Game RPG open-world kini jadi salah satu genre paling digemari, karena memberikan kebebasan bagi pemain untuk tenggelam dalam dunia yang luas, penuh eksplorasi, pertempuran, dan pilihan sulit. Game dalam genre ini sering berhasil saat mampu menciptakan perasaan bahwa setiap jalan bisa mengarah ke penemuan baru. Seiring berjalannya waktu, beberapa judul menjadi contoh ikonik dari formula tersebut, seperti The Elder Scrolls V: Skyrim dan The Witcher 3: Wild Hunt. Kedua game ini menginspirasi banyak developer untuk menciptakan dunia di mana keputusan pemain, atmosfer, dan eksplorasi sama pentingnya dengan pertempuran.
Salah satu contoh favorit adalah Drova: Forsaken Kin. RPG open-world ini jelas terinspirasi oleh game seperti The Elder Scrolls V: Skyrim dan The Witcher 3: Wild Hunt, tetapi banyak yang mengabaikannya karena tampilan pixel art dan perspektif top-down-nya. Namun di balik visual retro-nya, ada RPG yang luar biasa, penuh dengan dunia yang kaya, eksplorasi yang memuaskan, combat yang menantang, dan alur cerita yang ditulis dengan baik. Alih-alih mencoba meniru RPG sinematik modern secara langsung, Drova: Forsaken Kin mengalihkan filosofi desain permainan klasik sambil tetap terasa modern, mekanis, dan unik.
Drova: Forsaken Kin Menangkap Semangat RPG Open World Klasik
Salah satu hal pertama yang mencolok adalah bagaimana Drova: Forsaken Kin cepat sekali menangkap perasaan kebebasan, seperti saat pertama kali menjauh dari jalan utama di Skyrim. Alih-alih mendorong pemain dari titik penanda ke titik penanda, game ini membiarkan dunia ada di sekitarmu. Di beberapa jam pertama, saya sama sekali mengabaikan quest, tersasar ke hutan, gua, dan pemukiman yang terasa berbahaya namun sulit untuk ditolak untuk dijelajahi. Setting fantasi gelapnya, yang terinspirasi oleh mitologi Celtic, menciptakan dunia keras yang dibentuk oleh konflik politik, kekuatan kuno, dan kekuatan supernatural. Setiap wilayah merasa terhubung secara alami dengan lore yang lebih besar, bukan hanya dibangun untuk side quest semata.
Sistem faksi di game ini juga mengingatkan pada RPG lama yang mempercayakan pemain untuk membuat keputusan sulit tanpa hasil yang jelas baik atau buruk. Di satu titik, saya mendapati diri saya berpihak pada sebuah grup hanya karena nilai-nilai mereka terasa logis, hingga akhirnya menyadari konsekuensinya jauh lebih rumit dari yang saya duga. Ambiguitas moral ini memberikan tepi yang dapat dipercaya pada dunia, yang seringkali hilang di RPG fantasi modern. Setiap faksi seolah memiliki sejarah, prioritas, dan kekurangan masing-masing, membuat pilihan terasa bermakna, bukan hanya sekedar kosmetik.
Hal yang paling saya hargai adalah betapa sedikitnya Drova memegangi tangan pemain. Game open-world modern seringkali membanjiri peta dengan ikon dan tutorial, tetapi Drova mempercayakan pemain untuk bereksperimen dan belajar secara alami. Saya masih ingat ketika tersasar ke area yang jauh melebihi level saya dan langsung terjebak dalam kesulitan. Alih-alih merasa frustrasi, hal itu justru membuat dunia terasa otentik dan berbahaya. Kembali ke sana dengan peralatan yang lebih baik dan akhirnya bertahan dalam pertemuan-pertemuan itu menjadi salah satu pengalaman progresi paling memuaskan yang saya alami dalam RPG selama bertahun-tahun.
Gameplay dan Eksplorasi yang Mengejutkan dalam Kedalaman
Banyak pemain awalnya menganggap Drova: Forsaken Kin adalah RPG yang lebih kecil atau sederhana karena gaya pixel art-nya, tetapi game ini jauh lebih ambisius dari yang terlihat. Pertempurannya sangat bergantung pada waktu, posisi, manajemen stamina, dan persiapan, bukan sekedar menekan tombol sembarangan. Di awal, saya membuat kesalahan dengan masuk ke area berbahaya dengan peralatan yang buruk dan langsung kewalahan. Ini mengingatkan saya pada sistem progresi yang lebih keras di RPG lama. Kesulitan ini menciptakan ketegangan nyata saat eksplorasi karena setiap pertemuan perlu diperhatikan dengan seksama.
