KLM baru-baru ini mengumumkan pembatalan lebih dari 150 penerbangan dalam sebulan ke depan. Kenapa? Karena harga bahan bakar jet terus naik. Walaupun maskapai asal Belanda ini belum mengungkapkan tanggal pasti penerbangan yang terkena dampak, hal ini bikin penumpang agak khawatir.
Pada 16 April, KLM merilis pernyataan resmi tentang keputusan tersebut. Rute yang dibatalkan mencakup tujuan-tujuan Eropa yang sering disambangi, seperti London dan Düsseldorf. Sekitar 80 penerbangan pulang pergi dari dan ke Bandara Schiphol Amsterdam yang terdampak. Meski begini, jumlahnya kurang dari 1% dari total penerbangan Eropa mereka. “Penumpang yang terkena dampak akan dipindahkan ke penerbangan selanjutnya yang tersedia,” kata juru bicara KLM, Hugo Lantain, dalam pernyataannya kepada Condé Nast Traveler. “Biasanya, kami bisa segera mengatur penempatan mereka.”
Pembatalan ini terjadi di tengah ketegangan akibat perang di Iran dan penutupan selama 48 hari di Selat Hormuz, yang kini kabarnya sudah dibuka kembali per 17 April 2026. Penutupan ini telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar jet di seluruh dunia. Dengan sedikitnya pasokan minyak yang melewati jalur vital ini, beberapa maskapai internasional kini menghadapi kemungkinan kekurangan global. Dalam wawancara eksklusif dengan Associated Press pada 16 April, kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, memperkirakan bahwa negara-negara Eropa memiliki “mungkin enam minggu lagi” untuk pasokan bahan bakar jet sebelum masalah ini semakin parah dan menciptakan “krisis energi terbesar yang pernah ada.”
Namun, KLM menjelaskan bahwa perubahan jadwal penerbangan kali ini bukan karena kekurangan bahan bakar, melainkan langkah untuk menghemat biaya. “Ini berkaitan dengan sejumlah penerbangan terbatas di Eropa yang, karena biaya minyak tanah yang meningkat, kini tidak lagi layak secara finansial untuk dioperasikan,” bunyi pernyataan tersebut. “Kami tidak mengalami kekurangan minyak tanah.”
“Logika di balik ini tampaknya adalah untuk melindungi inti jaringan sambil menghapus frekuensi marginal yang lebih sulit untuk dibenarkan di tengah kenaikan biaya bahan bakar saat ini,” jelas Christopher Anderson, seorang profesor yang spesialis di bidang operasi dan manajemen teknologi di Cornell University. “Dalam sistem hub-and-spoke, ini seringkali adalah langkah pertama yang diambil maskapai, karena mereka bisa mengonsolidasikan permintaan tanpa secara jelas meruntuhkan jaringan penerbangan jarak jauh.”
Pernyataan terbaru KLM menyusul pengumuman terkait pembatalan penerbangan ke Timur Tengah, seperti Dubai, Riyadh, dan Dammam. Sejak 19 Maret, maskapai ini telah menghentikan semua penerbangan ke Riyadh dan Dammam hingga 16 Mei. Selain itu, pada 9 April, KLM memperpanjang penangguhan penerbangan ke Dubai hingga 14 Juni. Sebelum konflik ini, mereka terbang ke Dubai setiap hari.
Ada sekitar 20% dari aliran minyak dan gas alam dunia yang melewati Selat Hormuz, dan penutupan jalur ini bikin harga bahan bakar meroket. Awal bulan ini, Reuters melaporkan bahwa “harga bahan bakar jet melonjak, meningkatkan biaya operasional, dengan harga di Eropa menggandakan dan harga di Asia meningkat hampir 80% sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.”
KLM bukan satu-satunya maskapai yang memberi dampak pada jadwal penerbangan akibat kenaikan biaya bahan bakar. Air New Zealand juga melakukan perubahan pada jadwal domestiknya karena alasan serupa.
“Saya rasa ini meningkatkan kemungkinan maskapai lain akan mengambil langkah serupa jika biaya bahan bakar tetap tinggi. Maskapai bisa meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada penumpang, tetapi tidak semuanya, terutama di pasar jarak pendek yang sangat kompetitif,” ungkap Anderson. “Artinya, kombinasi kenaikan tarif yang sedikit, penjadwalan yang lebih ketat, dan pemotongan selektif lebih mungkin terjadi daripada respons harga yang merata. Bagi para pelancong, dampaknya sering kali lebih tentang berkurangnya pilihan harian dan waktu pemulihan yang lebih sedikit ketika ada yang salah.”


