[SINGAPURA] Nilai tukar rupiah Indonesia telah melewati batas sejarah melawan dolar Singapura pada Rabu (3 Juni), menembus angka SGD/IDR 14.000 untuk pertama kalinya. Kenaikan harga minyak dan tekanan fiskal menjadi beban bagi pasar Indonesia.
Pada pukul 15.58 waktu Singapura, nilai SGD/IDR mencapai 14.025,65. Hingga pukul 17.43, angka itu masih di atas batas baru, yaitu 14.001,6, mencerminkan peningkatan sebanyak 7,9 persen untuk pasangan mata uang ini sejak awal tahun.
Di sisi lain, saham-saham Indonesia merosot ke level terendah dalam lima tahun. Indeks Harga Saham Gabungan Jakarta (JCI) ditutup turun 4,1 persen pada Rabu, menjadi yang terendah sejak Mei 2021.
Rupiah memang sudah mengalami pelemahan yang konsisten sepanjang tahun ini, seiring dengan ekonomi Indonesia yang berjuang menghadapi lonjakan harga minyak akibat konflik yang dipicu Amerika Serikat terhadap Iran.
Data yang dirilis pada Selasa menunjukkan surplus perdagangan Indonesia semakin menipis pada bulan April, karena lonjakan harga minyak dan gas impor melebihi keuntungan dari ekspor.
Analisis DBS, Radhika Rao, dalam catatannya pada hari Rabu menyebutkan, “Surplus perdagangan April menyusut menjadi US$89 juta dari US$3,3 miliar di bulan Maret, angka terkecil dalam hampir enam tahun, setelah lonjakan impor minyak mentah (naik 67,5 persen) dan bahan bakar olahan (88 persen).”
Ia menambahkan, “Tanpa penyesuaian harga bahan bakar untuk meredam permintaan, harga global yang lebih tinggi dan rupiah yang lemah kemungkinan akan membebani neraca perdagangan dan, akibatnya, perhitungan akun berjalan.”
Bank Indonesia mengungkapkan pada hari Jumat lalu bahwa mereka tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah “di seluruh dunia, sepanjang waktu,” dengan cara melakukan intervensi di pasar valuta asing, forward yang tidak dapat diselesaikan, serta membeli obligasi pemerintah.
“Rupiah terdepresiasi 1,79 persen pada kuartal pertama tahun 2026, mendekati titik terendah krisis keuangan Asia. Bank Indonesia melakukan intervensi besar-besaran, menghabiskan cadangan US$8,3 miliar, yang memperlemah perlindungan impor dan stabilitas jangka pendek,” kata analis UOB Kay Hian, Suryaputra Wijaksana, dalam catatannya pada 26 Mei. “Kenaikan suku bunga dan penerbitan Surat Utang Rupiah Bank Indonesia mungkin memperlambat depresiasi, tetapi tidak mungkin membalikkan tren yang ada,” ujarnya.


