NoName057(16), kelompok hacker pro-Rusia yang dikenal dengan serangan DDoS terhadap organisasi Barat, baru saja meluncurkan inisiatif hack yang menarik perhatian. Mereka menggaet para siber kriminal untuk bergabung dalam serangan terhadap organisasi-organisasi di Eropa, dan menyebut kampanye ini “Permainan Online Patriotik”. Nama ini tampaknya bikin penasaran dan sekaligus menyembunyikan esensi kriminal di balik aktivitas mereka.
Berdasarkan info dari Cybersecurity Insiders, mereka menggunakan Telegram untuk memanggil “relawan patriotik”. Tujuannya adalah merekrut orang-orang untuk menjalani beberapa misi, mulai dari serangan DDoS, pengumpulan informasi, hingga ransomware. Para peserta yang sukses menyelesaikan misi akan mendapatkan imbalan dalam bentuk cryptocurrency yang langsung masuk ke dompet digital mereka.
Target dari kampanye ini jelas, yaitu negara-negara Eropa yang terang-terangan mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia. Mereka tidak segan-segan menyerang lembaga pemerintah, institusi keuangan, hingga infrastruktur penting. Menariknya, setiap orang yang berhasil melaksanakan tugasnya akan mendapatkan imbalan yang bervariasi, tergantung pada tingkat keberhasilan misi yang dijalankan.
Siapa itu NoName057(16)?
NoName057(16) adalah aktor ancaman yang terlihat sangat aktif, dengan catatan menyerang infrastruktur kritis di Taiwan dan bahkan bandara di Italia. Beberapa bulan lalu, pemerintah Italia mengklaim telah berhasil menggagalkan serangkaian serangan siber yang ditujukan untuk Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milano Cortina. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengatakan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas yang berhubungan dengan pertandingan, termasuk hotel di resor Alpen di Cortina d’Ampezzo tempat atlet menginap.
Serangan yang meluas itu reportedly mengena sekitar 120 target, termasuk kantor kementerian luar negeri AS, konsulat di Sydney, Toronto, dan Paris, serta Universitas La Sapienza di Roma, yang juga terkena serangan terpisah yang diduga juga dilakukan oleh hacker yang memiliki hubungan dengan Rusia.
Melalui Telegram, NoName057(16) mengkonfirmasi bahwa para korban disasar karena kebijakan pro-Ukraina Italia: “Kebijakan pemerintah Italia yang mendukung Ukraina berarti dukungan terhadap teroris Ukraina akan dibalas dengan serangan DDoS dari kami,” ungkap mereka di media sosial.
Ironisnya, Rusia sering kali menolak semua klaim semacam itu dengan menyebutnya sebagai ‘Russophobia’ atau penilaian politik yang tidak berdasar. Skema semacam ini menunjukkan betapa liar dan kompleksnya dunia siber saat ini, di mana setiap tindakan bisa berdampak luas, tidak hanya dalam lingkungan politik tetapi juga pada infrastruktur penting yang menjadi target.




