Beranda Travel Matsushima: Menelusuri Keindahan Pulau Pinus Jepang dengan Santai
Travel

Matsushima: Menelusuri Keindahan Pulau Pinus Jepang dengan Santai

Bagikan
Matsushima: Menelusuri Keindahan Pulau Pinus Jepang dengan Santai
Bagikan

Duduk di sepanjang pantai Prefektur Miyagi di Jepang utara, Matsushima sudah menjadi daya tarik yang istimewa bagi penduduk setempat selama berabad-abad. Masuk dalam daftar Nihon Sankei (Tiga Pemandangan Indah di Jepang), bersama dengan Amanohashidate dan Kuil Itsukushima, Matsushima adalah lanskap yang sering dikagumi, sering dibicarakan, seakan melayang di antara kenyataan dan legenda. Namun, bagi banyak wisatawan asing, lokasi ini masih cukup asing.

Matsushima punya pesona wabisabi yang tenang — segala sesuatunya terasa natural, tidak ada yang berlebihan. Bahkan penyair terkenal dari era Edo, Matsuo Basho, dalam karyanya “The Narrow Road to the Deep North” (Oku no Hosomichi), kesulitan untuk sepenuhnya mendeskripsikan keindahan tempat ini, lebih memilih menyiratkan daripada menjelaskan.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam dari Sendai, Matsushima jadi pilihan day-trip yang mudah. Tapi, dengan ritme yang lebih lambat, berlama-lama di sini justru lebih memuaskan. Berikut ini sedikit pengalaman menjelajahi tempat ini dan mengungkap apa yang membuatnya begitu dekat dengan hati banyak orang.

Fana – Inline Article Ads
Baca juga  Raih Kesehatan Optimal: Temukan Rahasia Kesejahteraan dan Umur Panjang di Filipina!

Perjalanan Santai Menuju Utara

Matsushima terkenal dengan pemandangan dan tiramnya.

Pagi yang cerah dan dingin di awal Maret, saya berangkat dari Tokyo. Shinkansen membawa saya dengan cepat, hampir terlalu cepat, menuju Sendai. Tapi setelah itu, ritme perjalanan berubah. Saya naik kereta lokal di jalur Sensei yang bergerak lebih santai, pemandangan indah pantai perlahan menjauh dari jendela besar. Akhirnya, saya sampai di stasiun Matsushima Kaigan.

Fana – Inline Article Ads

Di luar stasiun, saya mampir ke sebuah kafe. Bukan hanya untuk kopi, tetapi juga karena kafe di Jepang seakan jadi bagian dari perjalanan. Dari lantai dua, teluk biru yang dalam terbentang di depan saya. Airnya tidak setenang yang saya kira. Angin mengusap permukaan, menciptakan pola-pola kecil yang bergerak. Pulau-pulau yang ditutupi pinus tampak tersebar di kejauhan.

Tanpa sadar, saya menghabiskan lebih banyak waktu di sana daripada yang rencanakan. Menyaksikan tanpa berpikir tentang waktu. Kafe itu berhenti terasa sebagai jeda cepat; sepertinya ini justru adalah awal dari pengalaman Matsushima itu sendiri.

Baca juga  Roberto Alvo Memimpin Dewan Direksi IATA: Inovasi Baru untuk Masa Depan Perjalanan!

Menelusuri Garis Pantai

scattered-islets-across-the-bay-matsushima.jpeg

Arte7Travel – Inline Article Ads

Pulau-pulau kecil yang tersebar di teluk

Saya mulai berjalan kaki. Matsushima lebih baik dipahami secara pelan — sanpo (jalan santai), bukan wisata yang terburu-buru.

Garis pantai membawa saya ke Pulau Oshima, yang bisa diakses lewat jembatan merah sederhana. Tempat ini kecil, tapi sejarahnya sangat dalam. Selama berabad-abad, pulau ini jadi lokasi ziarah untuk retret spiritual. Diceritakan, seorang biksu bernama Kenbutsu menghabiskan bertahun-tahun menyendiri di reruntuhan Kenbutsudo, mempelajari sutra (naskah Buddhis), dan kisahnya secara bertahap menjadi legenda. Konon, seorang kaisar, setelah mendengar tentang keberanian dan dedikasinya, mengirimkan hadiah seribu bibit pinus. Dari situlah lokasi ini dikenal sebagai Matsushima (Pulau Pinus).

Dari sana, saya berjalan menuju dermaga kapal wisata Matsushima dan naik kapal. Tiket sangat mudah didapatkan di tempat, atau bisa dipesan sebelumnya. Saya pilih tiket pulang pergi sederhana, tanpa reservasi, hanya menunggu keberangkatan berikutnya dengan tiket kertas di tangan.

Kapal bergerak lembut melalui teluk, melintas di antara pulau-pulau yang dibentuk oleh masa dan pasang surut. Lebih dari 200 pulau, masing-masing sedikit berbeda. Beberapa tajam, beberapa bulat, semuanya dihiasi dengan pinus yang terbentuk oleh angin.

Baca juga  Menelusuri Keajaiban Blackfoot Country: Menggali Perspektif Baru dari Bangsa Indigenus Tentang Perbatasan AS-Kanada

Meski tsunami 2011 mencapai pantai ini, Matsushima tidak mengalami kerusakan separah banyak tempat lain. Beberapa tepi pulau kecil telah aus. Beberapa pohon hilang, dan beberapa bagian garis pantai telah berubah. Namun, pulau-pulau yang tersebar di teluk membantu meredakan kekuatan gelombang, melemahkan dampaknya sebelum sampai ke daratan.

Kuil, Jembatan, dan Laut

supyan-pixta-fukuura-bridge-miyagi-japan-matsushima.jpeg

Jembatan Fukuura

Fana – Inline Article Ads
Bagikan
Berita terkait
Roberto Alvo Memimpin Dewan Direksi IATA: Inovasi Baru untuk Masa Depan Perjalanan!
Travel

Roberto Alvo Memimpin Dewan Direksi IATA: Inovasi Baru untuk Masa Depan Perjalanan!

Roberto Alvo Resmi Jadi Ketua Dewan IATA Buat para penggemar perjalanan dan...

oneworld Resmi Sambut Philippine Airlines, Menguatkan Jaringan Penerbangan Asia yang Semakin Kuat!
Travel

oneworld Resmi Sambut Philippine Airlines, Menguatkan Jaringan Penerbangan Asia yang Semakin Kuat!

Philippine Airlines Bergabung dengan Oneworld: Awal Baru dalam Dunia Penerbangan Asia Philippine...

Pengalaman Retreat Ayahuasca: Apa yang Harus Kamu Tahu dan Cara Memilih yang Tepat!
Travel

Pengalaman Retreat Ayahuasca: Apa yang Harus Kamu Tahu dan Cara Memilih yang Tepat!

Asal Usul Ayahuasca dan Proses Upacaranya Ayahuasca bukan sekadar minuman. Ini adalah...

Kuil Terkecil di Jepang: Kisah Penuh Iman dan Keberlangsungan yang Menginspirasi!
Travel

Kuil Terkecil di Jepang: Kisah Penuh Iman dan Keberlangsungan yang Menginspirasi!

Japan terkenal dengan kuil-kuilnya yang ikonik, seperti Ise Grand Shrine, Izumo Taisha,...