Subsidi bulanan untuk bensin dan diesel di Malaysia kini melonjak menjadi RM6 miliar, dari sebelumnya hanya RM700 juta sebelum konflik terjadi.
Zafrul Aziz, ketua Badan Pembangunan Pelaburan Malaysia, mengatakan bahwa Malaysia masih memiliki ruang untuk memberikan dukungan fiskal bagi industri yang terdampak akibat perang di Iran. “Kami bersiap untuk memastikan bahwa pemerintah Malaysia bisa mendukung beberapa industri ini,” ungkap Zafrul pada hari Selasa (14 April). “Kami masih memiliki ruang fiskal yang cukup,” lanjutnya.
Menurut Zafrul, negara ini menghadapi krisis dengan fundamental yang kuat. Penghematan dari pengurangan subsidi bahan bakar sebelum konflik di Timur Tengah juga membantu meredam dampak yang ada. Namun, perang yang berkepanjangan dan gangguan pasokan energi yang berlanjut akan memberi tekanan pada posisi fiskal negara.
Pemerintah Malaysia kini berada di bawah tekanan untuk mengendalikan biaya hidup yang terus meroket dan menangani anggaran subsidi yang membengkak akibat naiknya harga minyak. Subsidi bulanan untuk bensin dan diesel telah melonjak ke RM6 miliar (setara dengan S$1,9 miliar), sebuah lonjakan signifikan dari RM700 juta sebelum konflik muncul.
Pihak berwenang akan membahas langkah-langkah untuk mengatasi lonjakan harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok yang dipicu oleh perang di Timur Tengah dalam sebuah pertemuan yang dijadwalkan pada hari Selasa. Pembahasan ini sangat penting untuk memastikan kesejahteraan rakyat di tengah ketidakpastian yang ada.