Progresi karakter juga sangat memuaskan, karena game memberikan kebebasan kepada pemain untuk membentuk build mereka seiring berjalannya waktu. Keterampilan, peralatan, dan pilihan faksi semuanya mempengaruhi bagaimana pertarungan dan eksplorasi berlangsung, menjadikan progresi terasa personal, bukan linier. Saya terus-menerus menyesuaikan pendekatan saya tergantung pada musuh dan area yang saya jelajahi, membuat eksperimen terasa sangat adiktif. Penggemar RPG dengan sistem progresi yang fleksibel pasti akan menghargai seberapa banyak kontrol yang diberikan Drova atas perkembangan karakter mereka.
Eksplorasi jelas menjadi salah satu fitur terkuat dari game ini. Jalur tersembunyi, cerita lingkungan, reruntuhan berbahaya, dan pertemuan opsional memberikan imbalan bagi rasa ingin tahu dengan cara yang mengingatkan saya pada saat menjauh dari jalan utama di The Witcher 3. Beberapa kali, saya berniat untuk mengikuti quest utama, tetapi malah menghabiskan satu jam lagi menjelajahi gua atau menyelidiki reruntuhan yang mencurigakan karena dunia ini terus menarik saya lebih dalam. Visual pixel art-nya juga layak mendapat lebih banyak pujian daripada yang sering diterima, dengan hutan, desa, dan reruntuhan kuno yang detail menciptakan suasana mendalam yang membuat penemuan terasa sangat memuaskan.
Alur Cerita dan Penulisan yang Lebih Baik dari yang Diharapkan Banyak Pemain
Salah satu kejutan terbesar di Drova: Forsaken Kin adalah betapa kuatnya penulisan di dalamnya. Banyak RPG indie fokus sepenuhnya pada sistem gameplay, tetapi Drova berinvestasi banyak dalam pembangunan dunia, dialog, dan interaksi karakter. Cerita mengeksplorasi tema seperti kekuasaan, kelangsungan hidup, sistem keyakinan, dan hubungan manusia dengan kekuatan kuno, sementara faksinya tidak hanya terasa heroik atau jahat. Saya sering meragukan beberapa keputusan penting karena setiap grup memiliki motivasi yang bisa dipahami, yang membuat dunia ini terasa jauh lebih nyata dan imersif dari apa yang saya duga sebelumnya.
Karakter dan dialog juga membantu setting terasa benar-benar hidup. Hubungan berkembang secara alami seiring cerita berjalan, dan percakapan seringkali mencerminkan ketegangan politik dan budaya yang membentuk dunia di sekitar. Yang paling mencolok adalah bagaimana nada fantasi gelapnya tidak pernah terasa melelahkan atau terlalu sinis. Bahkan di tengah kawasan bahaya dan konflik brutal, masih ada momen-momen kecil yang hangat dan kemanusiaan yang memberi cerita keseimbangan emosional. Penulisan halus ini mengingatkan saya mengapa RPG yang lebih kecil kadang terasa lebih imersif daripada game AAA besar yang sangat bergantung pada spektras sinematik.
Perbandingan dengan Skyrim dan The Witcher 3 sangat masuk akal karena Drova menangkap banyak perasaan yang membuat game tersebut berkesan: menjelajahi tanah berbahaya, mengungkap cerita tersembunyi, membentuk karakter, dan menavigasi faksi yang kompleks secara moral. Namun, game ini tidak pernah terasa seperti tiruan yang sederhana. Pengalaman bermain meninggalkan saya menghargai seberapa percaya dirinya game ini dalam merangkul identitasnya sendiri tanpa mengejar tren RPG yang lebih besar. Dengan menggabungkan desain RPG klasik dengan storytelling modern dan sistem eksplorasi, Drova: Forsaken Kin secara diam-diam menjadi salah satu RPG fantasi yang paling diremehkan yang pernah saya mainkan dalam bertahun-tahun.




