Lebih dari setengah konsumen mengalami upaya penipuan setiap bulan, temuan F-Secure
Menurut penelitian terbaru dari F-Secure, penipuan online kini telah menjangkau lebih dari setengah konsumen, di mana 56% orang melaporkan telah menghadapi upaya penipuan setidaknya sekali dalam sebulan pada tahun 2025.
Data ini diambil dari laporan Scam Intelligence & Impacts yang disusun berdasarkan survei terhadap 10.000 konsumen. Hasilnya, separuh (52%) dari seluruh korban juga mengalami kerugian finansial akibat serangan tersebut.
Yang menarik, jumlah korban yang kehilangan uang akibat penipuan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Manusia vs AI
Untungnya, F-Secure mencatat bahwa paparan penipuan tidak lagi meningkat dengan cepat seperti sebelumnya. Namun, penipu semakin canggih dalam memonetisasi serangan, sehingga konsekuensinya bisa jadi lebih parah.
Meskipun setengah populasi menghadapi penipuan setiap bulan, data memperkirakan sekitar 40 juta orang Amerika juga terjebak dalam penipuan selama 12 bulan terakhir. Di 2024, Featurespace menemukan hampir 80 juta orang Amerika kehilangan uang akibat penipuan dalam lima tahun terakhir.
Penyerang kini lebih fokus untuk meraih hasil yang lebih besar, bukannya hanya melakukan upaya phishing tingkat rendah. Penipuan berupa faktur palsu, penipuan investasi, dan penipuan perbankan sangat populer selama setahun terakhir.
Tentunya, kepintaran buatan (AI) berperan besar dalam meningkatkan efektivitas banyak serangan. Para penjahat siber kini memiliki peluang lebih baik untuk menargetkan korban, melakukan penyamaran lebih dekat, serta mengurangi waktu dari konsep hingga serangan.
F-Secure juga mencatat bahwa banyak orang sekarang beralih ke chatbot AI untuk mendapatkan informasi tanpa memverifikasi keaslian informasi tersebut, sehingga meningkatkan kerentanan di era AI saat ini. Misalnya, ChatGPT pernah membagikan nomor telepon penipu kepada pengguna ketika ribuan penerbangan dibatalkan akibat badai musim dingin.
Menjaga Keamanan
Ke depan, perusahaan ini khawatir akan munculnya toko online palsu karena semakin banyak konsumen yang beralih ke AI untuk berbelanja online.
Belum lagi, penipu juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas ‘umpan’ mereka, mulai dari email yang dipersonalisasi, suara sintetis, hingga gambar dan video palsu.
Meskipun kepercayaan untuk mengenali penipuan tetap tinggi, lebih dari dua dari tiga orang (69%) percaya mereka bisa mengidentifikasi penipuan, namun 43% dari mereka justru menjadi korban.
Presiden dan CEO F-Secure, Timo Laaksonen, menulis, “Seiring dengan AI yang semakin mempengaruhi cara pengambilan keputusan dan cara penipuan dilakukan, semakin sulit bagi orang untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.”
Badan Perlindungan Konsumen (FTC) baru-baru ini memperingatkan bahwa media sosial menjadi saluran serangan yang semakin penting bagi para penjahat, dengan kerugian uang yang meningkat delapan kali lipat antara 2020 dan 2025. Di 2025, sekitar sepertiga (30%) dari semua warga Amerika yang kehilangan uang akibat penipuan mengatakan bahwa penipuan itu bermula dari media sosial.
Dari segi demografi, konsumen yang lebih muda cenderung mengalami lebih banyak upaya serangan, mungkin karena aktivitas online mereka yang meningkat, sementara generasi yang lebih tua cenderung kehilangan uang lebih banyak jika berhasil diserang.
Untuk masalah perlindungan konsumen, 93% setuju bahwa penting bagi penyedia telekomunikasi untuk menawarkan perlindungan, dan empat dari lima (82%) bahkan mengatakan ini dapat mempengaruhi pilihan provider mereka.
Laaksonen menyerukan “pergeseran dari perlindungan tradisional menuju pembangunan ketahanan dan kepercayaan yang sebenarnya di seluruh pengalaman digital.”

