Medan pertempuran Sekigahara tetap jadi salah satu situs sejarah paling penting di Jepang. Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lokasi ini terletak di wilayah Tokai, tengah Jepang, yang lebih dikenal sebagai pusat industri. Dengan Nagoya sebagai kota besar terdekat, bukannya jadi magnet wisata, area ini sering dilewatkan begitu saja oleh para pelancong.
Padahal, meskipun penulis tinggal di sini dan tahu ada banyak hal menarik di sekitarnya, terkadang tetap saja lupa. Terlebih ketika membahas sejarah, karena Tokai merupakan pusat dari berbagai drama yang terjadi di era Sengoku Jidai, sebuah periode saat berbagai panglima perang bertarung untuk menyatukan Jepang di bawah satu bendera.
Pertempuran yang menyita perhatian di Sekigahara terjadi pada 21 Oktober 1600 dan menandai akhir dari 150 tahun konflik. Di lembah terbuka yang kini jadi bagian dari Prefektur Gifu ini, dua kekuatan besar—Tokugawa Ieyasu dan Toyotomi Hideyori—beradu untuk menentukan siapa yang berhak menguasai Jepang.
Sekigahara: Kini dan Dulu
Bagi pecinta sejarah Jepang, mengunjungi Sekigahara sudah jadi impian lama. Setiap tahun, terutama saat mendekati ulang tahun di musim dingin, selalu berjanji, “Tahun ini aku akan ke sana,” hanya untuk menunda karena cuaca dingin. Namun, tahun ini, akhirnya kesampaian. Meskipun kota ini tidak se-woow yang diharapkan, pengalaman berada di sana tetap bikin merinding.
Sekarang, Sekigahara adalah kota kecil dengan sekitar 7.000 penduduk. Tapi lebih dari 400 tahun lalu, sekitar 150.000 prajurit berkumpul di lembah ini di bawah ribuan bendera klan. Estimasi sejarah menunjukkan bahwa puluhan ribu orang tewas dalam pertempuran yang memicu gelombang besar dalam sejarah Jepang ini.
Sebagai gambaran, di Pertempuran Waterloo, ada sekitar 4.700 yang tewas, sementara di Gettysburg sekitar 7.000. Dua pertempuran yang kental dengan kehilangan besar ini membuat sejarah Sekigahara semakin menggugah rasa ingin tahu.

Menjadi aneh saat berdiri di tempat yang tenang ini dan membayangkan kekacauan yang terjadi di sana dulu. Sekarang, lembah ini dikelilingi sawah, jalan-jalan kecil, dan rumah-rumah yang terhampar di bawah pegunungan sekitarnya.
Dari ketinggian Ibukiyama, kita bisa melihat lembah yang dulunya menjadi arena pertarungan sengit. Di pagi hari, imajinasi bisa membayangkan bagaimana prajurit muncul dari balik bukit dengan baju zirah yang mengkilap, sementara suara terompet perang menggema di seluruh lembah.
Begitu turun dari kereta di stasiun kecil yang tidak berawak, penulis terkejut bahwa pertarungan bersejarah bisa terjadi di tempat yang sekilas tampak biasa ini. Sekigahara mungkin terlihat seperti kota kecil lainnya di Jepang. Namun, banyaknya bendera klan yang berkibar di sepanjang jalan utama dan gambar samurai yang menghiasi setiap sudut membuat tempat ini terasa khas.
Hidup Kembali di Medan Pertempuran

Walaupun pecinta sejarah Jepang, penulis sebenarnya tidak tahu banyak tentang pertempuran ini. Jadi, tujuan pertama adalah Museum Memorial Pertempuran Sekigahara di Gifu. Setelah beberapa kebingungan, akhirnya menemukan tempat yang benar meski kata “museum” tidak tertera jelas baik dalam bahasa Jepang maupun Inggris. Akhirnya, tiket sudah dibeli dan siap menonton pertunjukan di dalam.
Museum yang baru dibuka pada 2020 ini ternyata sangat mengesankan. Di dalamnya ada dua area theater. Pertama, ada pengalaman melihat dari ketinggian dengan film yang diproyeksikan ke lantai, menunjukkan pergerakan pasukan di seluruh lembah. Kedua, theater utama yang menampilkan film animasi singkat tentang pertempuran dari sudut pandang prajurit.
Bagi mereka yang mudah teralihkan, kursi bergetar dan angin yang dihembuskan seperti dalam film 4D ini bikin pengalaman jadi lebih nyata. Dalam sekejap, rasanya bukan lagi menonton sejarah, melainkan seolah berada di tengah-tengah pertempuran itu sendiri. Penulis keluar dengan pemahaman yang jauh lebih jelas tentang bagaimana pertempuran itu berlangsung.
Gema dari Pertempuran

Meskipun ada beberapa atraksi lain di kota, seperti Museum Armor Samurai dan Sekigahara Warland—taman terbuka penuh patung prajurit—penulis lebih memilih untuk menjelajahi atmosfirnya
Tujuan pertama adalah tempat perkemahan terakhir Tokugawa, yang berada di samping museum. Sesuai dengan papan informasi, di sinilah ia memeriksa kepala-kepala musuhnya setelah pertempuran.
Tempat lain yang dikunjungi adalah Bukit Kepala Timur, salah satu dari dua lokasi penguburan di mana tentara Tokugawa mengumpulkan kepala yang didapat hari itu. Dua lokasi ini menjadi pengingat bahwa ini bukan hanya sekadar lokasi pertempuran terkenal, melainkan juga tentang kematian yang brutal dan berbentuk kemanusiaan.



