Duduk di sepanjang pantai Prefektur Miyagi di Jepang utara, Matsushima sudah menjadi daya tarik yang istimewa bagi penduduk setempat selama berabad-abad. Masuk dalam daftar Nihon Sankei (Tiga Pemandangan Indah di Jepang), bersama dengan Amanohashidate dan Kuil Itsukushima, Matsushima adalah lanskap yang sering dikagumi, sering dibicarakan, seakan melayang di antara kenyataan dan legenda. Namun, bagi banyak wisatawan asing, lokasi ini masih cukup asing.
Matsushima punya pesona wabisabi yang tenang — segala sesuatunya terasa natural, tidak ada yang berlebihan. Bahkan penyair terkenal dari era Edo, Matsuo Basho, dalam karyanya “The Narrow Road to the Deep North” (Oku no Hosomichi), kesulitan untuk sepenuhnya mendeskripsikan keindahan tempat ini, lebih memilih menyiratkan daripada menjelaskan.
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam dari Sendai, Matsushima jadi pilihan day-trip yang mudah. Tapi, dengan ritme yang lebih lambat, berlama-lama di sini justru lebih memuaskan. Berikut ini sedikit pengalaman menjelajahi tempat ini dan mengungkap apa yang membuatnya begitu dekat dengan hati banyak orang.
Perjalanan Santai Menuju Utara
Matsushima terkenal dengan pemandangan dan tiramnya.
Pagi yang cerah dan dingin di awal Maret, saya berangkat dari Tokyo. Shinkansen membawa saya dengan cepat, hampir terlalu cepat, menuju Sendai. Tapi setelah itu, ritme perjalanan berubah. Saya naik kereta lokal di jalur Sensei yang bergerak lebih santai, pemandangan indah pantai perlahan menjauh dari jendela besar. Akhirnya, saya sampai di stasiun Matsushima Kaigan.
Di luar stasiun, saya mampir ke sebuah kafe. Bukan hanya untuk kopi, tetapi juga karena kafe di Jepang seakan jadi bagian dari perjalanan. Dari lantai dua, teluk biru yang dalam terbentang di depan saya. Airnya tidak setenang yang saya kira. Angin mengusap permukaan, menciptakan pola-pola kecil yang bergerak. Pulau-pulau yang ditutupi pinus tampak tersebar di kejauhan.
Tanpa sadar, saya menghabiskan lebih banyak waktu di sana daripada yang rencanakan. Menyaksikan tanpa berpikir tentang waktu. Kafe itu berhenti terasa sebagai jeda cepat; sepertinya ini justru adalah awal dari pengalaman Matsushima itu sendiri.
Menelusuri Garis Pantai

Pulau-pulau kecil yang tersebar di teluk
Saya mulai berjalan kaki. Matsushima lebih baik dipahami secara pelan — sanpo (jalan santai), bukan wisata yang terburu-buru.
Garis pantai membawa saya ke Pulau Oshima, yang bisa diakses lewat jembatan merah sederhana. Tempat ini kecil, tapi sejarahnya sangat dalam. Selama berabad-abad, pulau ini jadi lokasi ziarah untuk retret spiritual. Diceritakan, seorang biksu bernama Kenbutsu menghabiskan bertahun-tahun menyendiri di reruntuhan Kenbutsudo, mempelajari sutra (naskah Buddhis), dan kisahnya secara bertahap menjadi legenda. Konon, seorang kaisar, setelah mendengar tentang keberanian dan dedikasinya, mengirimkan hadiah seribu bibit pinus. Dari situlah lokasi ini dikenal sebagai Matsushima (Pulau Pinus).
Dari sana, saya berjalan menuju dermaga kapal wisata Matsushima dan naik kapal. Tiket sangat mudah didapatkan di tempat, atau bisa dipesan sebelumnya. Saya pilih tiket pulang pergi sederhana, tanpa reservasi, hanya menunggu keberangkatan berikutnya dengan tiket kertas di tangan.
Kapal bergerak lembut melalui teluk, melintas di antara pulau-pulau yang dibentuk oleh masa dan pasang surut. Lebih dari 200 pulau, masing-masing sedikit berbeda. Beberapa tajam, beberapa bulat, semuanya dihiasi dengan pinus yang terbentuk oleh angin.
Meski tsunami 2011 mencapai pantai ini, Matsushima tidak mengalami kerusakan separah banyak tempat lain. Beberapa tepi pulau kecil telah aus. Beberapa pohon hilang, dan beberapa bagian garis pantai telah berubah. Namun, pulau-pulau yang tersebar di teluk membantu meredakan kekuatan gelombang, melemahkan dampaknya sebelum sampai ke daratan.
Kuil, Jembatan, dan Laut
Jembatan Fukuura




