Emirates kembali menunjukkan komitmennya untuk membuat perjalanan udara lebih inklusif dengan memperluas program Travel Rehearsal ke Zambia. Ini adalah langkah besar untuk menjadikan perjalanan lebih mudah diakses, tidak hanya di Afrika tapi juga di seluruh dunia.
Banyak orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan aksesibilitas, terutama yang berada di spektrum autisme, seringkali merasa ragu untuk bepergian. Sebuah studi dari AutismTravel.com mengungkapkan bahwa 78% keluarga merasa enggan untuk berwisata atau mengunjungi tempat baru. Dalam upayanya sebagai maskapai pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi untuk autisme, Emirates merancang inisiatif global Travel Rehearsal ini untuk menghilangkan hambatan tersebut.
Di Lusaka, Emirates bekerja sama dengan Bandara Internasional Kenneth Kaunda dan AutistismTales Support Group untuk mengadakan pengalaman perjalanan simulasi bagi anak-anak di spektrum autisme bersama pengasuh mereka. Selama simulasi ini, mereka berlatih proses seperti check-in, menurunkan bagasi, melewati imigrasi dan keamanan, serta merasakan kesibukan di area belanja dan dining. Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mengenal proses perjalanan dengan lebih baik.
Ahmad Ismail, Country Manager Emirates di Zambia, berkomentar bahwa program Travel Rehearsal sangat penting untuk memberdayakan anak-anak dan dewasa muda dengan autisme. Ia mengatakan, “Kami bangga membawa program ini ke Zambia, dan berterima kasih kepada seluruh komunitas bandara di Kenneth Kaunda International Airport serta AutistismTales Support Group yang berkontribusi dalam acara perintis ini.”
Urvesh Desai, Managing Director Zambia Airports Corporation Limited (ZACL), juga menyambut baik inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa setiap penumpang berhak mendapatkan pengalaman perjalanan yang lancar dan menyenangkan. “Inklusi bukan sekadar pertimbangan layanan pelanggan, tetapi komponen mendasar dalam desain dan operasional bandara kami,” ujarnya.
Nyakandata Mwaba, pendiri AutistismTales Support Group dan seorang ibu dari anak neurodiverse, menjelaskan bahwa perjalanan bisa menjadi tantangan besar bagi orang-orang di spektrum dan keluarga mereka. Ia menekankan pentingnya kesiapan dari kedua pihak agar perjalanan menjadi lebih nyaman. “Inisiatif dari Emirates ini sangat mendorong kami, dan membuat kami merasa lebih siap untuk bepergian,” tambahnya.
Bupe Masenga, seorang ibu dan traveler yang anaknya belum berkesempatan melakukan perjalanan pertama, merasakan manfaat dari pengalaman Travel Rehearsal ini. Ia berkata bahwa ini adalah hal yang perlu dilakukan untuk memastikan adanya perhatian terhadap anak-anak di spektrum. Sementara itu, Alice Bweupe, ibu dari seorang anak berusia enam tahun, berbagi ceritanya. “Pengalaman ini sangat luar biasa! Dia sudah belajar apa yang harus dilakukan, bagaimana cara naik pesawat dan menangani bagasi,” ujarnya.
Chimfwembe, seorang ibu yang membawa kedua anaknya untuk merasakan pengalaman bandara, merasa sangat beruntung bisa mengikuti inisiatif ini. “Ini sangat membantu anak-anak memahami perjalanan dengan lebih baik,” katanya penuh rasa syukur.
Sejak April 2025, tim Layanan Bandara Emirates telah mengorganisir lebih dari 40 rehearsal perjalanan di berbagai bandara, termasuk Accra, Bali, Barcelona, Dubai, dan banyak lagi. Lebih dari 35.000 staf Emirates sudah dilatih untuk mendukung pelanggan dengan autisme dan memastikan perjalanan tersebut berjalan lancar.
Inisiatif ini bukan hanya soal perjalanan, tapi juga tentang menciptakan pengalaman yang lebih nyaman dan mendukung bagi mereka yang membutuhkan. Dengan adanya program seperti ini, Emirates berusaha membuat perjalanan udara lebih ramah dan inklusif bagi semua orang.



