keluar dari PKR dan bergabung dengan Malaysian United Party, yang didirikan pada tahun 2016 dan lebih aktif di negara bagian Penang.
Dalam acara seremonial simbolis, mereka dihadiri oleh pendiri partai tersebut, Tan Gin Theam, yang menunjukkan rasa hormat dan dukungan terhadap langkah baru mereka. Pengunduran ini tentu memberi dampak besar pada lanskap politik Malaysia, sekaligus membentuk dinamika baru menjelang pemilu yang dinilai semakin dekat.

